Daging, Pola Makan, dan Emisi Gas Rumah Kaca
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Daging, Pola Makan, dan Emisi Gas Rumah Kaca

Senin, 25 Mei 2020 | 09:09 WIB
Oleh : HS

Jakarta, Beritasatu.com - Persoalan lingkungan saat ini menjadi pekerjaan rumah bagi sejumlah negara termasuk Indonesia, setiap tahunnya harus meningkatkan anggaran untuk menjaga dan melestarikan keragaman hayati. Hari keanekaragaman hayati pada 22 Mei seharusnya mulai menggugah kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Di tengah penyebaran virus corona ini, persoalan melestarikan keanekaragaman hayati menjadi hal yang sangat penting. Saat ini hampir semua sektor terfokus pada upaya-upaya kesehatan untuk menyelamatkan nasib umat manusia, bahkan hampir sebagian besar anggaran tersedot ke sektor tersebut.

Persoalan wabah corona ini seharusnya tidak dirasakan oleh hewan-hewan liar yang selama ini berada di pusat konservasi, taman nasional, bahkan kebon binatang. Hewan-hewan ini seharusnya tetap merasakan makanan yang biasa dikonsumsi setiap hari.

Langkah melestarikan lingkungan dapat dimulai dari cara yang paling mudah, namun memberikan kontribusi yang besar terhdap lingkungan, salah satunya dengan mengubah pola makan.

Terkait hal itu beberapa lembaga swadaya masyarakat bidang perlindungan hewan di Indonesia mengajak masyarakat agar lebih sadar adanya hubungan antara kelestarian keanekaragaman hayati di bumi ini dengan pola makan yang selama ini kita jalani.

Menurut laporan World Wild Fund for Nature (WWF) lebih dari 60 persen populasi mamalia, burung, ikan, dan reptil telah lenyap, dalam rentang waktu 1970 sampai dengan 2014. Berdasarkan laporan itu lenyapnya populasi hewan ternyata juga dipengaruhi pola makan dari salah satu produk hewan.

Dian Pitaloka, juru kampanye perlindungan hewan Act For Farmed Animals mengatakan ketidakseimbangan pola makan ini bukan hanya berisiko membahayakan hewan, tetapi juga berpengaruh pada ancaman kehidupan manusia di bumi. "Keduanya, hewan dan tumbuhan berperan penting dalam mengatur bumi melalui suhu, iklim, dan penyerbukan," katanya.

Dian melalui kampanye yang dilakukan oleh LSM Sinergia Animal dan Animal Friends Jogja, mengatakan salah satu cara untuk merayakan Hari Keanekaragaman Hayati yaitu dengan berkontribusi melakukan bagian kita untuk bumi agar pulih. Dengan mengubah kebiasaan pola makan dan mengurangi konsumsi produk hewani merupakan salah satu kontribusi yang dapat kita semua lakukan untuk melestarikan lingkungan.

Hewan Ternak
Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), sebanyak 80 persen lahan pertanian di dunia digunakan untuk hewan ternak. Hal ini mengakibatkan kerusakan yang signifikan terhadap hutan hujan, yang dapat membahayakan satwa liar. Persoalan ini yang juga mengakibatkan terjadinya deforestasi (penggundulan hutan) di sejumlah negara sehingga mengancam kelangsungan hewan-hewan liar yang ada.

Dian mengatakan Indonesia mengimpor kedelai dari Brazil untuk diberi makan ke hewan ternak. Saat kita mengurangi konsumsi produk daging, berarti kita mengurangi permintaan jenis produk tersebut sehingga mengurangi beban lahan yang dipakai di negara itu. Sedangkan produksi sayur-sayuran untuk konsumsi manusia membutuhkan lahan yang jauh lebih sedikit, jelas Dian.

Kemudian di sisi lain para peternak masih menganggap hewan liar sebagai ancaman untuk produksi mereka, contohnya bison, kangguru, zebra, dan kerbau bersaing dengan hewan ternak untuk merumput, serta ular dan keluarga kucing besar yang memangsa hewan ternak.
Alasan ini menyebabkan para peternak sering memburu hewan-hewan tersebut. Jika kita mengurangi konsumsi daging, para peternak akan lebih berdedikasi untuk mengolah sayuran sedangkan hewan liar dapat hidup dengan bebas.

Fakta juga memperlihatkan peternak membangun pagar untuk menjaga hewan liar jauh dari kandangnya. Namun langkah ini justru menghalangi rute migrasi jutaan hewan. Jika mereka tidak dapat melanjutkan migrasinya, banyak hewan yang dapat sekarat karena dehidrasi atau kelaparan. Tentunya keadaan tidak harus seperti ini.

Polusi Air
Mayoritas air yang dikonsumsi hewan ternak kembali ke alam dalam bentuk pupuk cair, zat yang sarat akan patogen, logam berat, residu obat, hormon, antibiotik. Berdasarkan data FAO limbah tersebut menyerap banyak oksigen yang menyebabkan adanya pertumbuhan ganggang berlebih di danau, waduk, atau daerah pesisir. Selain oksigen, ganggang juga menghasilkan toksin yang mengancam spesies lain untuk bertahan hidup.

Hewan ternak berkontribusi sebanyak 14,5% sampai 18% jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia. Berdasarkan FAO, daging bertanggung jawab terhadap 41% emisi dari sektor tersebut, sedangkan produksi susu berkontribusi sebesar 20% dalam jumlah emisi yang sama.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peternakan hewan berperan secara signifikan dalam perubahan iklim dan juga kerusakan lingkungan sebagai dampaknya.
Tentu saja, konsekuensi tersebut berdampak pada hewan liar, seperti yang terjadi di kebakaran Australia pada September 2019. Bukan hanya itu, perubahan iklim juga berdampak pada rusaknya terumbu karang, yang disebut oleh Unesco sebagai sumber “pembibitan laut” dan “sumber keanekaragaman hayati”.

Menurut Unesco, jika tidak ada perubahan, di tahun 2100 lebih dari setengah dari spesies biota laut berada dalam ancaman kepunahan. Hal itu karena adanya penangkapan ikan yang berlebihan, yang diambil terlalu banyak dibandingkan jumlah yang dapat diproduksi.

Jika kita mengurangi konsumsi ikan dari piring kita, maka tidak ada hewan yang harus mati tercekik kehabisan udara hanya untuk kita makan, dan jutaan kura-kura, lumba-lumba dan hewan lainnya tidak akan tertangkap secara tidak sengaja di jaring ikan yang mematikan.

Alasan-alasan tersebut cukup untuk membuktikan bahwa dengan mengurangi produk hewani dengan mengurangi konsumsinya, akan mencegah banyak hewan liar tersakiti bahkan punah. Ini adalah waktunya untuk kita mengubah pola hidup untuk melindungi keanekaragaman hayati bumi ini.

Tantangan untuk membatasi konsumsi makanan berbahan dasar hewani kemudian digagas salah satu LSM perlindungan hewan yang menyelenggarakan tantangan berupa pola makan berbasis nabati selama 21 hari. Tantangan yang dapat diikuti semua lapisan masyarakat ini tentunya dipandu ahli gizi yang akan menjawab setiap pertanyaan melalui surat elektronik. Peserta juga akan mendapatkan resep, tip, dan panduan selama mengikuti tantangan tersebut.

Dengan berbagai gerakan dengan melibatkan peran serta masyarakat diharapkan dapat ikut membantu melestarikan kekayaan hayati, termasuk mencegah terjadinya konflik manusia dengan satwa liar yang juga kerap terjadi di Indonesia.



Sumber: ANTARA


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ikatan Pesantren Apresiasi Kinerja Polisi Ungkap Sindikat Narkotika Iran

Ikatan Pesantren Indonesia mengapresiasi kinerja Satgassus Bareskrim Polri yang berhasil mengungkap dan menangkap sindikat narkotika dari Iran.

NASIONAL | 25 Mei 2020

Idul Fitri, Pasrah, dan Bayang-Bayang PHK

Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan hingga 4 Mei 2020, 1.722.956 warga kehilangan pekerjaan.

NASIONAL | 25 Mei 2020

Perdagangan Narkotika Tetap Gencar di Era Covid-19

Sekitar 80% peredaran narkotika di Indonesia menggunakan jalur laut.

NASIONAL | 25 Mei 2020

BAKTI Siapkan 2.000 Titik Akses Internet di Lokasi Baru

BAKTI melakukan optimalisasi jaringan di daerah 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal).

NASIONAL | 25 Mei 2020

Ada Peningkatan Dana Zakat dan Infak Selama Ramadan

Peningkatan yang melampaui target dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

NASIONAL | 25 Mei 2020

Pasien Positif Covid-19 di Lampung Meninggal Dunia

Pasien positif Covid-19 ke-85 warga Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek.

NASIONAL | 25 Mei 2020

Siti Nurbaya Gelar Halalbihalal Virtual, Para Dubes Apresiasi Hasil Kerja KLHK

"Pesan saya kita semua harus tetap bekerja secara konsisten dan berkesinambungan," ujar Siti Nurbaya.

NASIONAL | 24 Mei 2020

63 Narapidana Rutan Temanggung Dapatkan Remisi Idulfitri

63 warga binaan Rumah Tahanan Negara Kelas II B Temanggung mendapatkan remisi keagamaan (RK) pada Hari Raya Idulfitri 1441 H.

NASIONAL | 24 Mei 2020

Jasa Marga Sebut Arus Mudik Lebaran 2020 Turun 62%

Puncak arus mudik Lebaran 2020, disebutkan terjadi pada H-4 atau Rabu (20/5/2020) yakni sebesar 92.668 kendaraan.

NASIONAL | 24 Mei 2020

Tidak Ada Kasus Positif, Gugus Tugas: Karawang Masih Zona Merah Covid-19

Warga diminta tetap waspada dan patuh menjalani protokol kesehatan.

NASIONAL | 24 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS