Larangan Pemudik Kembali, Protokol Arus Balik Perlu Dirumuskan

Larangan Pemudik Kembali, Protokol Arus Balik Perlu Dirumuskan
Petugas Kepolisian mengecek muatan truk yang melintasi tol terkait larangan mudik. (Foto: ANTARA FOTO / Fakhri Hermansyah)
Fuska Sani Evani / LES Senin, 25 Mei 2020 | 16:37 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Larangan bagi pemudik kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini, membawa konsekuensi tersendiri bagi para pekerja. Karena itu, menurut Wakil Sekertaris Gugus Kerja Penanganan Covid-19 DIY, Biwara Yuswantana, mestinya protokol arus balik ini juga perlu dirumuskan, termasuk kapan waktu diperbolehkan masuk kembali ke Jakarta, tentu dengan syarat-syarat dan ketentuan yang jelas.

Sebab menurutnya, jika sudah memasuki fase new normal, maka konsekuensinya, pemudik yang memang mencari nafkahnya di Jakarta, akan kembali dan segera ingin beraktivitas.

“Kembali ke Jakarta sudah menjadi konsekeunsi karena kehidupannya dan kebutuhan ekonominya diperoleh dengan tinggal di Jakarta,” katanya, Senin (25/5/2020).

Meski begitu, menurut Biwara, larangan pemudik kembali ke Jakarta memang masuk akal, dan sejalan dengan larangan mudik.

“Sebenarnya sama ketika warga DKI dilarang mudik, karena resikonya bisa membawa virus dan mereduksi efektifitas upaya yang sudah dilakukan melalui penerapan PSBB. Karena bisa terjadi outbreak atau gelombang kasus baru,”katanya.

Dengan demikian, jika menilik dari larangan balik dalam waktu dekat, menurutnya, juga masih konsekuensi dari larangan mudik tersebut.

Sementara sampai saat ini, DIY mesih menerapkan protokol yang ketat terhadap masyarakat yang masuk kewilayah DIY, baik semasa Lebaran maupun paska Lebaran, sekaligus memantau pergerakan pemudik yang akan meninggalkan DIY dalam waktu dekat.

Dikatakan, simpul-simpul penjagaan tersebut berada di tiga titik pintu masuk DIY yakni Seperti Tempel Sleman (perbatasan Magelang-DIY), Kulonprogo (perbatasan Purworejo-DIY), serta Prambanan (perbatasan Klaten-DIY).

Untuk saat ini ketiga jalur utama masuk DIY tersebut telah dijaga petugas untuk memantau arus perjalanan pemudik maupun masyarakat lokal.

Sementara itu, Ditlantas Polda DIY masih mencatat adanya pergerakan pemudik pada hari pertama Idul. Dirlantas Polda DIY Kombes Pol I Made Agus Prasatya mengatakan, hingga Minggu siang, kendaraan yang hendak masuk ke Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 41, sehari sebelumnya 35 kendaraan saja.

“Semuanya kami minta putar balik karena tidak memenuhi persyaratan protokol kesehatan, dan pemudik yang mencoba masuk wilayah DIY masih di dominasi kendaraan pribadi,”katanya.

Semua tidak bisa menunjukkan syarat protokol kesehatan di antaranya kelengkapan surat keterangan sehat, masih melebihi kapasitas, dan kurang menerapkan physical distancing.

Asal pemudik tersebut didominasi dari wilayah Jakarta, Bandung dan beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Sementara mulai memasuki pertengahan puasa, grafik pergerakan pemudik memang turun, dan masuk pada H-6 Idulfitri kendaraan yang dizinkan masuk DIY rata-rata perharinya 30 kendaraan.

"Kendaraan yang mencoba masuk paling banyak melalui pos Prambanan, totalnya selama bulan ramadan 294 kendaraan," katanya.

 



Sumber: BeritaSatu.com