Telkom dan Jababeka Group Dorong Kompetensi Kerja Millenial

Telkom dan Jababeka Group Dorong Kompetensi Kerja Millenial
Jababeka Group dan PT Telkom Indonesia Tbk berkolaborasi membuat sebuah program pengembangan kompetensi dan penyaluran kerja bagi milenial. (Foto: Dok )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 26 Mei 2020 | 13:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan Jababeka Group melakukan penandatangan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dalam meeting virtual untuk membuat program pengembangan kompetensi dan penyaluran kerja bagi milenial. Langkah ini diharapkan menjadi solusi di tengah masih tingginya tingkat pengangguran, terlebih di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

"Bagi yang daftar program ini kita seleksi dulu. Mereka dapat kerja dari pelatihan ini dan berpenghasilan," ungkap CEO Arkademy, Alfa Putra Kurnia dalam keterangan tertulis yag diterima redaksi Selasa (26/5/2020). Arkademy adalah platform belajar teknologi informasi yang bertujuan menghubungkan lulusan SMK dengan industri. 

Baca juga: Peran Milenial Dinilai Penting di Tengah Pandemi Covid-19

Dalam program bertajuk "Peresmian Kerja Sama Telkom & Jababeka dalam Peran Meningkatkan Kompetensi SDM Indonesia" ini, Jababeka Group-Telkom akan menjalankan tiga program, yaitu online class training, offline training, dan property for millennial Pra-Kerja: dapat kerja dapat rumah. Program pengembangan kompetensi akan dikemas melalui bootcamp. Kemudian, Jababeka Group dan Telkom membantu menyalurkan para alumni ke perusahaan Telkom dan 1.700 perusahaan yang berada di Kota Jababeka.

Selama pendidikan, peserta tak dikenakan biaya, namun ada sharing agreement. Artinya, setelah peserta mendapat kerja, dan memiliki pendapatan, mereka bisa mencicil pendidikan yang telah didapat. Bahkan nanti ada opsi untuk bisa melanjutkan pendidikan formal juga, yaitu S1 di President University atau Telkom University. "Dengan hadirnya program tersebut, diharapkan mampu menciptakan alumni yang terampil dan relevan dengan kebutuhan industri sehingga mampu menekan angka pengangguran di Indonesia," kata dia.

Alfa Putra Kurnia menambahkan, untuk standarisasi dan distribusi ke industri akan dilakukan Pijar Mahir, salah satu platform yang dipakai Pra-Kerja, mulai produksi video, penyiapan kurikulum dan silabus, sampai ke feedback. Sementara kebutuhan instruktur dibantu Learning Center Jababeka Group, yaitu Akademi Komunitas Presiden (AKP), President University (PU), President Development Center (PDC), dan Jababeka Learning Center (JLC). “Tim ini termasuk untuk penyelenggaraan offline training atau bootcamp. Output dari semua ini apa? Ready to work graduates, kelas karyawan PU, dan Jababeka Property,” kata Alfa.

Direktur Digital Business PT Telkom Indonesia Tbk Faizal Rochmad Djoemadi mengatakan, kerja sama Jababeka-Telkom ini sangat penting bagi kedua perusahaan untuk bisa bertahan di masa pandemi Covid-19. Menurut dia, behavior consumer berubah secara bertahap akibat pandemi. Ada dua perubahan perilaku yang harus diantisipasi perusahaan mengingat Telkom merupakan bisnis yang bergerak di ranah digital, yaitu stay at home lifestyle dan go virtual. “Semua orang saat ini mulai terbiasa beraktivitas di rumah, mulai bekerja, belajar dan tidak perlu ketemu tatap muka, semua sudah bisa selesai melalui virtual. Lebih efisien dan bisa saving cost,” urai Faizal.

Bahkan, kata Faizal, gaya hidup tersebut akan berlanjut setelah wabah selesai. Oleh karenanya, proyeksi bisnis yang ingin dicapai Telkom di 2021-2024 harus dikebut setahun lebih cepat untuk mengantisipasi perubahan perilaku masyarakat yang lain.

Dengan penandatangan ini, kata dia, Telkom berharap konten-konten skill yang diproduksi bisa memperkaya Pijar Mahir. Menurutnya, konten yang dibutuhkan pemerintah ada tiga tahap, yaitu skill level satu, dua dan tiga. Sejauh ini yang sudah dikurasi tim Pra-Kerja baru tahap satu, yaitu konten low skill atau kemampuan dasar. Sedangkan untuk konten level dua dan tiga masih menunggu pemerintah mengurasi kembali. “Dengan konten yang dibuat empat institusi milik Jababeka, semoga saat masuk konten level kedua dan ketiga, Pijar Mahir akan bisa menyediakannya," tambah Faizal.

Direktur PT Jababeka Tbk (KIJA) Sutedja Sidarta Darmono mengakui bahwa peningkatan kompetensi merupakan kunci agar seseorang bisa bertahan dalam masa Covid-19. Hal itu telah menjadi fokus Jababeka Group agar kemampuan pekerja bisa terus relevan dengan kebutuhan industri yang dinamis.

Jababeka kata dia, ingin membuat Silicon Valley di Indonesia. "Kita bisa membawa itu ke Cikarang. Kalau kita belajar dari Amerika Serikat, kita akan bergerak ke industri 4.0 dan 5.0, dalam kondisi seperti sekarang, pengembangan industri 4.0 harus lebih dipercepat," kata dia.

Untuk itu perlu peningkatan sumber daya manusia (SDM). Jika tidak mengikuti perkembangan teknologi, para milenial akan kesulitan. "Jababeka siap mendukung tempat dan konten yang dibutuhkan bagi pelatihan ini," urainya.

Sementara Chairman and Founder Jababeka Group dan President University, Setyono Djuandi Darmono berharap kerja sama ini mampu memberi dampak besar kepada masyarakat. Ia menilai sinergi Jababeka dengan Telkom akan meningkatkan skill milenial, sekaligus pemecahan masalah pengangguran Indonesia. “Banyak hal di Indonesia yang kalau kita bisa kembangkan akan menjadi mahal. Contohnya, kami banyak bergerak di bidang properti, tapi kalau tidak ditunjang dengan infrastruktur, maka nilainya tidak bisa besar. Oleh karenanya, saya optimistis kerja sama ini bisa memberi kemajuan," ungkap Darmono.

 



Sumber: BeritaSatu.com