Potensi Ancaman Aksi Teror Pasca-Idulfitri Masih Cukup Besar

Potensi Ancaman Aksi Teror Pasca-Idulfitri Masih Cukup Besar
Penggeledahan rumah anggota jaringan teroris. (Foto: Antara)
Yeremia Sukoyo / WBP Selasa, 26 Mei 2020 | 14:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com  - Mantan Panglima Negara Islam Indonesia (NII) Ken Setiawan mengingatkan adanya potensi ancaman terorisme dan radikalisme dari kelompok milenial yang merasa tidak puas dengan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi-Ma'ruf Amin). Saat ini ada sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) berusia muda, sudah terpapar pemikiran radikal.

"Anak anak muda yang sudah terpapar radikal sudah mulai berani beraksi, seperti yang terjadi di Batam yang (berusia) 16 tahun," kata Ken Setiawan, di Jakarta, Selasa (26/5/2020).

Seperti diketahui, menjelang Idulfitri, pasukan Densus 88 Mabes Polri menangkap terduga teroris seorang laki-laki berusia 16 tahun di kompleks Merapi Subur, Batam, Kepulauan Riau. Penangkapan dilakukan bersamaan waktunya dengan jaringan terduga teroris di Tasikmalaya, Jawa Barat dan Kendal, Jawa Tengah.

Baca juga: Dana Jaringan JI Non-Struktur dari Bisnis Ekspedisi

Ken mengingatkan, kelompok masyarakat tidak puas dengan kondisi sekarang. Mereka terus menerima isu-isu yang menyudutkan pemerintahan. "Potensi masih besar, banyak eks NII yang bergabung ke Jamaah Ansharut Daulah (JAD) karena pada dasarnya punya musuh yang sama, yaitu pemerintah. Apalagi provokasi lewat isu PKI sudah sampai pelosok akan memunculkan simpatisan teror yang meresahkan masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, kalangan milenial pengguna media sosial (medsos) masih banyak yang terpapar lantaran telah menelan mentah-mentah info yang didapat, khususnya kalangan perantau belum tersentuh program deradikalisasi. "Perantau dianggap sangat potensial karena jauh dari keluarga dan tidak ada yang pantau, sehingga bila sudah terpapar dan terekrut akan bisa totalitas dalam berjuang," ungkap Ken.

Dia berharap agar pemerintah beserta elemen masyarakat terus meningkatkan program sosialisasi anti-radikalisme. Kegiatan ini merupakan salah satu cara menyadarkan masyarakat yang belum sampai pada perilaku radikal. "Deradikalisasi sudah berjalan, tapi belum maksimal. Deradikalisasi sebenarnya diperuntukkan bagi orang radikal agar jangan radikal lagi. Kalau untuk masyarakat, mungkin tepatnya sosialisasi anti-radikalisme," kata Ken.



Sumber: BeritaSatu.com