Jumlah Tersangka Pemotongan Dana BST di Sumut Bertambah

Jumlah Tersangka Pemotongan Dana BST di Sumut Bertambah
Warga Desa Krembangan, Kecamatan Panjantan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ponikem mengembalikan Bantuan Sosial Tunai sebesar Rp 600.000 untuk dialihkan ke warga yang lebih membutuhkan. (Foto: Antara / Antara)
Arnold H Sianturi / LES Selasa, 26 Mei 2020 | 16:09 WIB

Medan, Beritasatu.com - Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam pemotongan dana bantuan sosial tunai (BST) sebesar Rp 500.000 dari nilai bantuan program pemerintah pusat terhadap masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

"Ketiga tersangka itu adalah Erna Purba, Masniar Sitorus dan Eni Aritonang. Ini terkait dalam pemotongan dana BST yang diterima warga di Dusun I Desa Bulu Duri, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi," ujar Kepala Sub Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan di Medan, Selasa (26/5/2020).

Nainggolan mengatakan, penanganan kasus terhadap ketiga orang tersebut masih terus dilanjutkan untuk mengungkap keterlibatan pihak lainnya. Sehingga, dalam menangani kasus pemotongan dana BST ini memungkinkan adanya penambahan jumlah tersangka.

"Pemotongan dana ini setelah warga penerima bantuan mengambil uang dari kantor desa sebesar Rp 600.000. Setelah itu, Erni Aritonang bersama Erna Purba meminta kembali uang yang diterima warga. Mereka hanya menyerahkan uang sebesar Rp 100.000 ke warga penerima bantuan," katanya.

Dalam pemeriksaan, Erni Aritonang mengaku, melakukan pengambilan uang itu atas perintah Masniar Sitorus, yang merupakan istri dari kepala desa di sana. Dana bantuan sebesar Rp 500.000 ditarik dari setiap penerima bantuan dengan alasan mau dibagikan kepada warga lainnya.

"Pengakuan mereka, masih banyak warga di sana yang layak menerima bantuan namun belum terdaftar. Sehingga, sesuai kesepakatan mereka, uang yang dikumpulkan itu mau dibagi rata supaya adil. Namun, tidak semua warga menyetujui, salah satunya Togu Sinaga, keberatan dan membuat pengaduan," jelasnya.

Untuk penanganan kasus dugaan penyimpangan bantuan sosial (Bansos) dalam bentuk paket sembako, kata Nainggolan, petugas masih melakukan pendalaman dengan mengumpulkan bahan keterangan sekaligus mencari bukti atas kasus di lima daerah di Sumut.

"Petugas sedang bekerja di lapangan untuk mencari bukti dan pengambilan keterangan terhadap masyarakat dari kasus dugaan penyimpangan bansos tersebut. Penyelidikan atas kasus ini merupakan perintah Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin," katanya.

Sebelumnya, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut, Kombes Pol Rony Samtana menyampaikan, lima daerah yang sedang dalam penyelidikan terkait dana bantuan itu adalah Kota Medan, Kota Pematang Siantar, Kabupaten Toba, Kabupaten Samosir, dan Kabupaten Deli Serdang.

Menurutnya, pihaknya sudah menurunkan anggota ke lapangan dalam melakukan pengumpulan bukti - bukti atas kasus tersebut. Petugas juga mengambil keterangan dari sejumlah orang yang terkait dalam bantuan sosial.

"Ini merupakan peringatan kepada seluruh daerah supaya tidak mengambil keuntungan di balik penyaluran dana bantuan itu. Kami akan mengambil langkah hukum dan memproses mereka jika terbukti terlibat dalam penyimpangan dana bantuan," sebutnya.



Sumber: BeritaSatu.com