Ketua Komisi X: Pembukaan Sekolah di Masa Pandemik Sebuah Pertaruhan Besar

Ketua Komisi X: Pembukaan Sekolah di Masa Pandemik Sebuah Pertaruhan Besar
Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda. (Foto: istimewa)
Markus Junianto Sihaloho / RSAT Selasa, 26 Mei 2020 | 16:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menyatakan dirinya berharap pemerintah terlebih dahulu memaparkan dasar pemikiran dan perencanaan jelas soal pembukaan kembali sekolah di tahun ajaran baru 2020-2021. Sebab pembukaan itu merupakan pertaruhan besar di tengah pandemi Covid-19.

"Pembukaan sekolah di masa pandemik merupakan sebuah pertaruhan besar. Apalagi hingga saat ini laju penularan Covid-19 di Tanah Air kian meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan," kata Huda dalam keterangannya, Selasa (26/5/2020).

Menurut dia, hingga kemarin, kurva kasus positif Covid-19 di sejumlah daerah malah menunjukkan peningkatan tajam. Sehingga jika dipaksakan membuka sekolah di wilayah-wilayah tersebut, maka potensi penularannya di kalangan peserta kegiatan belajar-mengajar akan sangat besar.

Padahal, menurut Politikus PKB itu, anak-anak usia sekolah sangat rentan tertular Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah anak yang positif Covid-19 mencapai 831 anak atau 4% dari jumlah keseluruhan pasien positif. Mereka dalam rentang usia 0-14 tahun.

Sedangkan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak di Indonesia dengan berbagai penyakit sebanyak 3.400 kasus. Lalu data Ikatan Dokter Indonesia menyebutkan jika 129 anak meninggal dunia dengan status PDP, dan 14 anak meninggal dengan status positif.

"Fakta ini menunjukkan jika anak-anak usia sekolah juga rentan tertular sehingga jika sekolah kembali dibuka maka harus dipersiapkan secara matang,” tegasnya.

Karena itulah pihaknya berharap benar ada pertimbangan matang sebelum pemerintah membuka kembali sekolah. Di mana harus ada dasar fakta yang jelas untuk masing-masing sekolah sebelum dibuka.

Misalnya, pemerintah harus memastikan bahwa sekolah yang dibuka hanyalah yang berada di zona hijau alias tanpa penularan. Jika berada di zona merah, wacana pembukaan sekolah harus ditolak.

Kedua, harus ada kejelasan protokol kesehatan. Semisal harus ada screening kesehatan guru dan murid, di mana yang mempunyai penyakit kormobid sebaiknya tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar mengajar.

"Semua protocol kesehatan tersebut harus disosialisasikan kepada para orang tua siswa serta dilakukan simulasinya sebelum proses pembukaan sekolah,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com