Dinilai Belum Optimal, Sandiaga Uno: Potensi Zakat Capai Rp 270 Triliun

Dinilai Belum Optimal, Sandiaga Uno: Potensi Zakat Capai Rp 270 Triliun
Sandiaga Uno. (Foto: AFP)
Robertus Wardy / RSAT Rabu, 27 Mei 2020 | 19:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga pengusaha nasional Sandiaga Salahudin Uno menilai pengelolaan zakat, infaq, dan sedekah di Indonesia belum optimal. Pasalnya, potensi zakat di Indonesia sangat besar, terlebih dengan populasi Muslim yang mencapai 85 persen.

“Saat ini zakat, infaq, sedekah di Indonesia masih berkisar Rp 8 triliun jauh di bawah potensi sekitar Rp 270 triliun. Ini harus kita optimalkan dengan pengelolaan infaq kita,” kata Sandiaga Uno di Jakarta, Rabu (27/5/2020).

Pemilik PT Saratoga Investama Sedaya Tbk ini mendorong lembaga pengumpul zakat, infaq, dan sedekah salah satunya Syariah Fren untuk benar-benar meningkatkan pengelolaan infaq dan sedekah dengan memanfaat teknologi dan menyesuaikan dengan kondisi kekinian.

Menurut Sandi pengelolaan infaq harus dilakukan dengan prisnsip-prinsip social entreprenuship atau islamic social finance.
"Dngan pengelolaan yang sangat modern dan tidak kalah dengan bank. Jadi ini adalah cara kita menabung atau berbisnis," ujar Sandi.

Sandi sendiri merupakan pengagas Gerakan Bank Infaq. Sebuah gerakan yang bertujuan mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Di sisi lain, untuk membantu masyarakat mengembangkan usaha, tetapi terkendala permodalan. Karena akses keuangan yang minim, mereka akhirnya terjerat pada pinjaman rentenir yang mencekik.

Kehadiran Bank Infaq diharapkan membantu pelaku usaha mikro untuk mengembangkan usaha mereka tanpa khawatir terjerat cekikan bunga rentenir. "Bank Infaq juga membantu mereka terhindar dari rentenir digital yang kini marak," ujarnya.

Sandi mengatakan, Gerakan Bank Infaq ini berbasis komunitas di perumahan, masjid-masjid, kelompok masyarakat, dan majelis-majelis taklim. Gerakan ini mengelola infaq dengan memanfaatkan teknologi digital.

Di era modern, menurut Sandi, infaq makin diterima. Apalagi, saat ini, banyak financial technology (fintech) yang memiliki platform urun dana (crowdfunding) yang pasarnya bisa mencapai Rp 75 triliun.

“Mudah-mudahan bersama teman-teman Syariah Fren kita dapat bersinergi untuk melakukan prinsip-prinsip social entrepreneurship melalui pengelolaan infaq yang modern dan tidak kalah dengan bank,” tutup Sandi.