Perpres TNI Dinilai Ancam HAM dan Demokrasi

Perpres TNI Dinilai Ancam HAM dan Demokrasi
Pasukan Team Taifib Marinir melakukan penyergapan markas teroris saat melakukan Latihan Operasi Dukungan Integrasi Pasukan Khusus Laut Tahun 2019 di Dermaga JICT II Tanjung Priok, Jakarta, Kamis, 28 November 2019. (Foto: Antara / Muhammad Adimaja)
Yeremia Sukoyo / WM Rabu, 27 Mei 2020 | 16:45 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tugas TNI dalam Mengatasi Aksi Terorisme dinilai berpotensi mengganggu criminal justice system serta mengancam HAM dan demokrasi. Sejumlah aktivis dan tokoh masyarakat melalui Petisi Bersama Masyarakat Sipil pun menolak perpres tersebut.

"Rancangan perpres tentang Tugas TNI dalam Mengatasi Aksi Terorisme mengganggu criminal justice system, mengancam HAM dan demokrasi," kata Direktur Imparsial sekaligus juru bicara petisi, Al Araf, di Jakarta, Rabu (27/5).

Menurutnya, pada 4 Mei 2020 lalu pemerintah akhirnya menyerahkan draf Peraturan Presiden tentang tugas TNI dalam mengatasi aksi terorisme ke DPR. Selanjutnya DPR akan memberikan pertimbangan kepada pemerintah sebagai bentuk bagian dari konsultasi pemerintah kepada DPR sebagaimana di atur dalam UU 5/2018 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, sebelum nantinya disahkan atau tidak disahkan oleh Presiden.

"Kami menilai bahwa hukum dalam masyarakat demokratik, berfungsi untuk memberi, mendefinisikan dan mengatur pelaksanaan kewenangan-kewenangan negara. Dengan cara menetapkan batasan-batasan yang jelas terhadap kewenangan negara, hukum melindungi hak-hak warga negara dari kemungkinan abuse of power," ucap Al Araf.

Dengan berpijak pada kondisi itu, maka produk kebijakan penanganan teorisme di Indonesia harus dapat menjaga keseimbangan imperatif antara perlindungan terhadap liberty of person dalam suatu titik dengan perlindungan terhadap security of person.

Lebih jauh Al Araf beserta aktivis dan tokoh masyarakat yang menandatangi petisi menilai pengaturan tentang kewenangan TNI di dalam draf peraturan presiden tentang tugas TNI dalam mengatasi aksi terorisme terlalu berlebihan sehingga akan mengganggu mekanisme criminal justice system, mengancam HAM dan kehidupan demokrasi itu sendiri.

"Pengaturan kewenangan penangkalan dalam rancangan peraturan presiden sangat luas, yakni dengan menjalankan operasi intelijen, operasi teritorial, operasi informasi dan operasi lainnya (Pasal 3 draf Perppres). Sementara itu, peraturan presiden ini tidak memberi penjelasan lebih rinci terkait dengan operasi lainnya," ucapnya.

Dengan Pasal ini, menurutnya, TNI dapat terlibat dalam penanganan tindak pidana terorisme secara lebih leluasa di dalam negeri, sehingga berpotensi membahayakan kehidupan HAM di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama dirinya mengingatkan, secara konsepsi, istilah penangkalan tidak dikenal dalam UU 5/2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. UU tersebut hanya mengenal istilah pencegahan, yakni sebagai tugas pemerintah yang dikoordinasikan oleh BNPT (Pasal 43 UU 5/2018), yang kewewenangannya diberikan kepada BNPT bukan kepada TNI. Berbeda halnya dengan rancangan perpres ini, TNI diberi kewenangan untuk dapat melakukan penangkalan.

Pihaknya menganggap, pemberian kewenangan yang luas kepada TNI dalam mengatasi terorisme tanpa di barengi dengan kejelasan mekanisme akuntabilitas untuk tunduk dalam sistem peradilan umum tentu membahayakan hak-hak warga.

Jika terdapat kesalahan operasi di lapangan yang mengakibatkan hak-hak warga negara terlanggar maka mekanisme pertanggungjawabannya menjadi tidak jelas karena militer masih tunduk dalam yurisdiksi peradilan militer dan belum tunduk dalam yurisdiksi peradilan umum.

"Kami menilai, rancangan perpres tersebut akan mengganggu mekanisme criminal justice system dalam penanganan terorisme di Indonesia," katanya.

Dengan alasan kejahatan terorisme, militer yang bukan merupakan bagian dari aparat penegak hukum dikhawatirkan dapat melakukan fungsi penangkalan dan penindakan secara langsung dan mandiri dalam mengatasi ancaman kejahatan terorisme di dalam negeri.

Hal ini tidak sejalan dengan hakikat dibentuknya militer (raison d’etre) sebagai alat pertahanan negara yang dilatih untuk menghadapi perang, bukan untuk penegakan hukum. Pemberian kewenangan penangkalan dan penindakan tindak pidana terorisme di dalam negeri dengan alasan menghadapi ancaman terorisme kepada presiden, objek vital dan lainnya (Pasal 9 draf perpres) akan merusak mekanisme criminal justice system.

Tak hanya itu, adanya tugas penangkalan dan penindakan yang bersifat mandiri (bukan perbantuan) untuk mengatasi kejahatan tindak pidana terorisme di dalam negeri, dipandang akan menimbulkan tumpang tindih fungsi dan tugas antara militer dengan kelembagaan negara lainnya yakni dengan BNPT, aparat penegak hukum dan lembaga intelijen negara itu sendiri.

Pola penanganan terorisme dengan memberikan kewenangan yang berlebihan kepada TNI sebagaimana dimaksud dalam draft peraturan presiden tersebut akan membuka ruang dan potensi collateral damage yang tinggi, cenderung represif, stereotyping (stigmatisasi) sehingga menjadi ancaman serius bagi hak asasi manusia dan kehidupan demokrasi di Indonesia.

 

Perbaiki

Ketua Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM  Najib Azca menilai, dalam petisi itu aktivis, akademisi maupun tokoh masyarakat mendesak kepada parlemen dan pemerintah untuk memperbaiki draf peraturan presiden secara lebih baik dan lebih benar. Mengingat, secara substansi memiliki banyak permasalahan.

"Presiden Jokowi perlu hati-hati dalam membuat peraturan presiden tentang pelibatan TNI dalam mengatasi terorisme karena jika hal itu tidak dibuat dengan benar maka peraturan presiden itu justru akan menjadi cek kosong bagi militer dalam mengatasi terorisme di Indonesia dan akan memundurkan jalannya reformasi TNI itu sendiri serta kehidupan demokrasi di Indonesia," kata Nazib.

Selain Al Araf dan Najib Azca, sejumlah aktivis, tokoh masyarakat dan akademisi yang turut menandatangani petisi diantaranya Guru Besar Fisipol UGM Prof Mochtar Mas'oed, guru besar FH UGM Prof Sigit Riyanto, Alissa Wahid (putri mendiang Gus Dur), dosen FISIP UI Nur Iman Subono, mantan legislator Nursyahbani Katjasungkana.

Kemudian ada Komisioner Komnas HAM Choirul Anam, Direktur Riset di Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Wahyudi Djafar, Sigit Riyanto, Usman Hamid, Nur Iman Subono, dan dosen Universitas Paramadina Shiskha Prabawaningtyas.



Sumber: BeritaSatu.com