Memastikan Akses Membaca Bagi Siswa Difabel

Memastikan Akses Membaca Bagi Siswa Difabel
Ilustrasi perpustakaan. (Foto: Antara)
Jayanty Nada Shofa / JNS Kamis, 28 Mei 2020 | 11:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Memastikan akses membaca bagi siswa difabel netra merupakan bagian dari menciptakan pendidikan inklusif. Akses terhadap informasi ini penting untuk menjadikan siswa penyandang disabilitas menjadi sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

Di Indonesia, angka pendidikan inklusif masih dinyatakan rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, hanya 18% dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus mendapatkan layanan pendidikan inklusif.

Dilansir dari laman kemdikbud.go.id, 115.000 anak dari 18% tersebut mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Sedangkan, 299.000 lainnya bersekolah di sekolah reguler pelaksana sekolah inklusi.

Akan tetapi, apakah sekolah-sekolah ini sudah menyediakan pelayanan pendidikan khususnya di bidang membaca yang memadai?

Misalnya, penyediaan buku dengan huruf Braille bagi tunanetra di perpustakaan sekolah.

Begitu pula dengan kaca pembesar bagi penyandang disabilitas netra ringan (low vision).

Sekolah juga dapat menyediakan bacaan dalam bentuk audio digital beserta pemutarnya.

Adapun pentingnya inklusivitas dan aksesibilitas digital diangkat sebagai salah satu tema Hari Buku Sedunia 2020. Beberapa tema lainnya termasuk membaca dalam segala bentuk dan pemberdayaan anak melalui membaca.

Hal ini selaras dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas.

Peraturan tersebut mengatur penyesuaian media atau materi pembelajaran yang aksesibel antara lain dalam bentuk Braille, audio, elektronik dan pembesaran huruf.

Sekolah dihimbau untuk menyediakan sumber baca, informasi dan layanan perpustakaan yang mudah diakses.

Namun, akomodasi layanan yang layak bagi siswa difabel ini membutuhkan kolaborasi antara seluruh pihak.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Praptono.

"Ini sekarang sudah saatnya semua pihak baik Kemdikbud, pemerintah daerah dengan dinas pendidikan, para guru dan kepala sekolah, ayo bergandeng tangan bersama-sama memberikan pelayanan yang terbaik kepada para penyandang disabilitas," ungkap Praptono.

Pelayanan yang baik, ungkap Praptono, dapat mendorong siswa difabel untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Dengan ini, mereka dapat menjadi individu yang mandiri dan berkontribusi untuk pembangunan nasional.

Praptono menambahkan, pihaknya akan terus berupaya untuk memastikan pelayanan bagi siswa difabel.

"Setiap apa yang dilakukan Direktorat GTK, terutama yang terkait dengan peningkatan kompetensi guru, kita tidak pernah melepaskan dari informasi kompetensi-kompetensi yang terkait dengan peningkatan layanan bagi penyandang disabilitas," jelas Praptono.

"Jadi, itu komitmen yang kita senantiasa perjuangkan dan wujudkan dari setiap program kegiatan yang kita lakukan," tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com