"4 Sehat 5 Sempurna" Versi Pandemi Perlu Sosialisasi melalui Jalur Pendidikan

Doni Monardo dan Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI Rini Sekartini (Foto: istimewa)
Dwi Argo Santosa / DAS Kamis, 28 Mei 2020 | 11:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Slogan "4 sehat 5 sempurna" versi baru di masa pandemi Covid-19 perlu disosialisasikan melalui jalur pendidikan.

Bila di era Orde Baru slogan tersebut bermakna pada kecukupan asupan gizi yakni makan nasi dan lauk, sayuran, buah-buahan, dan susu sebagai pelengkap maka di era pandemi menjadi urutan cara hidup berdampingan dengan Covid-19 yakni gunakan masker,  jaga jarak (physical dan social distancing), rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, olahraga cukup tidur serta tidak panik, dan makanan yang bernutrisi.

Slogan tersebut pertama kali disampaikan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengenalkan 4 sehat 5 sempurna versi baru di masa pandemi Covid-19 pada jumpa pers, Senin (18/5/2020).

Menurut Doni, konsep baru "4 Sehat 5 Sempurna" ini akan dikenalkan kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh agama, budayawan, pemuda, dan tokoh masyarakat lainnya sehingga dipahami dan ditaati.

Pencetus slogan "4 Sehat 5 Sempurna" versi lama adalah Prof Poorwo Soedarmo pada 1950. Cucu dari Poorwo, Rini Sekartini berharap, slogan baru tersebut bisa mengubah perilaku masyarakat di era pandemi.  “Memang butuh waktu, makanya harus sering disampaikan, agar mudah diingat dan diterima khalayak,” kata Rini yang merupakan Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI ini.

Rini yang kini menjabat Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta, bertemu pencetus slogan "4 sehat 5 sempurna" versi pandemi, Doni Monardo di Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (27/5/2020).

Rini mendorong Doni Monardo agar memasukkan slogan "4 Sehat 5 Sempurna" versi Covid-19 itu ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Slogan kakek dulu menjadi terkenal dan dikenang sampai sekarang, juga karena masuk melalui jalur pendidikan. Ini salah satu jalur yang akan menjamin slogan melekat hidup lama di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Seperti dituturkan Tenaga Ahli BNPB yang juga anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Egy Massadiah, Rini mengaku senang slogan itu hidup” kembali. Lebih senang, ketika ia bertemu Doni Monardo, yang telah bijaksana melacak dan menelusur jejak pencipta slogan karya kakeknya.

“Ya, kami bertemu tadi membahas slogan 4 Sehat 5 Sempurna yang baru. Kami juga ngobrol tentang perubahan nomenklatur. Pada prinsipnya kami mendukung gagasan pak Doni. Saya berbicara mewakili keluarga besar. Mereka semua mengapresiasi semboyan baru yang mengadopsi serta menyempurnakan semboyan yang dicetuskan kakek kami,” papar Rini yang juga Manajer Umum FKUI Periode 2017-2022.

Diakui, slogan itu sudah sangat melekat di hati masyarakat Indonesia, utamanya bagi yang berusia 40 tahun ke atas.

Ditambahkan, slogan lama bertujuan untuk pemenuhan nustrisi anak bangsa tidak hilang pada slogan baru melainkan kini terangkum dalam urutan ke lima. Pada slogan versi oandemi, empat poin lain mengenai pola hidup sehat dalam konteks Covid-19. “Meski begitu, pesannya bersifat everlasting. Sampai kapan pun tetap relevan,” tambah peraih gelar doktor tahun 2008 dengan predikat cum laude itu.

Doni Monardo terinspirasi dan menyempurnakan slogan "4 Sehat 5 Sempurna" khusus untuk menghadapi Covid. Ia berharap slogan versi baru ini menjadi alarm manusia Indonesia dalam menghadapi pandemi.

Sampai saat ini, belum ada manusia atau negara yang bisa mengalahkan Covid. Oleh karenanya, beradaptasi menjadi kunci. Jika slogan ‘4 Sehat’ mampu diimplementasikan oleh setiap individu, niscaya kita tidak perlu mengkhawatirkan virus sepanjang disiplin mematuhi protokol kesehatan.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas, Wiku Adisasmito yang ikut menemani Rini, menyampaikan, penting untuk mengepalkan suatu narasi "4 Sehat 5 Sempurna" guna membantu setiap warga masyarakat berubah, khususnya dalam menghadapi Covid-19.

Pada kesempatan itu, Doni menambahkan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespons slogan tersebut dan membahas lebih lanjut dan detail sehingga dapat disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim.

Gerakan dengan slogan "4 Sehat 5 Sempurna" versi lawas merupakan adaptasi dari rekomendasi USDA, basic four atau basic five. Di Indonesia kemudian dikenal sebagai Empat Sehat Lima Sempurna (ESLS). Slogan yang diciptakan oleh Prof. Poorwo Soedarmo ini bahkan lebih populer dari slogan yang muncul berikutnya ‘Isi Piringku Bergizi Seimbang.’

Poorwo Soedarmo yang dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia merupakan sosok yang merintis dan mengembangkan pengetahuan tentang gizi dan ketenagaan gizi di Indonesia. Ribuan tenaga gizi dengan berbagai tingkatan Diploma sampai S3 dan guru besar, bermula dari gagasan dan perjuangan Poorwo pada tahun 1950-an.

Poorwo dilahirkan di Malang, Jawa Timur, pada 20 Februari 1904 dan meninggal pada usia 99 tahun. Pria lulusan Sekolah Kedokteran Stovia tahun 1927 ini merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. “Beliau memang asli Malang, tapi saya tidak bisa berbahasa Jawa,” kata  Rini, sang cucu, sambil tertawa.

Berdasar catatan sejarah, Poorwo pernah bekerja sebagai kepala pelayanan medis hingga tahun 1948. Poorwo yang mendapat ijazah dokter dari Ida Gaigako kemudian menjadi dokter kapal ‘Polodarus.’

Ketertarikan terhadap ilmu nutrisi diawali ketika ia berlabuh di London tahun 1949. Akhirnya, Poorwo menempuh studi malaria dan peran DDT di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Ia juga belajar ilmu gizi di Post Graduate Institute, London (1949) dan Institute of Nutrition, Manila (1950). Kemudian ia mendalami ilmu yang sama di School of Public Health and Nutrition, Harvard University (1954-1955).

Setelah menimba ilmu gizi di luar negeri, Poorwo kembali ke Indonesia dan mendirikan Akademi Ahli Diit dan Nutrisionis atau dikenal juga dengan APN (Akademi Pendidikan Nutrisionis), yang kemudian diganti nama Akademi Gizi.

Poorwo menjadi guru besar pertama Ilmu Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1958. Dua tahun kemudian Poorwo lulus dari Institute of Nutrition Sciences, Columbia University, New York.

Poorwo tercatat sebagai penerima Bintang Mahaputra Utama tahun 1992 dari Pemerintah Indonesia atas jasa mengembangkan gizi. Di samping penghargaan itu, ia mendapat piagam penghargaan Ksatria Bakti Husada Kelas I pada tahun 1993.



Sumber: BeritaSatu.com