Ini Kriteria Panglima Baru TNI

Ini Kriteria Panglima Baru TNI
HUT ke 74 TNI (Foto: suara pembaruan / joanito de soajoao)
Yeremia Sukoyo / JAS Kamis, 28 Mei 2020 | 13:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Memasuki pertengahan tahun 2020, pergantian Panglima TNI sudah menjadi perbincangan hangat di sejumlah kalangan. Beberapa nama calon pengganti Panglima pun sudah mulai muncul ke permukaan.

Direktur Eksekutif Institute Kajian Pertahanan dan Intelijen Indonesia (IKAPII), Fauka Noor Farid, menilai, posisi Panglima TNI nantinya tentu harus dipegang oleh orang yang tepat.

Apalagi dengan melihat kondisi bangsa dan negara, termasuk kondisi global saat ini, Panglima TNI harus memiliki koneksi yang kuat, paham segalanya, baik itu di bidang ideologi, politik, ekonomi, budaya, sosial, pertahanan dan keamanan.

"Harus kuat, matang dan mapan. Melihat kondisi saat ini, Panglima TNI harus benar-benar dipegang orang yang pas. Harus dilihat kondisi bangsa dan negara, kondisi global, apalagi adanya pandemi (Covid-19). Tidak hanya kedaulatan, akan tetapi harus kuat dalam sektor lainnya," kata Fauka, di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Seperti diketahui, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sendiri akan pensiun pada awal Desember 2020 mendatang. Hadi Tjahjanto pensiun dan kemungkinan akan diganti sebelum memasuki tanggal tersebut.

Menurut Fauka, pemilihan sosok Panglima TNI tidak boleh sembarangan dengan mengikuti skema urut kacang. Akan tetapi, harus melihat kondisi dan situasi yang terjadi. Sebab, dampaknya akan besar, dan meliputi banyak sektor.

Pemilihan Panglima TNI bisa dilakukan berdasarkan rotasi atau urut kacang jika negara dalam keadaan normal. Namun, masalahnya sekarang ini negara tidak dalam sedang kondisi normal, apalagi setelah dilanda wabah virus corona yang menyebabkan ekonomi nasional berantakan.

"Negara juga tidak memiliki banyak uang untuk menopang kondisi saat ini. Semua akan berdampak terhadap stabilitas nasional. Ancaman dan gangguan yang dihadapi bangsa kita ke depan akan lebih kompleks lagi. Di samping masalah kedaulatan, Ipoleksusbudmil, belum lagi masalah bencana alam," ujar praktisi intelijen itu.

Selain itu, masalah batas wilayah antar negara, seperti yang dilakukan Tiongkok yang meluaskan wilayahnya dengan mengklaim wilayah laut China Selatan. Kondisi tersebut tidak bisa dianggap remeh.

"Kita perlu pemimpin yang memiliki koneksitas dengan negara adidaya yaitu Amerika, bukan sekadar koneksitas tapi suatu hubungan yang sudah terjalin erat akan membantu kekuatan pertahanan," ucapnya.

Saat ini, dirinya menilai, salah satu sosok yang paling pas adalah Jenderal TNI Andika Perkasa. Sebab, Andika dianggap cukup mumpuni dan mapan dalam menjawab permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini.

"Koneksi yang dimiliki Jenderal TNI Andika Perkasa juga sangat kuat. Apalagi beliau, baru saja mendapatkan medali kehormatan dari Pemerintah Amerika Serikat. Koneksi beliau tidak diragukan lagi, integritas, kapabilitas, kredibilitas sudah jelas memiliki kualitas prima," ujarnya.

Namun demikian, dari penilaian tersebut bukan berarti sosok yang lain tidak mumpuni. Akan tetapi, dengan mempertimbang faktor-faktor tersebut di atas, maka Indonesia sangat memerlukan jenderal yang sudah matang dan sudah mengetahui kondisi dan situasi bangsa.



Sumber: BeritaSatu.com