Kemdikbud Dorong "Perjodohan" Vokasi dengan Industri

Kemdikbud Dorong
Kemperin melalui pendidikan vokasinya Politeknik Negeri APP Jakarta meluluskan 425 wisudawan di Jakarta Selasa (12/11/2019). (Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus)
Maria Fatima Bona / IDS Rabu, 27 Mei 2020 | 21:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dirjen Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemdikbud, Wikan Sakarinto mengatakan, pemerintah akan fokus melakukan "perjodohan" antara pendidikan vokasi yang meliputi kampus vokasi serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan lembaga kursus serta dunia industri dan dunia kerja.

Wikan menyebutkan, untuk tahap pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) mendorong terwujudnya paket pernikahan massal antara kampus vokasi dan dunia industri dan dunia kerja. Pernikahan massal yang dimaksud adalah link and match pendidikan vokasi dengan industri. Kedua belah pihak akan berbagai peran dan berinvestasi hingga mengambil risiko bersama.

“Kemarin kita merilis salah satu tujuan utama kita yaitu program penguatan pendikan vokasi yang akan membuat prodi (program studi,red) betul-betul untuk melakukan pernikahan massal,” kata Wikan melalui telekonferensi di Jakarta, Rabu (27/5/2020).

Hadirnya konsep link and match ini, kata Wikan, adalah untuk mengajak industri ikut mempersiapkan lulusan vokasi sehingga hasilnya sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari persiapan kurikulum hingga terlibat sebagai tenaga pendidik, sehingga industri akan merekrut lulusan yang sesuai dengan kebutuhan.

Kendati demikian, Wikan juga mengakui sebetulnya saat ini memang sudah ada prodi vokasi yang sudah melakukan program link and match seperti yang dilakukan oleh PT. PLN Persero bersama Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip).

Namun untuk kali ini konsep yang disiapkan mendorong link and match yang lebih luas. Untuk 2020, mantan dekan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menargetkan 100 prodi vokasi baik di perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) melakukan link and match. Kemudian diteruskan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak prodi vokasi.

Sedangkan 100 prodi yang telah menjalankan link and match ini didorong untuk meningkatkan paket lebih lengkap seperti mendirikan teaching industry untuk membuka jalur S-2 atau magister terapan dengan melakukan dual degree (gelar ganda) dengan Jerman.

Dengan begitu, bagi pendidikan vokasi yang sudah mapan terus didorong untuk meningkatkan diri supaya lebih tinggi lagi serta berbagi resep dengan kampus vokasi yang belum mapan sehingga terjadi satu kondisi prodi vokasi di Indonesia tidak bisa bersaing.

“Saya enggak pernah bilang vokasi UGM itu nomor berapa enggak penting, tapi seberapa banyak vokasi UGM sudah berbagi resep pernikahan dengan dunia industri bisa membuat vokasi lain juga terangkat itu yang ingin kita bikin platform mak comblang itu. Jadi, ini semacam perjodohan massal, bukan satu dengan satu, tetapi satu kampus vokasi dengan banyak industri," ujar Wikan.

Selanjutnya, Wikan juga menuturkan, sebagai regulator, Kemdikbud akan menciptakan link and match dengan kementerian terkait seperti Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sehingga paket yang dipersiapkan dapat diterima.

Wikan optimistis program link and match ini akan menguntungkan banyak pihak. Selain itu, lulusan pendidikan vokasi juga akan semakin dihargai oleh industri dan dunia kerja bukan semata-mata karena ijazahnya melainkan karena memiliki kompetensi dan skills yang semakin sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Link and match ini bukan sekadar MoU (Memorandum of Understanding,red) dan foto-foto di media melainkan harus menjadi pernikahan yang sangat erat dan mendalam, sehingga semua pihak akan saling mendapatkan manfaat yang signifikan dan berkelanjutan. Jangan sampai, sudah lulus kuliah, masih harus di-training lagi oleh industri dengan susah payah, memakan banyak waktu dan berbiaya mahal” tegas Wikan.



Sumber: BeritaSatu.com