Pakar Epidemiologi: New Normal Terlalu Dini di Indonesia

Pakar Epidemiologi: New Normal Terlalu Dini di Indonesia
Prajurit TNI berjaga di loket Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Rabu, 27 Mei 2020. (Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao)
Dina Manafe / EAS Kamis, 28 Mei 2020 | 22:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kehidupan normal baru (new normal) akan segera diberlakukan oleh pemerintah. Dengan keputusan ini diharapkan roda ekonomi kembali hidup, tetapi wabah Covid-19 juga bisa dikendalikan. Namun para pakar epidemiologi dan kesehatan masyarakat menilai kebijakan new normal ini terlalu dini diterapkan di Indonesia. Artinya Indonesia belum siap untuk masuk ke kehidupan normal yang baru.

Epidemiologi sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Prof Ridwan Amiruddin, mengatakan new normal ini ibarat oase yang ditawarkan pemerintah. Terlalu dini dan terkesan dipaksakan untuk diberlakukan. Padahal ada syarat yang harus dipenuhi apabila masuk ke new normal tersebut, yaitu Covid-19 sudah terkendali. Faktanya, itu belum terjadi.

Di beberapa negara, misalnya Jepang, pelonggaran PSBB dilakukan setelah enam pekan periode melandai kurva Covid-19 Sementara di Indonesia kurvanya masih bertumbuh dan baru menuju titik puncak.

“Kurva kita belum melandai. Kita terlalu cepat masuk ke new normal. Sementara di beberapa provinsi masih dalam masa pertumbuhan kasus,” kata Ridwan dalam diskusi secara daring dengan topik “Pasca PSBB dan Kehidupan Normal Baru”, Kamis (28/5/2020).

Menurut Ridwan, pada situasi krisis seperti saat ini, kesehatan masyarakat mestinya menjadi prioritas. Setelah itu baru masuk ke ekonomi, lalu reputasi. Yang terjadi di Indonesia saat ini, kesehatan masyarakat belum tuntas tetapi sudah masuk ke ekonomi. Berbeda dengan negara lainnya, yang diutamakan mereka adalah kesehatan masyarakat, baru ke ekonomi, dan selanjutnya reputasi atau harga diri bangsa. Kesehatan masyarakat merupakan pilar utama pengendalian Covid-19.

Mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Ridwan megatakan untuk masuk ke kehidupan new normal harus memenuhi enam syarat. Salah satunya harus memiliki bukti bahwa penularan Covid-19 di sebuah wilayah bisa dikendalikan. Bila menggunakan pendekatan effective reproduction number (Rt) sekarang ini di Indonesia masih di angka 3. Ini bermakna bahwa virus belum terkendali atau penularannya masih tinggi.

Untuk masuk ke new normal ada lima hal yang harus dilakukan pemerintah. Pertama, memobilisasi semua sektor dan komunitas. Artinya setiap orang berhak dan bertanggungjawab mengambil peran dalam pengendalian virus ini.

“Tidak ada komunitas yang ditinggalkan dalam upaya pengendalian. Karena virus ini tidak mengenal ras, kebangsaan, strata sosial, dan struktur ekonomi, sehingga semua harus terlibat,” kata Ridwan.

Kedua, kontrol kasus sporadis dan klaster. Ini penting karena di sejumlah kota sekarang ini muncul kasus yang bersifat sporadis dan klaster yang sudah terjadi transmisi lokal, bukan lagi kasus impor. Ketika sudah terjadi transmisi lokal, maka tantangannya lebih berat. Bisa menimbulkan klaster baru yang tidak terdeteksi oleh pemerinah pusat.

Ketiga, menekan transmisi di tingkat komunitas. Keempat, mengurangi angka kematian dengan memberikan perawatan tepat, dan kelima, pengembangan vaksin.



Sumber: BeritaSatu.com