Pendisiplinan Protokol Kesehatan Normal Baru, Ini Cara Bertindak TNI-Polri

Pendisiplinan Protokol Kesehatan Normal Baru, Ini Cara Bertindak TNI-Polri
Kombes Yusri Yunus. (Foto: Antara)
Bayu Marhaenjati / JAS Jumat, 29 Mei 2020 | 16:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kodam Jaya dan Polda Metro Jaya, telah menggelar rapat koordinasi terkait rencana penerapan new normal atau kenormalan baru di masa pandemi Covid-19, dalam upaya mendisiplinkan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan sesuai ketentuan. Salah satunya, membahas terkait cara bertindak di lapangan.

"Cara bertindak nanti seperti apa? Ada cara bertindak yang kita lakukan. Pertama jelas protokol kesehatan kita kedepankan, masyarakat nanti kita mengharapkan bersih-bersih. Kemudian pakai masker, physical distancing, jaga jarak. Nanti ada tempat cuci tangan, akan kita awasi atau amankan. Yang kita lakukan di situ, TNI-Polri adalah kegiatan persuasif, edukasi dan humanis," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, di Mapolda Metro Jaya, Jumat (29/5/2020).

Terkait sektor ekonomi semisal di pasar atau mal, kata Yusri, TNI-Polri akan mendirikan pos pengamanan di lokasi. Kemudian, setiap pengunjung yang akan masuk dilakukan pendisiplinan protokol kesehatan seperti mengukur suhu, pengecekan penggunaan masker, dan diminta cuci tangan.

"Kita ukur suhu menggunakan thermogun, kalau 37,5 (derajat celsius) lebih itu tidak boleh masuk, di pos itu ada tim kesehatan akan memeriksa yang bersangkutan atau masyarakat tersebut. Masuk ke dalam cuci tangan dulu akan disiapkan oleh pengusaha tempat itu, ada hand sanitizer. Masuk ke dalam mengunakan masker, tidak ada masker tidak boleh masuk. Kita upayakan awal kita siapkan masker, tetapi tetap kita mengharapkan masyarakat menggunakan masker itu paling utama," ungkapnya.

Ketika berada di dalam mal atau pasar, tambah Yusri, pengunjung harus menerapkan physical distancing atau jaga jarak.

"Nanti akan kita rapatkan dengan pengusaha-pengusaha untuk mereka mengatur physical distancing di tenant (penyewa) yang ada kalau di mal. Toko harus ada aturan jarak 1 sampai 1,5 meter. Ini yang kita rencanakan, kita rapatkan lagi," katanya.

Yusri menyampaikan, pendisiplinan protokol kesehatan juga diterapkan pada sektor moda transportasi. "Semua sama, mau di tempat-tempat kereta api pun sama, di tempat duduk pun sudah diatur, ada tanda silang, tanda batas untuk physical distancing. Masuk ke dalam tidak mengunakan masker tidak boleh naik ke moda transportasi itu," jelasnya.

Menyoal sanksi, Yusri mengatakan, TNI-Polri mengedepankan tindakan persuasif dan humanis. Namun, kalau ada yang membandel aparat akan tegas memberikan sanksi sesuai Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

"Sanksinya sudah jelas. Kita mengedepankan persuasif dan humanis, edukasi kepada masyarakat. Tapi kalau memang tidak bisa mengindahkan apa yang disampaikan, petugas dalam hal ini TNI-Polri akan tegas. Ada peraturan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, ancamannya 1 tahun penjara, dendanya Rp 100 juta. Tetapi itu adalah jalan terakhir yang kita akan berikan apabila masyarakat tidak mengindahkan, bahkan mungkin akan melawan petugas akan kita lakukan tindakan tegas," terangnya.

Ihwal berapa personel TNI-Polri yang dilibatkan dalam pengamanan, Yusri menuturkan, masih dalam pengitungan sesuai dengan tingkat keramaian di lokasi masing-masing.

"Itu kita masih menghitung tidak akan mungkin satu pasar tradisonal dengan pasar lainnya sama personelnya dilihat dari tingkat keramaian yang ada. Semakin ramai semakin banyak personel. Tetapi kesiapan kita, TNI-Polri sudah siap mengatur, menjaga, mengamankan dan mengawasi tempat-tempat itu," katanya.

Yusri menuturkan, pemerintah provinsi juga dilibatkan dalam melakukan pengawasan dan pengamanan. "Iya melibatkan pemprov. Cuma ini lebih mengedepankan TNI-Polri. Perannya sama-sama kita menjaga," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com