Guru Penggerak Dongkrak Keterlibatan Siswa di Kelas

Guru Penggerak Dongkrak Keterlibatan Siswa di Kelas
Ilustrasi guru mengajar. (Foto: ANTARA FOTO)
Jayanty Nada Shofa / JNS Jumat, 29 Mei 2020 | 16:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Reformasi pendidikan tidak luput dari peran guru sebagai penggerak. Sebab, seorang guru memahami secara langsung apa yang dibutuhkan siswanya dalam proses pembelajaran.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memperkenalkan konsep guru penggerak bersamaan dengan Merdeka Belajar.

Menurut Nadiem, guru penggerak adalah sosok yang mengutamakan murid dan inisiatif berinovasi ketika mengajar.

Pemerintah kemudian memberikan kemerdekaan dalam pembelajaran agar guru tersebut dapat lebih leluasa berinovasi.

Guru penggerak pun diharapkan dapat menciptakan ruang kelas yang lebih bersifat diskusi, sehingga mendorong keterlibatan siswa. Dengan ini, kelas tidak hanya berjalan satu arah.

Untuk menciptakan kelas yang lebih aktif, guru penggerak akan mengikuti pelatihan pendidikan terlebih dahulu.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemdikbud Iwan Syahril.

“Program [pelatihan] yang akan kami lakukan adalah mendorong guru-guru yang sudah memiliki kemampuan untuk memahami pembelajaran yang berorientasi pada murid. Harapannya, guru ini dapat menjadi pemimpin pendidikan,” ungkap Iwan, beberapa waktu lalu.

Pemimpin pendidikan, ungkap Iwan, mengacu pada kepala sekolah atau pengawas.

Engagement atau keterlibatan dalam kelas didorong dari hasil pelatihan pendidikan guru penggerak.

Dirinya berkaca dari beberapa pelatihan pendidikan di masa lalu yang mengalami resistensi ketika dipraktikan di sekolah.

"Kadang kita mendengar pembelajaran aktif yang dipelajari di pelatihan itu tidak didukung oleh kepala sekolahnya karena dianggap muridnya kok jadi ribut atau kelasnya jadi lebih berantakan," jelasnya.

Sedangkan, model kelas yang diinginkan menekankan pada keterlibatan siswa.

"Yang kita mau engagement itu memang harus aktif. Learning is messy. Murid harus aktif. Namanya kolaborasi dan komunikasi tidak mungkin diam-diaman," terang Iwan.

"Sering kali, ini kurang dimengerti oleh pemimpin pendidikan yang mungkin kepala sekolah atau pengawas. Ini yang nanti kita mau dorong melalui pelatihan khusus untuk guru penggerak," imbuhnya.

Dirinya menambahkan filosofi guru penggerak adalah memberdayakan.

Sebab, ketika guru penggerak memimpin, mereka dapat langsung mengembangkan kemampuan guru lain di sekolahnya.

“Karena menurut kami ketika pemimpin sekolah menjadi dimensinya guru penggerak, ini bukan saja untuk dirinya sendiri tapi dia juga bisa memberdayakan,” tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com