Selamatkan Dunia Usaha, Azis Syamsudin Dorong Relaksasi BMPK

Selamatkan Dunia Usaha, Azis Syamsudin Dorong Relaksasi BMPK
Anggota DPR dari Fraksi Golkar, Azis Syamsuddin. (Foto: Antara)
Markus Junianto Sihaloho / JAS Jumat, 29 Mei 2020 | 22:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com  - Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin mendorong agar Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mempertimbangkan langkah merelaksasi batas maksimum pemberian kredit (BMPK) perbankan demi membantu korporasi maupun UMKM menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Pernyataan itu disampaikan Azis dalam diskusi Zooming dengan Primus Dorimulu yang ditayangkan oleh Beritasatu TV secara langsung, Jumat (29/5/2020). Tema diskusi adalah "Kiprah DPR saat Pandemi Corona".

Pernyataan itu berawal dari pertanyaan sang moderator acara, Primus Dorimulu, mengenai informasi dari pelaku usaha yang merasa stimulus fiskal berupa pemotongan pajak saja tak cukup menolong mereka. Sebab takkan ada pajak tanpa adanya penghasilan, sementara penghasilan usaha saat ini menurun. Karenanya, suport terbesar yang diharapkan oleh dunia usaha adalah likuiditas dan modal kerja.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, dan Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia Fadhil Hasan, menyatakan berbagai langkah sebagai upaya menyelamatkan perekonomian yang terdampak sangat berat oleh Covid-19. Intinya, kedua belah pihak ini adalah bahwa Pemerintahan yang tergabung di KSSK memahami sepenuhnya kondisi korporasi maupun UMKM yang membutuhkan likuiditas.

Langkah-langkah itu termaktub di UU nomor 2 tahun 2020 tentang Penetapan Perppu 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau dalam rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan.

Menurut Azis, Pemerintah sudah menunjuk sejumlah bank dengan kriteria tertentu sebagai pelaksana dari kebijakan di UU nomor 2/2020.

Masalahnya, boleh saja disebut jika sebenarnya perbankan memiliki likuiditas yang dibutuhkan dunia usaha. Namun perbankan akan kesulitan menyalurkan modal kerja dalam bentuk kredit ke dunia usaha jika tidak diberikan relaksasi batas pemberian kredit (BMPK).

"Ini juga tidak akan bisa jalan, kalau relaksasi terhadap BMPK-nya tidak dilakukan. Karena posisinya sudah penuh ini di jalan (BMPK) ini. Sehingga perlu melakukan relaksasi antara 20 menuju 25 ,atau 30 persen dari BMPK, supaya ini bisa terjadi pelonggaran," kata Azis Syamsuddin.

Yang kedua diingatkan Azis Syamsuddin, sebaiknya kredit yang disalurkan perbankan itu tak membebankan bunga yang tinggi kepada korporasi maupun UMKM lokal. Sebab kondisi saat ini sudah sangat sulit, akan semakin sulit bila dibebani dengan bunga kredit tinggi.

"Saya menitip pesan kepada Pak Febrio, supaya utangnya ini tidak dilakukan secara eksternal, karena juga akan menghimpit kebijakan-kebiajakn di sektor lain," kata Azis Syamsuddin.

Yang dimaksud Azis Syamsuddin, adalah jajaran pemerintahan di KKSK mencari cara sehingga mendapatkan dana yang murah untuk disalurkan ke dunia usaha nasional.

Bagi Azis, kuncinya adalah bagaimana agar KKSK bisa bekerja dengan baik, melalui koordinasi dan keberpihakan yang tegas terhadap pelaku usaha nasional.

"Mohon agar selalu melakukan koordinasi untuk bagaimana jangan sampai kebijakan-kebijakan daripada peraturan yang dikeluarkan OJK, Kementerian Keuangan, LPS, mengimpit tujuan dari sisi fiskal. Sehingga ini bisa menggerakkan sektor ekonomi padat karya, tidak terimpit dari sektor moneternya," beber Azis.

Moderator Primus Dorimulu lalu bertanya tanggapan Azis soal rencana Pemerintah untuk melakukan kebijakan new normal atau normal baru, yang bertujuan membuka kembali aktivitas sosial ekonomi. Azis mengaku sangat mendukungnya.

"Kalau saya, lebih cepat lebih baik. Karena kalau semakin ditunggu, kegiatan ekonomi tak jalan," ujar politikus Golkar itu.

Walau demikian, dirinya menghormati keputusan Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf yang sedang menyusun protokol serta langkah lebih lengkap sebelum melaksanakannya.



Sumber: BeritaSatu.com