Ini Penyebab Kasus Covid-19 di Jatim Melonjak Versi Pakar

Ini Penyebab Kasus Covid-19 di Jatim Melonjak Versi Pakar
Pembeli diperiksa suhu tubuh di Lumbung Pangan Jatim, Selasa (21/4/2020) (Foto: istimewa)
Dina Manafe / FMB Sabtu, 30 Mei 2020 | 08:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, kasus harian Covid-19 di Jawa Timur dalam beberapa hari tercatat meningkat dan melampui DKI Jakarta karena beberapa faktor pemicu. Pertama, banyaknya klaster yang masuk ke provinsi ini, yaitu kasus impor seperti dari Bogor, Gowa, klaster pesantren, dan lain-lain.

Kedua, pada waktu ada kasus upaya penelusuran kontak (contact tracing) tidak dilaksanakan dengan baik. Banyak kasus kontak dekat dengan kasus positif menolak untuk dilakukan pelacakan. Ini menyebabkan informasi penularan terputus sehingga upaya untuk menemukan orang yang kemungkinan positif juga terputus.

“Begitu kontak dekat ini lepas, maka ada kemungkinan penularan lebih banyak. Kasus kontak tidak mau ditanya, sehingga informasi penularan menjadi putus, tetapi penularan virus jalan terus,” kata Tri Jumat (29/5/2020) malam.

Baca juga: Gugus Tugas: Penambahan Kasus Positif Covid-19 di Jatim Terbanyak

Ketiga, kapasitas laboratorium yang melakukan pemeriksaan pasien positif semakin baik. Sebelumnya hanya ada satu laboratorium, sehingga pemeriksaan spesimen untuk menemukan kasus positif belum begitu banyak.

Tri mengatakan, saat kasus positif pertama dan kedua dilaporkan di DKI Jakarta, di Surabaya tenang-tenang saja. Padahal kala itu di Surabaya sudah dilaporkan 9 orang pasien dalam pengawasan (PDP), dan ada beberapa meninggal. Ini menunjukkan kemungkinan sudah ada kasus positif, tetapi tidak terdeteksi dan dilaporkan karena kapasitas laboratorium untuk pemeriksaan Covid-19 waktu itu belum ada. Pada awal-awal muncul kasus di Indonesia, pemeriksaan Covid-19 di daerah masih terkendala.

Jadi, menurut Tri, kalau sekarang kasusnya bertambah banyak bisa jadi karena kontak dekat dengan kasus-kasus awal baru terdeteksi dan dilaporkan. Menurut Tri, kasus di Jawa Timur bisa saja melampaui DKI Jakarta apabila pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan. Kepatuhan terhadap PSBB juga harus diukur dengan melibatkan aparatur RT/RW untuk memastikan kepatuhan warganya terhadap protokol kesehatan. Kemudian isolasi kasus positif harus dilaksanakan dengan baik. Artinya, kalau isolasi mandiri di rumah maka wajib ada petugas yang memastikan protokol kesehatan dipatuhi. 



Sumber: BeritaSatu.com