Masuki New Normal, Skema Ibadah di Gereja Disiapkan

Masuki New Normal, Skema Ibadah di Gereja Disiapkan
Ketua BNPB Doni Monardo (kiri), Ketua Majelis Sinode GPIB Pendeta Paulus Kariso Rumambi dan tim Penasihat Satgas GPIB Miranda Goeltom berdiskusi di kantor BNPB, Sabtu, 30 Mei 2020. (Foto: Dok GPIB)
Vento Saudale / WBP Minggu, 31 Mei 2020 | 09:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) mulai membuat skema peribadatan umat Kristen Protestan memasuki masa kenormalan baru atau new normal. Ke depan, gereja GPIB dapat melayani ibadah secara langsung atau daring kepada jemaat.

Ketua Umum Majelis Jemaat Sinode (MJS) GPIB Pendeta Paulus Kariso Rumambi dalam keterangannya menuturkan, skema itu telah diutarakan kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Munardo, Sabtu (30/5/2020).

Paulus menilai, istilah kenormalan baru bukan sesuatu yang baru bagi GPIB. Menurutnya, GPIB sudah mempersiapkan tatanan baru bergereja dalam kontek ibadah sejak dua tahun lalu. “Transisi ibadah versi tradisional menuju ke ibadah digital pascapandemi tidak berlangsung terlalu sulit, karena memang sejalan dengan rencana gereja,” paparnya.

Secara teknis Sekum MJS GPIB, Pendeta Marlene Joseph menjelaskan, ketika tatanan hidup masyarakat berubah berbasis digital, gereja pun secara gradual telah melakukan berbagai upaya menuju ke sana. “Ini menjadi lebih kontekstual saat kondisi pandemi memang tidak memungkinkan orang untuk bertemu langsung,” kata Marlene mengkonfirmasi, Minggu (31/5/2020).

Baca juga: Ini Aturan New Normal dari Kementerian Dalam Negeri untuk Pemda

Sejak pertengahan Maret 2020, sebanyak 326 gereja lokal dan cabang gereja lokal di bawah GPIB di 26 provinsi telah melakukan berbagai transformasi bentuk ibadah. Dari tatap muka, semua ibadah dialihkan secara daring melalui siaran langsung.

Dia menjelaskan, selain melayani ibadah secara daring GPIB juga telah membuat skema protokol pelaksanaan ibadah secara langsung. Saat ibadah dibuka pada 4 Juni nanti, umat akan diatur sekitar 25 persen dari kapasitas ruang ibadah/gereja. Selain itu, ada pembatasan usia yang bisa mengikuti ibadah yakni jemaat yang di bawah 50 tahun. Umat yang tidak tertampung akan dialihkan ke jam ibadah tambahan dan ibadah daring.

“Sinode GPIB akan menyebarkan acuan tata ibadah sesuai dengan protokol Covid-19 pekan depan. Namun, pelaksanaan secara teknis akan dikembalikan kepada kondisi atau karakteristik gereja di masing-masing daerah,” papar Marlene.

Sejak awal April 2020, GPIB telah melakukan berbagai upaya penanggulangan Covid-19 di bawah koordinasi Satuan Tugas. Berbagai kegiatan telah dilakukan termasuk pendataan umat dan pengurus gereja, program penanggulangan dampak ekonomi, program penyemprotan disinfektan kepada gedung gereja, sekolah, masjid dan pemukiman warga dan bantuan kesehatan termasuk mengadakan rapid test.

Lebih lanjut, Ketua Tim Penasihat Satgas Covid-19 GPIB Miranda Goeltom menambahkan, program-program bantuan ini dilakukan baik internal, maupun eksternal. Dalam kondisi perlambatan ekonomi secara nasional, program-program bantuan ekonomi, baik dalam bentuk natura maupun dukungan usaha, bisa membantu dalam mengatasi kemungkinan bertambahnya warga yang menerima bantuan sosial dari negara.

Hingga saat ini GPIB melalui satuan tugas pusat maupun daerah telah memberikan bantuan kepada umat yang terdampak baik dalam bentuk tunai maupun natura dan juga untuk masyarakat umum berupa sembako.

GPIB adalah gereja multikultural yang terdapat di 26 provinsi di Indonesia. Ada 326 gereja lokal dan 296 cabang gereja lokal yang berada di bawah GPIB, tersebar di kota-kota besar sampai ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).



Sumber: BeritaSatu.com