Gereja HKBP Pearaja di Tarutung Dibuka Kembali untuk Layani Jemaat

Gereja HKBP Pearaja di Tarutung Dibuka Kembali untuk Layani Jemaat
Ilustrasi normal baru. (Foto: AFP)
Arnold H Sianturi / JEM Minggu, 31 Mei 2020 | 16:07 WIB

Taput, Beritasatu.com - Setelah dua bulan ditutup karena pandemi Covid-19, acara peribadatan di pusat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pearaja di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatea Utara (Sumut), akhirnya dibuka kembali untuk melayani jemaatnya, Minggu (31/5/2020).

Bupati Taput Nikson Nababan mengatakan, rumah ibadah ini dibuka kembali sebagai "role model" untuk gereja lainnya menuju kehidupan normal baru (new normal) di kabupaten tersebut. Namun, prosesi ibadah tetap mengikuti protokol kesehatan.

"Untuk setiap jemaat yang melaksanakan ibadah di dalam gereja diwajibkan menggunakan masker, mencuci tangan menggunakan hand sanitizer, mengambil jarak dan pemeriksaan suhu tubuh sebelum memasuki gereja," ujar Nikson Nababan.

Sebelum gereja ini dibuka, pemerintah kabupaten melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, bersama TNI/Polri, melakukan penyemprotan cairan disinfektan di dalam maupun luar gereja HKBP Pearaja. Petugas juga menyediakan tempat mencuci tangan dilengkapi sabun pembersih buat jemaat di sana.

Nikson mengatakan, proses jarak untuk jemaat yang melaksanakan ibadah di dalam gereja sekitar dua meter. Upaya ini dianggap lebih memberikan kenyamanan dalam mengantisipasi kasus baru di tengah pandemi Covid-19 tersebut.

"Untuk masyarakat kita yang muslim, juga sudah bisa melaksanakan ibadah salat Jumat di masjid, 5 Juni 2020 mendatang. Kita berharap, masyarakat juga mengikuti protokol kesehatan, sehingga terhindar dari bahaya penularan virus corona," katanya.

Menurutnya, Pemkab Taput dengan berkoordinasi dengan aparat TNI, Polri, pemuka agama maupun tokoh masyarakat, untuk terus memantau perkembangan kasus Covid-19 di daerah itu. Termasuk mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti protokol kesehatan.

"Bila protokol kesehatan ini diabaikan maka tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan evaluasi kembali. Pelaksanaan new normal ini tidak jauh berbeda dengan melaksanakan pola protokol kesehatan. Masyarakat harus bisa memahami kondisi ini," sebutnya. 



Sumber: BeritaSatu.com