KPAI dan IDAI Anjurkan Anak Belajar di Rumah hingga Desember

KPAI dan IDAI Anjurkan Anak Belajar di Rumah hingga Desember
Ilustrasi sekolah diliburkan. (Foto: Antara)
Dina Fitri Anisa / IDS Minggu, 31 Mei 2020 | 17:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan anjuran agar anak-anak meneruskan sistem belajar di rumah hingga akhir tahun 2020. Anjuran ini diharapkan menjadi acuan berbagai pihak untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan berdasarkan kepentingan terbaik kesehatan dan kesejahteraan anak.

Usulan KPAI dan IDAI itu sekaligus mewakili keresahan orang tua di rumah. Hal tersebut terlihat dari hasil angket daring yang digelar KPAI dan diikuti oleh 9.643 siswa, 18.112 guru, dan 196.559 orang tua. Orang tua yang menjadi klaster terbanyak dalam pengisian survei ini, mayoritas menyatakan tak setuju jika sekolah kembali dibuka di saat pandemi belum mereda.

“Angket ini diikuti oleh orang tua dari Aceh hingga Papua Barat. Sebagian besar, sekitar 66% atau 129.000 responden menolak sekolah dibuka kembali. Ini menunjukkan bahwa mereka khawatir akan keselamatan dan kesehatan anak-anaknya ketika sekolah dibuka di masa pandemi dengan kasus Covid-19 yang masih tinggi. Terlebih belum ada persiapan memadai untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat di sekolah," kata Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Listyarti kepada SP melalui sambungan telepon, Minggu (31/5/2020).

Retno mengatakan, keputusan membuka sekolah harus dipikirkan dengan matang oleh pemerintah pusat dan daerah. Sebab, ini menyangkut keselamatan guru dan terutama keselamatan jutaan anak-anak Indonesia yang menjadi peserta didik dari PAUD sampai SMA/sederajat.

Dalam memasuki era kenormalan baru, hal paling dasar yang harus dipersiapkan oleh pemerintah adalah pemenuhan infrastruktur sesuai dengan protokol pencegahan penularan Covid-19. Jika hal ini tidak dipersiapkan dengan baik, dikhawatirkan justru bisa menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19.

“Situasi saat ini memang sangat berat dan tidak mudah. Tidak mungkin membuka sekolah dalam waktu dekat. Kami khawatir sistem kesehatan Indonesia belum mampu kalau menangani banyak anak kami yang sakit jatuh sakit nanti,” ungkap Retno.

Ia mencontohkan, dalam menerapkan kebiasaan rajin mencuci tangan, tentunya setiap kelas setidaknya harus menyediakan minimal satu wastafel atau tempat cuci tangan dan juga sabun yang cukup. Katanya, jangankan di sekolah-sekolah di daerah, di pusat kota seperti Jakarta saja, tempat cuci tangan untuk anak-anak belum memadai.

Dia juga menyinggung kapasitas daya tampung kelas di sekolah Indonesia. Berdasarkan ketentuan, 1 kelas di bangku SMA maksimal diisi oleh 36 murid, jumlah di SMP 32 orang per kelas, dan siswa SD 28 orang per kelas. Jumlah siswa dalam kelas itu dikhawatirkannya bisa menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19.

“Jangankan kita, sekarang Finlandia dengan sistem, infrastruktur, dan protokol bagus yang 1 kelas diisi 20 orang saja ada yang tertular. Bahkan malah timbul klaster baru. Kita tidak ingin mengorbankan anak-anak. Yang penting sekarang itu kesehatan dan keselamatan anak-anak. Kompetensi yang kita kedepankan adalah bertahan hidup, bukan kompetensi akademik. Jadi jangan buru-buru buka sekolah,” jelasnya.

Sementara itu, IDAI menyampaikan usulan agar sekolah membuka kegiatan belajar secara langsung pada Desember 2020. Usulan ini berdasarkan pada kondisi saat ini di mana masih terus bertambahnya jumlah kasus Covid-19. Pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) memungkinkan terjadinya lonjakan kedua.

Pembukaan sekolah bisa dipertimbangkan jika jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan. Selama sekolah masih tutup, IDAI menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar dilaksanakan lewat skema pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kegiatan belajar mengajar dari rumah tentu berdasarkan modul yang sudah disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selama belajar mengajar jarak jauh, peran aktif siswa, guru, dan orangtua tentu jadi fakor penting.

Bila suatu hari kembali dibuka, tentunya sekolah harus sudah memenuhi syarat-syarat epidemiologi. Lalu, IDAI mengimbau semua pihak bisa bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI membicarakan mengenai perencanaan pembukaan sekolah.

"Perencanaan meliputi kontrol epidemi, kesiapan sistem layanan kesehatan dan sistem surveilens kesehatan untuk mendeteksi kasus baru dan pelacakan epidemiologi," kata Ketua IDAI, dr Aman Pulungan.

IDAI juga mengimbau pemerintah untuk melakukan pemeriksaan real time PCR secara masif. Yakni 30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi Covid-19. Pemeriksaan ini juga berlaku pada usia anak.

"IDAI akan terus melakukan pemantauan situasi langsung melalui cabang-cabang IDAI dan akan terus melakukan kajian dan akan memberikan rekomendasi perkembangan situasi terkini," tutup Aman.



Sumber: BeritaSatu.com