Diplomasi Sarang Walet, Tandai Fase Baru Covid-19

Diplomasi Sarang Walet, Tandai Fase Baru Covid-19
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 , Doni Monardo bersama Dewan Pengarah sebelum rapat koordinasi, Sabtu (29/5/2020) malam. (Foto: istimewa)
Dwi Argo Santosa / DAS Senin, 1 Juni 2020 | 10:47 WIB

Jakarta. Beritasatu.com – Sebelum pemerintah mengumumkan soal pemberlakuan fase new normal, lima menteri -dua di antaranya menteri koordinator- melakukan rapat koordinasi tertutup di Markas Gugus Tugas Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Mereka adalah Menko Polhukam Mahfud MD, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, Menteri Kesehatan Terawan Dwi Putranto, Mendagri Tito Karnavian, dan Menteri Agama Fachrul Razi. Kelimanya bertemu Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, Sabtu (29/5/2020) malam.

Seperti dituturkan Tenaga Ahli BNPB yang juga anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Egy Massadiah, pada Jumat (28/5/2020) malam Presiden Jokowi memberikan intstruksi penting kepada Doni Monardo. Seusai menerima instruksi Presiden itulah Doni kemudian berkoordinasi dengan para menko dan menteri dalam kapasitas mereka sebagai Dewan Pengarah Gugus Tugas.

Sebelum rapat tertutup Kasatgas dengan Dewan Pengarah dimulai, para menko dan menteri singgah di ruang kerja Doni Monardo di lantai 10 Gedng BNPB. “Apakah ada bisik-bisik rahasia, mengingat sebuah topik penting segera dibincangkan? Hmm.... Dengan tetap menjaga jarak, Doni Monardo sebagai tuan rumah yang baik menyuguhkan minuman sarang burung walet kepada para tamunya,” demikian Egy menuturkan seperti dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/6/2020).

Doni Monardo menyendok dan membagikan sendiri suguhan itu kepada Mahfud MD, Muhadjir Effendy, Terawan, Fachrul Razi, dan Tito Karnavian. “Silakan dicicipi minuman sarang burung walet. Ini bagus untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” ujar Doni.

Doni Monardo menyajikan suguhan minuman sarang walet

Begitulah Doni Monardo yang balakangan sedang getol mengampanyekan semboyan “4 Sehat 5 Sempurna” versi baru di era Covid-19. Slogan itu terdiri dari gunakan masker; jaga jarak, physical dan social distancing; rajin mencuci tangan dengan sabun; olahraga teratur, istirahat yang cukup serta tidak panik; serta makanan yang bernutrisi. Mengonsumsi sarang burung walet, termasuk penyempurna slogan itu.

Sarang burung walet, menjadi santapan raja-raja sejak Dinasti Ming, abad ke-7 di Tiongkok. Burung ini mungil saja rupanya. Mirip burung gereja. Bedanya, burung walet bukan sembarang burung. Sangat eksklusif. Hanya berkelompok dengan sesama walet.

Kedua sayapnya sangat kokoh, sehingga bisa terbang sangat cepat dan bermanuver sangat lincah. Tidak pernah hinggap di pohon. Ia mencari mangsa serangga, lalu pulang. Rumahnya tidak di sembarang pohon, tetapi di dinding-dinding gua. Semakin lembab gua, semakin disuka.

Pola hidup bersih, serta senantiasa menjaga jarak dengan burung yang lain, selaras dengan semboyan “4 Sehat 5 Sempurna” era Covid-19 yang digulirkan Gugus Tugas.

Sarang burung walet terbuat dari air liur burung walet yang secara bertahap akan mengeras dengan sendirinya. Biasanya, burung walet bersemayam di dalam gua, sehingga liur tersebut dapat berfungsi sebagai perekat sarang ke langit-langit atau dinding teratas gua agar tidak mudah terjatuh.

Air liur burung walet ini mengandung protein, kalsium, zat besi, kalium, dan magnesium. Beberapa manfaat lain sarang burung walet, kaya asam amino penting, di antaranya asam aspartat dan prolin yang berguna untuk regenerasi sel. Sistein dan fenilalanin, untuk meningkatkan kerja memori, kerja impuls saraf, dan kerja penyerapan vitamin D dari sinar matahari.

Tak heran jika sarang walet terbilang mahal harganya. Sebelum wabah Covid-19, harga per kilogram bisa mencapai Rp 13 juta. Tetapi sejak pandemi harganya turun setengahnya, karena Tiongkok sebagai pengimpor terbesar sarang burung walet Indonesia, menghentikan sementara impornya.

Perihal minuman sarang burung walet yang disajikan malam itu, Doni mendapat kiriman dari seseorang yang mengapresiasi kerja total Gugas Tugas dalam percepatan penanganan Covid 19.

Selesai menikmati minuman sarang burung walet, dua menko dan tiga orang menteri, diiringi Ketua Gugus Tugas naik ke lantai 15, untuk menggelar rapat koordinasi terkait pemberlakuan fase new normal. Keesokan harinya, Sabtu (30/5/2020), pemeritah mengumumkannya.

Ketua Dewan Pakar Gugus Tugas Wiku Adisasmito bersama ahli epidemiologi Dewi Nur Aisyah memaparkan data-data terkait Covid-19 di Indonesia. Selanjutnya Menko Muhadjir sebagai Kepala Dewan Pengarah tampil memberi sambutan.

Lulusan S3 bidang sosiologi militer Program Doktor Universitas Airlangga ini memulai dengan kelakar, “Di sini ada dua menko sipil, tapi yang lainnya para jenderal,” ujarnya sambil menunjuk empat jenderal yang berjejer di podium depan.

Benar, selain Letjen TNI Doni Monardo sebagai Kepala Gugus Tugas, di situ hadir jenderal lain, seperti Letjen TNI (Pur) Terawan, Jenderal TNI (Pur) Fahcrul Razi, dan Jenderal Pol Tito Karnavian. Seharusnya masih ada satu jenderal lagi, tetapi berhalangan, yakni Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Letjen TNI (Pur) Hinsa Siburian.

Saat manggung di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha BNPB keesokan harinya, Doni Monardo menyampaikan data kabupaten/kota yang saat ini berada di zona hijau, untuk melaksanakan kegiatan masyarakat produktif dan aman Covid-19.

“Atas arahan Bapak Presiden, pengendalian Covid-19 harus berbasis data dan fakta di lapangan. Gugus tugas dalam mengambil keputusan selalu melibatkan para pakar, para ilmuwan, dan berpedoman pada standar internasional,” ungkap Doni Monardo, Sabtu (30/5/2020).

Kepada 102 wilayah yang masuk kategori zona hijau, Doni Monardo sangat mengharap agar tiap-tiap kabupaten/kota tersebut dapat tetap meneruskan anjuran pemerintah untuk selalu menegakkan protokol kesehatan secara ketat, penuh kehati-hatian dan tetap waspada terhadap ancaman Covid-19.

“Perhatikan pula ketentuan tentang testing yang masif, tracing yang agresif, isolasi yang ketat serta treatment yang dapat menyembuhkan pasien Covid-19,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Doni memberikan arahan kepada para bupati dan wali kota, selaku ketua Gugus Tugas tingkat kabupaten/kota, agar proses pengambilan keputusan harus melalui Forkompimda dan DPRD serta segenap komponen ‘pentaheliks’ yang meliputi pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media.

Dalam proses tersebut, Ketua Gugus Tugas berharap agar para bupati/wali kota dapat melakukan konsultasi dan koordinasi yang ketat dengan pemerintah provinsi, khususnya kepada gubernur. Proses pengambilan keputusan tersebut juga harus melalui tahapan prakondisi, yaitu edukasi, sosialisasi, kepada masyarakat, dan juga simulasi sesuai dengan sektor atau bidang yang akan dibuka.

Adapun sektor yang dimaksud adalah seperti pembukaan rumah ibadah masjid, gereja, pura, vihara. Selain itu juga pasar atau pertokoan, transportasi umum, hotel, penginapan, dan restoran, perkantoran, dan bidang-bidang lain, yang dianggap penting, namun aman dari ancaman Covid-19.

"Tahapan-tahapan sosialisasi tersebut, tentunya harus bisa dipahami, dimengerti, dan juga dipatuhi oleh masyarakat,” jelas Doni.

Lebih lanjut, Gugus Tugas Pusat meminta setiap daerah menyiapkan manajemen krisis untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Dalam hal ini, waktu dan sektor yang akan dibuka kembali, ditentukan oleh bupati dan walikota di daerah.

Apabila dalam perkembangannya, ditemukan kenaikan kasus, maka Tim Gugus Tugas tingkat kabupaten/kota bisa memutuskan untuk melakukan pengetatan atau penutupan kembali.

“Gugus Tugas Pusat bersama pemerintah provinsi, yaitu Gugus Tugas tingkat provinsi akan senantiasa memberikan informasi, pendampingan, dan evaluasi, serta arahan sesuai dengan perkembangan keadaan,”kata Doni .



Sumber: BeritaSatu.com