Pancasila Ideologi Terbaik untuk Pulih dari Pandemi Covid-19

Pancasila Ideologi Terbaik untuk Pulih dari Pandemi Covid-19
2019 - Gubernur Lemhannas RI Jenderal (Purn.) Agus Widjojo saat memberikan sambutan pada acara Seminar Nasional di Jakarta, Jumat (20/9/2019). (Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono)
Ari Supriyanti Rikin / IDS Senin, 1 Juni 2020 | 20:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pancasila menjadi ideologi terbaik bangsa Indonesia menghadapi badai pandemi Covid-19. Nilai gotong royong dan kebersamaan menjadi pijakan ketahanan nasional sebagai aset bangsa untuk segera memulihkan bangsa dari ancaman pandemi Covid-19.

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo mengatakan, tidak banyak negara yang memiliki falsafah hidup seperti Indonesia yakni Pancasila.

"Pancasila menjadi kaidah pemerintah dalam menghadapi keadaan darurat pandemi Covid-19," katanya dalam video yang ditayangkan dalam telekonferensi di Kantor BNPB, Jakarta, Senin (1/6/2020).

Agus meyakini, bangsa ini akan bisa mengatasi Covid-19 jika mengejawantahkan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pandemi ini, kata dia, tidak hanya menyerang Indonesia tapi juga berbagai dunia tidak terkecuali negara-negara besar, industri maju, dan negara dengan sistem politik yang beragam seperti sosialis di Vietnam, komunis di Tiongkok, dan demokrasi liberal di Amerika Serikat.

"Suatu bangsa dituntut menunjukkan ideologi terbaik bangsanya untuk dapat mengatasi Covid-19," ucapnya.

Nilai kearifan lokal dalam Pancasila juga tercermin dalam arahan pemerintah agar masyarakat tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan bersama. Pemerintah juga telah menetapkan arahan untuk masyarakat tetap di rumah, tidak mudik, dan menghindari kerumunan untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Masyarakat juga tambah Agus, diajak untuk tidak melupakan jasa tenaga medis yang melampaui batas panggilan tugasnya dan mengorbankan jiwa raganya. Penghormatan kepada tenaga medis atas pengabdian yang mengharukan harus diberikan.

Di sisi lain, masyarakat juga bisa berkontribusi menjaga kebersihan, tinggal di rumah dan menghindari kerumunan.

"Kalau bosan tinggal di rumah, tinggal cari alternatifnya dan apabila tertular Covid-19, tinggal di rumah sakit dengan segala tindakan perawatan yang jauh dari nyaman dibanding tinggal di rumah," imbuhnya.

Tinggal di rumah sakit, lanjut Agus, ada kemungkinan seseorang tidak akan kembali ke rumah.

Proses mengusir Covid-19 memang tidak mudah. Penyakit ini tidak akan hidup 1-3 bulan saja tetapi bisa 1-2 tahun. Agus mengimbau masyarakat harus siap hidup berdampingan dengan Covid-19 bahkan pada era pasca puncak pandemi.

"Kita tidak dapat hidup kembali seperti kehidupan masa lalu. Tetapi harus menerapkan pola hidup bersih dan sehat, pakai masker dan tidak bersentuhan," ucapnya.

Kebijakan dan upaya pemerintah berupa pembatasan sosial berskala besar, isolasi lokal, larangan mudik, bantuan sosial sembako dan tunai tidak akan ada artinya tanpa didukung komitmen masyarakat memutus rantai penularan Covid-19.

Di Hari Kelahiran Pancasila tambah Agus, masyarakat diajak kembali membangun ketahanan bersama berupa gotong royong yang menjadi nilai inti Pancasila. Ketahanan nasional akan membawa bangsa ini pulih dari ancaman pandemi Covid-19.



Sumber: BeritaSatu.com