Tatanan Normal Baru Dinilai Menjadi Jalan Tengah

Tatanan Normal Baru Dinilai Menjadi Jalan Tengah
Ilustrasi Covid-19. (Foto: AFP)
Carlos KY Paath / YS Selasa, 2 Juni 2020 | 17:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tatanan normal baru atau new normal dapat menjadi jalan tengah rezim kesehatan dan ekonomi. Melalui new normal semua pihak akan melakukan penyesuaian. Demikian diungkap Ketua Dewan Pakar Indonesia Maju Institut (IMI), Lukman Edy, Selasa (2/6/2020).

"New normal hadir sebagai kebijakan jalan tengah yang menjembatani dua arus besar rezim ini (kesehatan dan ekonomi). Dengan adanya kebijakan new normal ini, masing-masing pihak harus menyesuaikan, menetapkan basis dasar asumsi kebijakan dan target pencapaian yang baru. Masyarakat pun juga begitu," kata Lukman.

Menurut Lukman, ketika kegelisahan sosial telah memuncak akibat tak kuat menahan beban sosial dan ekonomi muncul pertanyaan hal paling diutamakan yaitu kesehatan atau ekonomi.

"Persis seperti buah simalakama. Mengejar penanggulangan Covid-19 semata akan kebobolan ekonominya, membuka keran sektor perekonomian semata juga akan kebobolan kesehatan masyarakatnya, bahkan upaya penanggulangan Covid-19 selama ini bisa sia-sia. Sementara belum juga ada tanda-tanda berakhirnya pandemi ini; bahkan ada yang menyatakan virus corona-nya telah bermutasi sampai gen D saat ini," tutur Lukman.

Masing-masing pilihan, Lukman menyatakan, membawa konsekuensi yang tidak ringan. Sebab sangat erat kaitannya dengan nyawa manusia dan segala konsekuensinya yang pada titik ekstrimnya sama-sama tidak mengenakkan.

"Anda bisa bayangkan, memperpanjang bekerja dari rumah berpotensi mengakibatkan orang mati kelaparan. Memang ada gerakan sosial membantu tetangga atau bansos (bantuan sosial), tapi seberapa kuat bertahan lama? sedangkan membuka kembali aktifitas ekonomi mengakibatkan korban pandemi bergelimpangan," kata Lukman.

Sementara itu setiap instansi berpaku pada pilihan solusi masing-masing. Meyakini bahwa solusi yang dipilihlah yang paling baik. Ibaratnya, masing-masing telah memiliki rezim dan jalan pikirannya sendiri.

"Bagi rezim kesehatan, kerja dari rumah adalah pilihan terbaik. mereka mendesak pemerintah agar semakin ketat memberlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), karena ketidakpatuhan warga di beberapa daerah telah menyebabkan naiknya angka korban terpapar, padahal jumlah tim medis makin terbatas lantaran sebagian sudah meninggal dunia akibat pandemi ini juga," ungkap Lukman.



Sumber: Suara Pembaruan