Kabupaten Pidie Siap dalam Penanggulangan Perubahan Iklim

Kabupaten Pidie Siap dalam Penanggulangan Perubahan Iklim
Bupati Pidie, Aceh, Roni Ahmad (kiri) mendorong penggunaan dana desa di wilayahnya yang berbasis pelestarian hutan dan alam untuk menyiapkan diri menghadapi krisis perubahan iklim. (Foto: Istimewa)
Jeis Montesori / JEM Selasa, 2 Juni 2020 | 20:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bupati Pidie, Aceh, Roni Ahmad mengatakan, daerahnya sudah siap menghadapi perubahan iklim yang terjadi karena dampak dari kerusakan ekologi secara global.

Kesiapan itu, kata Roni, mulai dari sisi kepemimpinan daerah, regulasi, penggunaan dana desa untuk lingkungan hidup, dan juga masyarakatnya yang semakin memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menjaga hutan dan alam.

“Saat ini kami terus berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang betapa pentingnya sumber alam, baik hutan maupun air untuk kehidupan masa depan,” katanya, Selasa (2/6).

Dikatakan, kearifan lokal dan bersahabat dengan alam akan berdampak positif bagi keberlangsungan alam dan ini modal penting menghadapi perubahan iklim.

Menghadapi perubahan iklim, terutama menjelang musim kemarau dan kebarakan hutan, Pemkab Pidie telah membangun akses jalan di wilayah hutan dan pegunungan untuk memudahkan jalur bagi petugas saat menanggulangi kemungkinan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pidie sendiri telah lama menjadi contoh dalam pengelolaan lingkungan hidup yang didukung oleh dana desa dalam mengelola lingkungan menghadapi perubahan iklim.

Di masa kepemimpinan Roni Ahmad, Pidie merintis inovasi penanggulangan perubahan iklim melalui Peraturan Bupati (Perbup) Pidie No 12/2018. Regulasi ini mengatur tentang prioritas penggunaan dana desa yang berbasis gampong (permukiman masyarakat adat Aceh). Pidie pun menjadi kabupaten pertama satunya di Indonesia yang mengatur distribusi dana desa berbasis gampong bagi kegiatan perlindungan lingkungan dan hutan

Roni mengatakan, dengan regulasi itu maka upaya perlindungan hutan yang menjadi sumber kehidupan masyaraat di Pidie terus membaik. "Hutan telah memberikan kami kehidupan, memberi kami oksigen, air, dan makanan," katanya.

Disebutkan, 67% dari 487 desa di Pidie berada di sekitar kawasan hutan. “Karena itu, penggunaan dana desa untuk melindungi hutan di sekitarnya adalah prioritas yang tepat,” katanya.

Roni mengatakan, krisis lingkungan global terutama bencana iklim dan kerusakan ekologis karena ulah manusia dan juga karena faktor alam sedang mengancam keselamatan makhluk hidup. Salah satu perubahan iklim itu adalah terkait dengan peningkatan suhu bumi.

“Ancaman pemanasan global begitu mengerikan, bukan hanya cuaca yang kian panas yang membuat manusia tidak nyaman. Tetapi bisa terjadi kekurangan pangan sehat atau sumber makanan pokok yang sudah terkontaminasi bahan kimia (pestisida). Maka tidak ada pilihan lain sekarang ini, selain menyelamatkan dunia dan manusia dari dampak yang mematikan itu,” ujar Roni.

Terkait itu, Pemkab Pidie benar-benar fokus dalam kebijakan strategis upaya pengendalian perubahan iklim, terutama yang bersumber dari hutan dan lahan.

“Pemkab Pidie berkomitmen kuat mengimplementasikan kebijakan pengelolaan lingkungan yang mengedepankan proses alami dan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas, dengan dilandasi prinsip keadilan lingkungan dan penekanan pada konsep mengembalikan keseimbangan alam,” ujarnya. 



Sumber: BeritaSatu.com