Sekum Muhammadiyah Harap Pemerintah Tak Buru-buru soal Normal Baru di Tempat Ibadah

Sekum Muhammadiyah Harap Pemerintah Tak Buru-buru soal Normal Baru di Tempat Ibadah
Umat muslim melaksanakan Salat Idulfitri 1441 Hijriah berjemaah di Masjid Nurul Hidayah, Jambi, Minggu (24/5/2020). Pengurus masjid memberlakukan pembatasan jarak antar-saf dan imbauan mengenakan masker serta membawa perlengkapan shalat sendiri guna mengantisipasi penyebaran Covid-19. (Foto: ANTARA FOTO / Wahdi Septiawan)
Markus Junianto Sihaloho / JAS Rabu, 3 Juni 2020 | 21:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti menyatakan pihaknya mengingatkan pemerintah agar jangan terburu-buru menerbitkan peraturan normalisasi kegiatan ibadah di masjid dalam rangka normal baru (new normal) yang sedang diwacanakan.

Hal itu disampaikan Mu'ti menjawab pertanyaan soal pandangan PP Muhammadiyah soal rencana pelonggaran sosial dan ekonomi khususnya menyangkut ibadah di masjid.

Kata Mu'ti, secara resmi Muhammadiyah menyampaikan bahwa sekarang ini terlalu terburu-buru kalau tempat-tempat umum dibuka secara bebas.

"Jadi Muhammadiyah sejak awal menyampaikan agar konsep mengenai relaksasi, konsep mengenai new normal dan berbagai pernyataan yang disampaikan para pejabat, disampaikan secara jelas kepada masyarakat sehingga tidak menimbulkan kegelisahan dan salah paham," kata Mu'ti usai bertemu dengan Tim Satgas Covid-19 DPR yang dipimpin Sufmi Dasco Ahmad, Rabu (3/6/2020).

Muhammadiyah juga belum menerbitkan maklumat ibadah dalam era sekarang ini, alias masih menggunakan maklumat yang lama. Yakni yang diterbitkan sebelum Idulfitri lalu.

Mu'ti mengatakan pihaknya akan segera melaksanakan rapat pleno untuk membicarakan panduan ibadah terbaru ketika ada kebijakan baru dari pemerintah.

Diakuinya, memang ada beberapa perkembangan yang harus diapresiasi di daerah-daerah tertentu, yang pada masa terdahulu dinyatakan zona merah namun kini sudah berubah menjadi zona hijau.

"Kami mengapresiasikan berbagai langkah yang telah dilakukan semua pihak. Tapi yang saya kira yang sangat penting adalah pemenuhan protokol Covid-19 harus berjalan sebagaimana mestinya. Jadi pelonggaran, tapi protokol kesehatan seperti physical distancing dan cuci tangan dijalankan," ulasnya.

Dipastikan oleh Mu'ti, Muhammadiyah akan sangat berhati-hati dalam menyiapkan sikap mengenai rencana kebijakan baru tersebut. Semua aspek akan diperimbangkan secara seksama dan akan berbasis juga dengan data kondisi di lapangan.

"Saya sering mengatakan kalau kita ini semua ambyur, euforia new normal, maka semua bisa ambyar akan kembali ke titik nol. Jadi jangan ambyur karena nanti akan ambyar," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com