Nadiem Apresiasi Perjuangan Guru Penggerak Hadapi Pandemi

Nadiem Apresiasi Perjuangan Guru Penggerak Hadapi Pandemi
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim ketika berbincang dengan Guru SDK Kaenbaun Maria dan Guru SMP Islam Baitul Izzah Nganjuk Santi. (Foto: Dok)
Jayanty Nada Shofa / JNS Kamis, 4 Juni 2020 | 10:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mengajar di tengah pandemi Covid-19 memiliki berbagai tantangan tersendiri. Namun, hal ini tidak mematahkan semangat guru untuk terus memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.

Baca juga: Ini Syarat dan Ketentuan Lomba Menulis Surat untuk Nadiem

Semangat mengajar ini tercermin pada 6.689 surat inspiratif yang diterima oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Berbagai cara mereka lakukan untuk memastikan ilmu tersalurkan dengan baik saat pandemi.

Menyiasati Keterbatasan Teknologi

Salah satu pengirim surat inspiratif adalah Maria Yosephina Morukh, guru SDK Kaenbaun di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Maria menceritakan banyak siswa di daerahnya yang mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran daring. Sebab, orang tua mereka tidak memiliki smartphone Android. Siaran televisi untuk mengikuti program belajar dari rumah pun sulit terjangkau.

Untuk menyiasati minimnya sarana teknologi, Maria rela mengunjungi rumah siswanya setiap hari dengan motor. Bahkan, jarak antar rumah siswa terpantau cukup jauh.

“Saya selalu membuatkan jadwal untuk mengunjungi lima siswa dalam satu hari untuk memberikan tugas. Ketika saya berkunjung, saya lihat anak-anak tetap antusias mengerjakan tugasnya,” ungkap Maria ketika berkesempatan berbicara langsung pada Nadiem, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, dukungan penuh dari orang tua terhadap pendidikan anak ada. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga menghambat pemenuhan sarana pendidikan daring.

Kepada Nadiem, Maria berpesan agar pemerintah memperhatikan kesenjangan teknologi ini khususnya di bidang pendidikan.

Keliling Dunia dengan Google Earth

Situasi pengajaran yang berbeda dialami oleh Santi Kusuma Dewi selaku guru Bahasa Inggris di SMP Islam Baitul Izzah, Nganjuk, Jawa Timur.

Dirinya berkesempatan memanfaatkan teknologi agar kegiatan belajar tidak monoton. Salah satunya adalah dengan mengajak anak didiknya keliling dunia dengan Google Earth.

Santi pun mengapresiasi Kemdikbud yang terus mendorong guru agar melek teknologi.

"Saya bahagia melihat teman sejawat yang sebelumnya hanya berpedoman pada buku pegangan guru kini mulai mempelajari platform pembelajaran daring," jelasnya.

Lebih lanjut, Santi berharap Kemdikbud mempertimbangkan kembali tidak wajibnya mata pelajaran Bahasa Inggris.

Belajar bahasa Inggris, ungkap Santi, tidak ada kaitannya dengan menghilangkan nasionalisme. Melainkan, kemampuan berbahasa Inggris dapat membuka akses bagi mereka untuk belajar lebih banyak hal melalui internet.

Tak hanya itu, ia berpesan agar Mendikbud terus berupaya peningkatan kualitas tenaga pendidik. Pasalnya, kualitas guru dapat menentukan kesiapan siswa dalam menghadapi era globalisasi.

"Saya mengistilahkan diri saya atau guru sebagai penjual mimpi. Anak-anak harus membayar saya dengan tiga hal yaitu kedisiplinan, tanggung jawab dan kerja keras," pungkas Santi.

Cerminkan Guru Penggerak
Berkaca dari perjuangan mereka, Nadiem menggambarkan Maria dan Santi sebagai guru penggerak yakni sosok yang mengutamakan murid dan inisiatif berinovasi ketika mengajar.

“Tanpa kami harus melakukan assessment, dari passion dan jawabannya, kami tahu Anda adalah guru penggerak yang kami harapkan untuk negara kita,” puji mantan CEO Gojek ini.

Nadiem kemudian mengajak agar para guru memetik hikmah dari pandemi Covid-19.

"Jangan sampai kita keluar dari krisis ini tanpa membawa bekal atau hikmah dari pembelajaran ini. Karena dari suatu kesulitan,itulah adalah akar dari pembelajaran yang terpenting di hidup kita," tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com