Polisi Telusuri Medsos Penyerang Polsek

Polisi Telusuri Medsos Penyerang Polsek
Barang bukti pengungkapan kasus terorisme. (Foto: Antara)
Farouk Arnaz / WM Kamis, 4 Juni 2020 | 16:55 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com — Polisi terus menyelidiki latar belakang pelaku penyerang Polsek Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Senin (1/6/2020) pukul 02.15 WITA dini hari kemarin.

“Sepertinya memang pelaku lone wolf tapi masih dilselidki media sosialnya. Hampir tidak mungkin (meski beraksi sendiri) pelaku terinspirasi sendiri dari internet,” kata seorang yang mengetahui kasus ini pada Beritasatu.com Kamis (4/6/2020).

Sebelumnya polisi menyebut pelaku adalah lone wolf. Dia mempelajari pengetahuan itu dari internet, belajar sendiri, membaca sendiri, dan memprediksi sendiri. Dia adalah jaringan tunggal.

Sepertti diberitakan di hari lahir Pancasila 1 Juni, Brigadir Leonardo Latipapua yang berada di ruang SPKT Polsek menjadi sasaran pelaku. Korban yang kini naik pangkat setingkat lebih tinggi ditemukan tewas dengan luka bacokan samurai.

Berdasarkan kronologis, pada saat kejadian ada tiga anggota jaga SPKT Polsek Daha Selatan yang melaksanakan piket jaga malam.

Mereka adalah mendiang Leonardo (Ka SPKT III), Brigadir Djoman Sahat Manik Raja, dan Bripda M Azmi. Sekitar pukul 02.15 WITA Bripda Azmi mendengar keributan di ruang SPKT.

Pada saat kejadian dia berada di ruangan unit Reskrim. Kemudian Bripda Azmi mendatangi ruangan SPKT dan melihat korban mengalami luka bacok.

Azmi lalu mendatangi Kanit Intel Brigadir Sahat untuk minta tolong dan bersama-sama mendatangi ruang SPKT. Disini pelaku sempat mengejar keduanya dengan sajam jenis samurai.

Sahat, yang juga terkena sabetan, meminta pelaku untuk menyerah namun dia tidak mau menyerah sehingga dilakukan tindakan tegas dengan menembak pelaku.

Pelaku sempat dibawa ke RSUD Hasan Basry Kandangan namun akhirnya tewas. Dalam surat yang dia tulis, dia menyebut aksinya sebagai jihad memerangi toghut.

 



Sumber: BeritaSatu.com