Besarnya Peran Guru dalam Pembentukan SDM Unggul

Besarnya Peran Guru dalam Pembentukan SDM Unggul
Ilustrasi belajar mengajar di sekolah. (Foto: Antara)
Jayanty Nada Shofa / JNS Sabtu, 6 Juni 2020 | 07:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pembentukan penerus bangsa yang berdaya saing telah lama menjadi impian pemerintah. Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak lama ini kembali menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang unggul melalui adaptasi pendidikan.

Baca juga: Jokowi Ingin Tiru Empat Negara Ini dalam Pembentukan SDM Unggul

Adapun kebijakan Merdeka Belajar menjadi langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam membentuk SDM. Merdeka Belajar memberikan kebebasan bagi sekolah, guru maupun siswa untuk berinovasi guna meningkatkan kualitas hasil pembelajaran.

Penekanan pada inovasi ini dianggap sebagai angin segar bagi pendidikan. Sebab, ekosistem pendidikan Indonesia telah lama terbelenggu oleh budaya kepatuhan yang fokus pada pemenuhan regulasi secara formal.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemdikbud Iwan Syahril pada halaman opini Harian Kompas.

“Budaya kepatuhan ini perlu ditransformasi menjadi budaya inovasi dengan kualitas belajar murid sebagai tujuan utama setiap pemangku kepentingan,” ungkap Iwan.

Persoalan pendidikan lainnya adalah kualitas mengajar guru yang telah mengantongi sertifikat pendidik.

“Sayangnya, dari berbagai studi empiris, kepemilikan sertifikat pendidik tidak menjadi jaminan kualitas kinerja guru di Indonesia,” ujar Iwan.

Hal ini dikonfirmasi pada hasil riset Trends in International Mathematics and Science study (TIMMS) 2015. Ditemukan tidak ada perbedaan praktik mengajar dan hasil belajar siswa antara guru yang bersertifikasi dan yang belum.

“Malah, guru-guru bersertifikasi cenderung menggunakan pendekatan yang berpusat pada guru,” jelasnya.

Lebih lanjut, Iwan menyatakan sekolah menjadi unit inovasi paling utama dalam membawa perubahan pendidikan.

Inovasi ini berawal dari guru penggerak yang memahami pembelajaran yang berpusat pada murid. Kemudian, mereka didorong untuk menjadi pemimpin sekolah.

Menurut Iwan, pemilihan pemimpin sekolah adalah salah satu keputusan terpenting dalam sistem pendidikan.

Sebab, kepala sekolah memiliki peran sebagai instructional leader yang terus mendorong guru lainnya untuk berinovasi. Misalnya, dengan mendukung penciptaan suasana kelas yang lebih bersifat diskusi, sehingga mendorong keterlibatan siswa.

Baca juga: Guru Penggerak Dongkrak Keterlibatan Siswa di Kelas

“Secara sosiokultural, Indonesia masih sangat dipengaruhi budaya feodal. Perubahan dalam budaya ini akan terjadi lebih cepat dan sukses jika pemimpinnya adalah pemimpin yang transformatif,” jelas Iwan.

Dirinya pun berharap sekolah yang telah menerapkan instructional leadership ini dapat menjadi sekolah penggerak. Yakni katalis bagi transformasi sekolah lainnya untuk menerapkan model pembelajaran serupa.

Transformasi pendidikan ini, lanjutnya, juga harus disertai dengan dukungan komunitas dan organisasi masyarakat.

Baca juga: Kemdikbud Paparkan Empat Komponen Sekolah Penggerak

Di saat yang sama, Iwan menaruh perhatian pada persoalan kesejahteraan guru.

“Upaya peningkatan kualitas guru dan pemimpin sekolah haruslah berpijak pada prinsip bahwa semua guru yang mengabdi harus mendapatkan penghasilan yang layak. Tidak boleh ada guru yang mendapat gaji di bawah standar minimum yang layak,” pungkasnya.

Untuk itu, Kemdikbud, ungkap Iwan, perlu melakukan dialog intensif lintas kementerian untuk mencari solusi efektif untuk menjamin kesejahteraan semua guru.

“Guru adalah sebuah profesi yang mulia dan terhormat. Status sosial ekonomi guru semestinya sama dengan profesional lain karena peran guru sangat penting dalam pembangunan bangsa,” tutup Iwan.



Sumber: BeritaSatu.com