Patriot Covid-19 dari Ranah Minang

Patriot Covid-19 dari Ranah Minang
Dr dr Andani Eka Putra MSc (Foto: Istimewa)
Aditya L Djono / ALD Minggu, 7 Juni 2020 | 11:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Selama bangsa Indonesia berperang menghadapi wabah Covid-19, tak terhitung banyaknya sosok yang menjadi pejuang di garda terdepan maupun benteng terakhir, mencegah masyarakat terinfeksi dan berjuang menyembuhkan mereka yang terpapar virus corona. Mulai dari dokter, perawat, tenaga kesehatan, staf rumah sakit, relawan, hingga prajurit TNI dan Polri yang mencurahkan tenaga dan waktunya dalam peperangan besar menghadapi Covid-19.

Tak ketinggalan adalah petugas di laboratorium yang tiap hari bergelut memeriksa ribuan spesimen. Salah satunya adalah Dr dr Andani Eka Putra, MSc. “Kalau belum kenal, banyak yang mengira saya perempuan, karena nama depan saya,” ujar Andani, mengawali percakapan via telepon, Sabtu (6/6/2020) malam.

Di Sumatera Barat, dokter berkaca mata minus dan berkumis ini bukanlah nama yang asing. Selain sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang, juga menjabat Direksi RS Universitas Unand. Dia juga menyandang jabatan sebagai kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand.

Andani banyak berkecimpung di ranah virus, mulai dari rotavirus, hepatitis, HIV dan lain-lain. “Alhasil, ketika virus corona menyerang, saya tidak mungkin berpangku tangan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari keterangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Dengan sepasukan pekerja laboratorium yang berstatus mahasiswa, Andani menorehkan prestasi, dalam hal kapasitas pemeriksaan sampel darah untuk mendeteksi Covid-19. Ketika laboratorium lain hanya bisa menyelesaikan pemeriksaan 100 hingga 200 sampel per hari, laboratorium FK Unand rata-rarta bisa menyelesaikan 800 sampel.

“Angka tertinggi mencapai 1.570 sampel dalam satu hari selesai,” ujar lulusan FK Unand tahun 1996 itu.

Laboratorium Pribadi
Bagaimana Andani bisa bekerja dengan hasil yang begitu fantastis, bahkan melampaui pencapaian hasil tiga laboratorium besar di Indonesia yang dimiliki Kementerian Kesehatan, Pemprov DKI Jakarta, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman?

“Laboratorium yang kami pakai, awalnya adalah laboratorium riset milik saya pribadi. Hampir semua barang dan peralatan laboratorium milik saya. Sebagian saya beli sendiri, sebagian pengadaan hasil kerja sama dengan perusahaan untuk sebuah pengembangan produk,” tuturnya.

Ketika virus corona mulai masuk Indonesia, dia pun bersiap terlibat di dalamnya. Untuk membantu pemeriksaan di laboratorium, dia meminta kesediaan para mahasiswa FK Unand, baik yang S1 maupun S2. “Alhamdulillah, mereka bersedia. Meski dari sorot matanya, saya bisa membaca binar-binar cemas, bahkan takut,” kata lulusan master Kedokteran Tropis UGM Yogyakarta tahun 2009 itu.

Untuk keperluan pemeriksaan sampel Covid-19, Andani diberi tempat lebih luas oleh Dekan FK Unand. Sementara, Rektor Unand pun mendukung dan memberi bantuan untuk memperbaiki ruangan labotatorium. Izin lab turun tanggal 19 Maret 2020, dan pertama kali pemeriksaan sampel Covid-19 tanggal 25 Maret 2020.

Saat awal menerima sampel darah, para pekerja lab dadakan tadi tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dan ketakutannya. Bahkan Andani menjumpai, ada beberapa yang sampai menangis. Andani memakluminya. Spontan, ia menjelaskan cara kerjanya dan turun tangan mengerjakannya. Memulai pemeriksaan sampel darah dan memberi contoh.

Lama-lama, para mahasiswa mulai terbiasa. Bahkan Andani memuji loyalitas mereka yang sangat tinggi. Dia bahkan memasang target bisa memeriksa 300 sampel per hari. “Sama seperti di bidang lain, maka laboratorium juga akan berjalan bagus kalau pemimpinnya strong,” kata doktor lulusan UGM Yogyakarta tahun 2016 itu

Tak lupa, Andani mengisahkan riwayat labotatorium miliknya. Sebelum digunakan untuk memeriksa virus corona, semua peralatan lab dihibahkan ke FK Unand. Jika dirupiahkan, tak kurang dari Rp 2 miliar. “Saya hibahkan semua ke fakultas dengan harapan bisa lebih produktif,” tambah dokter yang mengaku memiliki passion di bidang riset itu.

Dalam proses, datanglah bantuan alat PCR (Polymerase Chain Reaction) dari wali kota Padang. Juga bantuan lain dari Pemprov Sumatera Barat, dan banyak pihak lain yang mendukung. Untuk mempercepat pemeriksaan sampel serta meningkatkan kapasitas, Andani pun mengajukan permohonan pengadaan mesin ekstraksi.

“Di luar dugaan. Dari target 300 sampel per hari, saat itu kami sudah bisa menyelesaikan 700 sampai 800 sampel per hari. Maka, jika kami dilengkapi mesin ekstraksi hasilnya bisa 1.500 sampel per hari,” kata Andani.

Apa yang terjadi? Selagi permohonannya diproses, Andani dan anak buahnya sudah berhasil menyentuh hasil pemeriksaan 1.500 sampel per hari. “Itu karena kami bekerja 22 jam sehari. Mulai bekerja habis subuh pukul 05.30 dan baru selesai pukul 03.30 setiap hari,” kisahnya.

Ketika mesin ekstraksi datang, labotatorium FK Unand bisa menyelesaikan 2.500 sampel per hari. “Sampai hari ini, tidak ada satu pun labotatorium di Indonesia yang bisa melampaui hasil 1.100 per hari. Baik laboratorium Litbang Kemenkeas, Litbangkes DKI Jakarta, dan LBM Eijkman. Sebab, di luar laboratorium kami di FK Unand, ya tiga itu saja yang terbilang besar,” katanya. Dia pun telah melaporkan hasil kerjanya kepada Ketua Gugas Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letjen Doni Monardo beberapa hari lalu.

Sampai di titik ini, kita menangkap adanya kesamaan frekuensi antara Andani Eka Putra dengan Letjen TNI Doni Monardo. Bukan karena keduanya sama-sama berdarah Minang, tetapi ada satu benang merah di antara keduanya: sama-sama militan dan spartan.

Andani dan timnya rela tinggal di laboratorium di Kompleks FK Unand kawasan Limau Manis, Pauh, Padang

Totalitas bekerja Andani dan timnya, adalah wujud nasionalisme tertinggi. Seperti yang ia kemukakan, bahwa sejak awal kepada anggota lab, Andani sudah tegas mengatakan bahwa yang mereka kerjakan semata-mata untuk bangsa dan negara, atas nama kemanusiaan.

Tidak peduli soal honor, bahkan tidak peduli bagaimana mereka bisa hidup sehari-hari. “Bahkan, untuk makan sehari-hari kami dibantu oleh para donatur. Selalu saya tekankan, bekerjalah dengan ikhlas. Ada atau tidak ada imbalan, jangan sekali-kali dipikirkan. Ini saatnya berjuang,” tegas Andani.

Membantu Daerah Lain
Kini, mereka bahkan tidak saja bisa bekerja untuk Sumatera Barat, tetapi juga bisa membantu daerah-daerah lain. Surabaya yang sedang diguncang besarnya angka korban yang terpapar, pun mendapat tawaran untuk memeriksakan sampelnya ke Padang.

Sebelumnya, ia sudah membantu permintaan tolong pemeriksaan sampel Covid-19 dari Palembang, Kabupaten Sambas Kalbar Bengkulu, dan beberapa daerah lain.

Tanpa disadari, hadirnya Andani dan tim laboratoriumnya, melahirkan satu pola penanganan Covid-19 tersendiri, yang bisa ditiru bahkan diterapkan di daerah lain. Sebagai contoh, statistik nasional, pasien positif yang dirawat di RS sebesar 66%. Sedangkan di Sumatera Barat, persentase yang dirawat di RS hanya 16%. “Nasional terjebak pada pemeriksaan PDP sedangkan kita langsung ke OTG (orang tanpa gejala),” katanya.

Tentang itu, Andani punya analogi yang menarik, yakni mana lebih baik, menangkap harimau di dalam kandang atau menangkap harimau yang berkeliaran di rimba. OTG ibarat harimau yang berkeliaran dan bisa memangsa siapa saja. “Jelas lebih baik menangkap harimau di rimba, kan?” jawabnya.

Ia menambahkan, yang dilakukan adalah pemeriksaan PCR, bukan rapid test. “Sudahlah, kalau boleh saran, tinggalkan pola rapid test, yang bahkan WHO sendiri tidak merekomendasikannya,” tandas Andani.

Ada contoh nyata. Dua hari lalu (4/6/2020), seseorang lolos dari rapid test di bandara Soekarno Hatta menuju Padang. Di Bandara Internasional Minangkabau, dilakukan test PCR dan hasilnya positif. Sebelumnya lagi, kami memeriksa 20 anggota Polri yang sudah rapid test dan negatif, hasilnya dua di antaranya ternyata positif. “Berhati-hatilah dengan rapid test,” tandasnya.

Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan kapasitas laboratorium. Sebab, hanya dengan cara itu bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19. “Perang sesungguhnya itu ya di pasar-pasar, di stasiun-stasiun, di terminal-terminal, di kantor-kantor, bahkan di rumah-rumah penduduk. Bukan di rumah sakit. Rumah sakit itu benteng terakhir untuk mencegah dan mengurangi angka kematian,” papar Andani.

Karenanya, Andani prihatin ketika koleganya sesama dokter di Jakarta bercerita, bahwa ketika ada pasien masuk, yang dirawat hanya pasien, sementara keluarganya tidak diperiksa. “Ini terjadi karena memang kapasitas labotarotium di Jakarta juga terbatas,” ujarnya.

Apa yang Andani kerjakan di Sumatera Barat sudah menunjukkan indikator positif. Dengan kapasitas laboratorium yang ada, jumlah tes PCR yang dilakukan mencapai 0,43% dari jumlah penduduk Sumbar yang dilakukan tes PCR. Bandingkan dengan angka nasional yang masih 0,08%.

“Kami telah memeriksa 24.000 penduduk dari 5 juta penduduk, sekitar 0,43%. Sementara di Korea Selatan, 1,3%. Setidaknya di Indonesia, Sumbar adalah yang tertinggi. Harusnya semua provinsi berlomba-lomba memperbanyak jumlah pendduk yang dites,” katanya.

Mengingat belum ditemukannya vaksin, dan belum adanya kepastian kapan Covid-19 akan hilang, maka Andani pun belum akan berhenti. Ia masih akan memacu diri dan timnya untuk bekerja ekstra keras memeprbanyak kapasitas. Bahkan, jika diberi perlengkapan tambahan, dia optimistis mampu menyelesaikan pemeriksaan hingga 4.000 sampel par hari.

“Toh lab ini tidak akan hilang peran, meski misalnya, corona sudah hilang. Lab ini akan selalu ada dan bermanfaat ke depan,” imbuhnya.

Kunci Sukses
Berbicara kunci suksesnya mengembangkan laboratorium Covid-19 di Sumbar, Andani menyebut adanya tiga kunci. Pertama, berkat dukungan Gubernur Sumatera Barat, serta dukungan berbagai pihak. Ini terkait dengan posisinya di Unand dan pengalamannya sebagai direksi RS Unand.

Kedua, nasionalisme. Ia dan tim bekerja untuk bangsa dan negara.

Ketiga, inovasi. Andani mengembangkan inovasi pemeriksaan sampel yang disebut pool test. “Tapi untuk menghindari kesalahpahaman, persoalan pool test harus dikupas dalam satu penjelasan tersendiri,” katanya.

Apakah dengan demikian Sumatera Barat sudah siap untuk memasuki fase new normal? Dengan jujur Andani mengatakan, belum ada satu daerah pun di Indonesia yang bisa mengatakan aman seratus persen.

Akan tetapi, melihat perkembangan yang ada, Sumbar relatif menjadi salah satu daerah yang paling siap memasuki fase new normal. Bahkan, Sumbar sudah berani mempromosikan pariwisata. Tamu hotel akan mendapatkan voucher untuk tes swab secara gratis.



Sumber: BeritaSatu.com