Terduga Teroris Mempawah Terinspirasi Penyerangan Polsek Daha, Kalbar

Terduga Teroris Mempawah Terinspirasi Penyerangan Polsek Daha, Kalbar
Ilustrasi terduga teroris. (Foto: Antara)
Farouk Arnaz / JEM Minggu, 7 Juni 2020 | 14:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Terduga teroris yang ditangkap di sebuah depot pengisian air minum, Jalan Raya Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar) dipastikan tidak terkait dengan pelaku penyerang Polsek Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Namun pemuda 21 tahun berinisial AR yang dibekuk pada Jumat (5/6/2020) itu, dipastikan punya rencana teror. Dia berubah aktif diduga terinsipirasi serangan teror di Polsek Daha Selatan, Kalimantan Barat, yang terjadi Senin (1/6/2020) pukul 02.15 Wita dini hari.

Hal ini dikatakan oleh seseorang yang mengetahui kasus ini pada Beritasatu.com, Minggu (7/6/2020).

“Mereka tidak terkait. Yang di Mempawah jaringan teroris yang tergabung dalam sebuah media sosial. Paska kasus di Daha Selatan, dia punya potensi aksi yang sama karena terimspirasi dari serangan Daha Selatan. Maka ditangkap,” katanya.

Dari teroris Mempawah itu disita satu katana, dua pisau sangkur, satu bungkus black powder, dan satu bungkus belerang. Juga ada amunisi senjata api laras panjang, topi lambang ISIS, jaket loreng, buku atau lembaran buku berisikan jihad, satu boks peralatan listrik berupa solder, baterai, dan kabel.

Sepertti diberitakan di Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020, Brigadir Leonardo Latipapua yang berada di ruang SPKT Polsek Daha Selatan menjadi sasaran pelaku. Korban yang kini naik pangkat setingkat lebih tinggi ditemukan tewas dengan luka bacokan samurai.

Berdasarkan kronologis, pada saat kejadian ada tiga anggota jaga SPKT Polsek Daha Selatan yang melaksanakan piket jaga malam.

Mereka adalah mendiang Leonardo (Ka SPKT III), Brigadir Djoman Sahat Manik Raja, dan Bripda M Azmi. Sekitar pukul 02.15 WITA Bripda Azmi mendengar keributan di ruang SPKT.

Pada saat kejadian dia berada di ruangan unit Reskrim. Kemudian Bripda Azmi mendatangi ruangan SPKT dan melihat korban mengalami luka bacok.

Azmi lalu mendatangi Kanit Intel Brigadir Sahat untuk minta tolong dan bersama-sama mendatangi ruang SPKT. Disini pelaku sempat mengejar keduanya dengan sajam jenis samurai.

Sahat, yang juga terkena sabetan, meminta pelaku untuk menyerah namun dia tidak mau menyerah sehingga dilakukan tindakan tegas dengan menembak pelaku yang bernama Abdurrahman.

Pelaku sempat dibawa ke RSUD Hasan Basry Kandangan namun akhirnya tewas. Dalam surat yang dia tulis, dia menyebut aksinya sebagai jihad memerangi toghut.

Polisi menyebut pelaku adalah lone wolf. Dia mempelajari pengetahuan itu dari internet, belajar sendiri, membaca sendiri, dan memprediksi sendiri. Dia adalah jaringan tunggal.

 



Sumber: BeritaSatu.com