New Normal Diharapkan Dongkrak Kesejahteraan Petani

New Normal Diharapkan Dongkrak Kesejahteraan Petani
ilustrasi petani di sawah. (Foto: istimewa)
Herman / YUD Minggu, 7 Juni 2020 | 16:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah Indonesia tengah mengerahkan untuk segera masuk ke dalam tatanan kehidupan normal yang baru atau new normal. Kebijakan ini diharapkan menjadi pendongkrak kejayaan dan kesejahteraan petani kembali melalui dimulainya aktivitas hotel, restoran, katering (Horeka) dan perkantoran.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan dampak yang ditimbulkan akibat pandemi Covid-19 masih dirasakan masyarakat, termasuk para petani. Faktor yang mempengaruhi petani yakni harga produk pertanian mengalami tekanan diakibatkan oleh panen raya musim tanam pertama. Selain itu, terjadi gangguan distribusi akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penurunan daya beli masyarakat, serta melemahnya sektor ekonomi yang terkait dengan sektor pertanian seperti Horeka dan perkantoran.

"Kondisi ini menyebabkan deflasi kelompok bahan makanan, di mana jumlah bahan pangan di lapangan banyak, namun permintaan berkurang yang berakibat langsung dengan pendapatan petani," ungkap Syahrul Yasin Limpo melalui keterangan resmi, Minggu (7/0/2020).

Menurut Mentan, selama pandemi, deflasi kelompok bahan makanan masih berimplikasi positif terhadap stabilitas sosial dan politik. Sehingga untuk mengurangi dampak ke pendapatan yang diterima petani, pemerintah melalui kementerian terkait memberikan bantuan sosial yang dapat mengkompensasi penurunan daya beli petani yang diakibatkan oleh penurunan harga produk pertanian.

"Dengan kebijakan normal baru, utamanya di sektor pariwisata, diharapkan dapat memulihkan permintaan produk pertanian, sehingga dapat memperbaiki harga di tingkat petani," tuturnya.

Kementerian Pertanian mencatat, panen raya musim tanam pertama sukses untuk mengamankan stok pangan, sehingga tidak terjadi gejolak kenaikan harga dan tersendatnya distribusi 11 bahan pokok, khususnya dalam menghadapi bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.

"Ekspor komoditas pertanian juga masih jalan sebesar 12,6%. Nilai Tukar Petani (NTP) memang turun akibat pandemi Covid-19, tapi ini hanya sesaat dan nanti akan segera naik lagi," ujarnya.

Menghadapi fenomena yang terjadi di kalangan petani, Mentan Syahrul mengatakan pihaknya sedang melakukan berbagai upaya, salah satunya melakukan pengendalian dari sisi harga pertanian. "Pengendalian ini utamanya melalui koordinasi dengan Bulog dan Kemdag," tuturnya.

Menurut Mentan, kunci meningkatkan NTP adalah menyeimbangkan penawaran dan permintaan. Sehingga kebijakan pemerintah untuk membuka sektor pariwisata dan aktivitas perkantoran harus dipersiapkan dengan baik. Sebab dengan keberhasilan kebijakan ini dapat kontribusi terhadap perbaikan harga di tingkat petani.

"Kita juga akan lakukan pengendalian harga barang konsumsi petani, salah satunya dengam menjamin distribusi barang hingga ke pedesaan," sambungnya.

Saat ini, Kemtan terus melakukan upaya untuk tetap menjaga stok pangan utamanya beras. Direktur Jenderal Tanaman Pangan , Suwandi menambahkan upaya untuk menjaga stok yang ada yakni dengan percepatan tanam pada April-September 2020 yang dilaksanakan di 8 wilayah andalan, 9 wilayah utama dan 16 wilayah pengembangan.

"Kemtan memberikan bantuan benih, alat mesin pertanian, asuransi pertanian dan pendampingan agar percepatan tanam sukses dan memberikan hasil yang tinggi," katanya.

Suwandi mengatakan target luas tanam 2020 sebesar 11,66 juta ha yang berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras. Sementara stok beras akhir Juni 2020 diperkirakan masih mencapai 6,84 juta ton.

Potensi panen padi Mei 2020 mencapai 1,25 juta ha dengan hasil beras sebesar 3,43 juta ton. Sedangkan potensi panen padi Juni 2020 mencapai 0,74 juta ha, yang dapat menghasilkan beras sebesar 1,94 juta ton.

"Musim tanam dua, target kita di atas 5,6 juta hektar dan mudah-mudahan kalau ini bisa menghasilkan, maka ketahanan pangan bisa kita jamin lebih baik," ujar Suwandi.



Sumber: BeritaSatu.com