Ridwan Kamil: Elektabilitas Bukan Tujuan

Ridwan Kamil: Elektabilitas Bukan Tujuan
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Foto: Antara)
Adi Marsiela / LES Senin, 8 Juni 2020 | 15:34 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Barat yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatanan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil mengapresiasi hasil survei yang menyatakan elektabilitasnya meningkat seiring penanganan pandemi.

“Kalau dihubungkan ke politik, saya tidak bisa menghindari,” kata Ridwan dalam konferensi pers virtual yang digelar pada Senin (8/6/2020).

Sebelumnya, Indikator Politik Indonesia melansir hasil survei “Evaluasi Publik terhadap Penanganan Covid-19, Kinerja Ekonomi dan Implikasi Politiknya” pada akhir pekan lalu.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi memaparkan, survei pada Februari 2020 memperlihatkan elektabilitas Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto masih yang tertinggi dibandingkan nama-nama lain terkait pemilihan presiden 2024.

Meski masih menempati posisi teratas sebagai orang yang dipilih apabila pemilihan presiden dilakukan pada saat survei digelar, elektabilitasnya menurun jadi dari 22,2 persen jadi 14 persen.

Survei secara acak dengan 1.200 dari 206.983 responden yang pernah diwawancarai tatap muka dalam rentang dua tahun terakhir ini memperlihatkan, elektabilitas Ridwan Kamil naik dari 3,8 persen jadi 7,7 persen pada Mei 2020.

Hasil serupa terlihat pada elektabilitas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang naik dari 9,1 persen jadi 11,8 persen.

“Dukungan pada Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil kini cenderung meningkat dibandingkan temuan Februari lalu,” kata Burhanudin.

Sementara itu, elektabilitas Gubernur DKI Anies Baswedan justru merosot dibanding sebelum masa pandemi. Dalam survei pada Februari 2020, elektabilitas Anies 12,1 persen dan menurun menjadi 10,4 persen dalam survei pada Mei 2020.

Ridwan mengungkapkan, dirinya bekerja untuk menangani Covid-19 tanpa niat mencari pujian dan apresiasi. “Elektabilitas bukan tujuan. Fokus saya menyelamatkan 50 juta (warga Jawa Barat), (tujuan) lain-lain itu sekunder,” terang Ridwan.

Makanya, sambung Ridwan, setiap pengambilan keputusan terkait penanganan Covid-19 di Jawa Barat harus berdasarkan kebutuhan keselamatan warga. “Pakai ilmu, tanya ke ilmuwan ekonomi, kesehatan. Kita ada sembilan indeks (untuk menentukan level kewaspadaan wilayah). Kalau hasilnya menggembirakan, berarti hasil tidak membohongi prosesnya,” ungkap Ridwan.

 



Sumber: BeritaSatu.com