Golkar Kaji Tiga Opsi Sistem Pemilu

Golkar Kaji Tiga Opsi Sistem Pemilu
Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia (Foto: Istimewa)
Robertus Wardi / YS Selasa, 9 Juni 2020 | 13:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Partai Golkar (PG) masih mengkaji tiga opsi sistem pemilu yang berkembang dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (RUU Pemilu) di Komisi II DPR saat ini.

Pada waktunya, partai berlambang pohon beringin itu akan menentukan sistem apaa yang dipilih, apakah tetap sistem proporsional terbuka seperti sekarang atau ada sistem lain.

"Partai Golkar masih membuka peluang terkait sistem pemilu. Kami masih mengkaji sistem mana yang terbaik dari tiga opsi yang diusulkan," kata Wakil Ketua Umum PG Ahmad Doli Kurnia di Jakarta, Selasa (9/6).

Ia menyebut tiga opsi yang berkembang di Komisi II adalah, pertama tetap pada sistem proporsional terbuka yang masih berlaku saat ini. Opsi kedua, menggunakan sistem proporsional tertutup. Sementara opsi ketiga adalah kombinasi antara sistem proporsional dengan mayoritarian atau sistem pemilu paralel (campuran).

Dia menilai, sistem proporsional terbuka dan tertutup sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sistem campuran sudah sering diwacanakan tetapi belum pernah dipraktikan di Indonesia.

Doli Kurnia yang juga Ketua Komisi II DPR menyebutkan, sistem pemilu paralel adalah sebuah pemilu untuk memilih anggota DPR yang mengombinasikan sebagian prinsip pemilu proporsional dan distrik secara bersamaan. Misalnya dalam satu Daerah Pemilihan dengan 10 kursi dapat ditetapkan 7 kursi menggunakan sistem proporsional. Sementara tiga sisanya, menggunakan sistem mayoritarian.

“Sistem proporsional terbuka merupakan keharusan karena sudah diatur dalam UUD. Tetapi kami mengkaji kemungkinan tiga opsi yang ada,” tegas Doli.

Dia menyebut draf RUU Pemilu yang sudah beredar merupakan draf kasar yang masih perlu disempurnakan. Komisi II masih menunggu beberapa pandangan fraksi-fraksi terhadap isi draf RUU Pemilu tersebut.



Sumber: Suara Pembaruan