Mantan Ajudan Ungkap Kisah Presiden Soekarno Kesulitan Keuangan

Mantan Ajudan Ungkap Kisah Presiden Soekarno Kesulitan Keuangan
Presiden Pertama Indonesia, Ir.Soekarno (Foto: dok)
Carlos KY Paath / RSAT Rabu, 10 Juni 2020 | 19:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden pertama Soekarno mengalami kesulitan keuangan ketika pada 1967 menjadi tahanan kota. Soekarno meminta ajudannya, Sidarto Danusubroto mencari uang ke sejumlah kenalan.

"Keuangan Bung Karno sudah tidak ada. Saya diminta untuk mencari uang dari beberapa kenalan, tapi umumnya menghindar. Hanya satu atau dua orang membantu, tidak banyak," ungkap Sidarto.

Hal itu disampaikan Sidarto dalam diskusi daring bertajuk "Merawat Pikiran Bung Karno" yang digelar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Selasa (9/6/2020).

"Saya mendampingi beliau day by day (hari ke hari). Untuk masukkan uang pun tidak mudah, karena saya digeledah. Saya minta tolong Mbak Mega (Megawati Sukarnoputri) untuk bawa uang ke dalam. Oleh Mbak Mega dimasukkan dalam kaleng biskuit, uangnya taruh di bawah roti. Sangat memprihatinkan sekali," ucap Sidarto.

Sidarto menjadi ajudan di akhir masa kejayaan Soekarno. Kala itu, Soekarno merupakan presiden de jure, Soeharto adalah presiden de facto.

"Waktu saya ditunjuk, saya masih dampingi beliau kira-kira 3 bulan. Kemudian beliau mengalami tahanan kota. Tapi kemudian setelah 3 bulan kena tahanan kota, di situ saya banyak interaksi dengan Bung Karno. Beliau pernah bilang hanya hidup kalau di tengah-tengah rakyat. Banyak ide kalau di tengah rakyat. Selama jadi tahanan kota, beliau tidak boleh terima tamu, atau yang boleh hanya keluarga. Itu pun harus lewat izin ketat," tutur Sidarto.

Di sisi lain, menurut Sidarto, Soekarno muda begitu luar biasa. Bersama para tokoh lainnya, sejak muda bermimpi memerdekan bangsanya. Sidarto menegaskan, Soekarno juga seorang tokoh dunia.

"Kalau kita bicara mengenai Bung Karno, beliau bukan hanya tokoh bangsa, tapi juga tokoh dunia. Sokarno bukan hanya milik Indonesia, tapi milik dunia," kata mantan ketua MPR dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com