Kemdikbud Akan Memperbaiki Kurikulum Vokasi Lebih Fleksibel

Kemdikbud Akan Memperbaiki Kurikulum Vokasi Lebih Fleksibel
Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto (Foto: istimewa)
Maria Fatima Bona / EAS Rabu, 10 Juni 2020 | 21:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Diksi Kemdikbud) Wikan Sakarinto mengatakan, demi meningkatkan mutu pendidikan vokasi pihaknya akan memperbaiki kurikulum di satuan pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) lebih fleksibel dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.

"Kurikulum vokasi harus fleksibel dan menjamin hard skill maupun soft skill. Jadi kedua hal itu imbang,” ujar Wikan dalam webinar, di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Menurut Wikan, kurikulum juga harus selaras dengan project based learning dari industri maupun masyarakat. Para siswa diberi kesempatan untuk memecahkan proyek tersebut dan hasilnya kembali ke industri atau ke masyarakat.

Selanjutnya, Wikan menuturkan, pihaknya akan melakukan sejumlah inovasi terhadap beberapa program. Semisalnya waktu kelulusan untuk SMK tidak tiga tahun tetapi empat tahun, dan lulusan tersebut setara dengan diploma satu atau dua terapan.

Selain itu, siswa SMK wajib melakukan praktik kerja di industri dan hal tersebut masuk dalam kurikulum. Dengan begitu, persyaratan lulus SMK tidak hanya lulus mata pelajaran, tetapi harus lulus praktik kerja industri dan memiliki kemampuan yang bisa diterima industri.

Menurut Wikan, selain siswa, para guru SMK juga akan terus ditingkatkan kemampuannya. Saat ini pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) untuk memecahkan permasalahan kebutuhan mendesak guru SMK. Kepada industri, Wikan meminta untuk lebih menghargai kompetensi dihasilkan setelah SMK melakukan pernikahan massal dengan industri.

“Jadi sejak awal SMK harus menikah dengan industri mulai dari susun kurikulum hingga industri terlibat mengajar bersama sehingga lulusan dihasilkan sesuai dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Sejumlah perubahan yang akan dilakukan ini, menurut Wikan, tujuannya agar lulusan SMK dapat terserap di industri. Selain itu, perubahan diharapkan memberi gambaran kepada masyarakat jika lulusan SMK ini selain langsung diterima kerja, mereka juga dapat melanjutkan pendidikan strata satu hingga magister di bidang terapan.

Kendati demikian, Wikan berharap para siswa yang akan masuk SMK harus mengetahui minat dan bakatnya. Para orang tua juga harus memberi arahan dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak diinginkan.

Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Kemdikbud), M Bakrun mengatakan, jumlah SMK secara keseluruhan saat ini sekitar 14.000 dengan jumlah siswa sekitar 5 juta orang dengan kenaikan jumlah siswa baru sekitar 150.000 siswa per tahun.



Sumber: BeritaSatu.com