Pelukis Kaca yang Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Pelukis Kaca yang Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19
Salah satu lukisan di atas kanvas kaca yang sering dikenal dengan sebutan seni melukis grafir di Kupang, NTT. (Foto: Ist)
/ HS Minggu, 14 Juni 2020 | 09:58 WIB

Kupang, Beritasatu.com - Biasanya para seniman lukis menuangkan ide serta hasil karya mereka di atas kain kanvas. Namun berbeda dengan Marhco Jefferson Koroh (30) yang melukis menggunakan kanvas kaca. Melukis di atas kanvas kaca sering dikenal dengan sebutan seni melukis grafir. Di Kota Kupang, ibu kota provinsi NTT, Marcho merupakan satu-satunya pelukis grafir. Dirinya baru mulai menekuni kesenian melukis grafis itu pada tahun 2017.

"Saya belajar melukis di atas kaca ini sejak tahun 2017. Saat itu masih belajar-belajar-belajar saja, sambil lihat-lihat di Youtube bagaimana caranya melukis grafir," katanya.

Bermula dari mencoba-coba lalu membawa ke kantor tempat dirinya pertama kali bekerja, tawaran membuat lukisan grafir wajah teman-temanpun semakin banyak.

Pria kelahiran Kota Kupang 1990 itu mengatakan dari situlah dia meminta teman-teman kantornya untuk mempromosikan karyanya itu sehingga makin banyak yang tahu. Perlahan-lahan semakin banyak orderan yang datang.

"Dalam sebulan ada sekitar 20 orderan yang masuk ke saya, lumayan bisa menghidupi saya dan keluarga saya," tuturnya.
Setelah bisa menghasilkan uang sendiri, pada tahun 2018 dia memutuskan berhenti dari tempat kerjanya dan berusaha menghasilkan pemasukan dari hasil kanvas grafirnya itu.

Suami Margaretha B ini kemudian pada tahun 2018 menyempatkan diri ikut dalam acara pameran pembangunan oleh pemerintah provinsi NTT. Saat pameran itu, dalam sehari dia mampu menghasilkan enam lukisan grafir dengan ukuran yang berbeda-beda.

Padahal, biasanya sehari hanya mampu menghasilkan satu buah lukisan saja. Jika tak selesai di tempat pameran, dia terpaksa harus menyelesaikan orderan dari para pelanggannya di rumah dan harus bekerja sampai pukul 04.00 wita subuh. Saat pameran, dalam dua pekan dia mampu meraup keuntungan Rp 8 juta dari harga jual berkisar dari Rp 120.000 hingga Rp 150.000 tergantung ukuran lukisan. Untuk ukuran 11 x 15 cm meter harganya Rp120 ribu, sementara untuk ukuran 15 x 18 cm harganya mencapai Rp150 ribu per lukisan.

Para pelanggan yang memesan lukisannya diwajibkan membayar setengahnya terlebih dahulu, dengan mengirimkan foto wajah yang hendak dilukis. Jika sudah selesai, sisa pembayaran bisa dilunaskan melalui cash atau transfer.

Saat ini di tengah pandemi COVID-19 jumlah orderan semakin menurun. Biasanya dalam sebulan ada 20 bahkan lebih orderan dengan penghasilan Rp 3 sampai Rp 4 juta per bulan, kina hanya ada sekitar 6 orderan saja.
Semakin diikenalnya lukisan grafir membuat banyak orang memesan karyanya. Pernah ada orderan dari Papua, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Bogor, Jakarta dan Kawa Timur. Jumlah yang dipesan sedikit, karena memang bahaya dikirim dalam jumlah banyak karena mudah pecah.

Pesanan dari luar negeri sampai saat ini belum ada. Namun, beberapa lukisannya sudah sampai ke Australia karena beberapa warga Kupang menjadikannya sebagai oleh-oleh.

Hal yang paling membanggakan walaupun tak dibayar adalah dirinya sempat melukis wajah Presiden Joko Widodo yang kini lukisannya dipajang di dinding kantor Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kupang. Tak hanya itu dia juga sempat melukis wajah dari gubernur NTT Viktor B Laiskodat sebanyak tiga kali.

Ketika dirinya mulai menekuni bisnis tersebut beberapa kejadian yang tak mengenakkan sering dialami dirinya, seperti penipuan. Beberapa rekannya sempat memesan untuk melukis wajah di atas kanvas kaca, namun pesanan itu tak pernah diambil tanpa pembayaran. Beberapa kejadian lain adalah dirinya pernah tak sengaja menjatuhkan lukisan kaca hingga pecah sehingga terpaksa harus dimulai dari awal lagi.

Saat ini pria yang sebenarnya ingin sekali waktu kuliah mengambil jurusan arsitek itu membangun usaha melukis grafirnya di rumah pribadinya yang masih belum diplester. Dia memanfaatkan ruang tamu di rumahnya itu untuk menyimpan seluruh peralatan dan hasil karyanya yang sudah siap untuk diambil oleh para pelanggannya.
"Saya punya mimpi nanti kelak bisa punya galeri sendiri, sehingga nanti tidak membuat ruang tamu di rumah ini berantakan seperti saat ini," ujar dia.

Dia juga berharap memiliki beberapa karyawan yang kelak bisa membantunya membuat bingkai sehingga proses pembuatan pesanan para pemesan juga bisa semakin cepat. Selain itu, dia berharap bisa membangun galeri sendiri.



Sumber: ANTARA