Penyaluran Bansos di Jabar Terlambat karena Kekurangan Telur dan Makanan Kaleng

Penyaluran Bansos di Jabar Terlambat karena Kekurangan Telur dan Makanan Kaleng
Ilustrasi bantuan sosial. (Foto: Antara)
Adi Marsiela / LES Selasa, 16 Juni 2020 | 17:16 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Asisten Administrasi Provinsi Jawa Barat, Dudi Sudrajat Abdulrachim mengakui adanya keterlambatan penyaluran bantuan sosial (bansos) tahap I bagi mereka yang terdampak pandemi Covid-19. Kelambatan ini meliputi keluarga penerima bansos yang namanya masuk pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan data non DTKS.

“Keterlambatan menurut saya luar biasa, tapi kita inginnya sempurna,” ujar Dudi dalam konferensi pers di Bandung, Selasa (16/6/2020).

Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Provinsi Jawa Barat menargetkan penyaluran bansos tahap I bagi 445,339 keluarga yang tercantum di DTKS dan 1,467,375 keluarga di data non DTKS bisa selesai sebelum Idul Fitri 1441 Hijriah lalu. Namun hingga tiga pekan lepas hari raya, penyaluran itu belum tuntas.

Setiap paket bansos, yang pengadaannya memanfaatkan anggaran Provinsi Jawa Barat, itu jika dinominalkan mencapai Rp 500.000 dalam penyalurannya, bantuan itu direalisasikan dalam bentuk tunai Rp 150.000 serta paket makanan senilai Rp 350.000 berupa 16 bungkus mie instan, beras 10 kilogram, vitamin C, minyak goreng dua liter, telur dua kilogram, gula pasir satu kilogram, dan empat makanan kaleng buat setiap keluarga. Penyalurannya diproyeksikan selama empat bulan sejak April hingga Juli 2020.

Dudi memaparkan, target penerima bansos DTKS itu mencapai 445.339 keluarga, sedangkan yang data non DTKS mencapai 1.467.375 keluarga. Berdasarkan data sementara, ungkap Dudi, Perum Bulog sudah mendistribusikan 395.637 paket DTKS dan 1.325.942 paket non DTKS ke titik-titik penghubung PT Pos Indonesia yang bakal mengantarkannya ke penerima.

“Dari Bulog untuk paket DTKS itu sudah 100 % dikirim ke hub PT Pos. sementara untuk yang non DTKS baru 94,6%. Dari Bulog (distribusi) ke hub PT Pos butuh waktu dua hari sebelum sampai ke sasaran di rumah-rumah,” ungkap Dudi.Sementara berdasarkan laporan PT Pos Indonesia, penyaluran buat paket DTKS sudah mencapai 98% dan penyaluran paket non DTKS baru mencapai 71,6%. Dudi menjelaskan, PT Pos Indonesia meminta pengunduran waktu penyaluran. Hal ini seiring kelangkaan telur dan makanan kaleng sarden.

“Setelah Lebaran di Cirebon itu kekurangan komoditas telur. Satu minggu kemudian, kami dapat informasi kekurangan sarden. Satu komoditas kurang saja, terhambat penyaluran,” imbuh Dudi sembari menambahkan distribusi yang terhambat untuk keluarga di Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Bogor, dan Sukabumi.

Kedua komoditas itu, sambung Dudi, baru tersedia kembali pada aawal pekan ini sehingga waktu penyaluran ke keluarga yang berhak itu baru bisa selesai seluruhnya pada Kamis, 18 Juni 2020. “Jadi tanggal 19 Juni 2020 baru bisa rekonsiliasi data yang terkirim seluruhnya,” tutur Dudi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan anggaran hingga Rp 746 miliar untuk penyaluran bansos ini. Dudi menjelaskan, hingga 15 Juni 2020, realisasi anggaran yang dipergunakan untuk pemberian bansos ini sudah mencapai Rp 159 miliar. “Saldo masih ada Rp 586 miliar atau baru digunakan 21,43 persen. Kalau sudah selesai baru kita bayar,” imbuh Dudi.



Sumber: BeritaSatu.com