Mengambil Paksa Pasien Covid-19 Bisa Dijerat UU Karantina dan Penyakit Menular

Mengambil Paksa Pasien Covid-19 Bisa Dijerat UU Karantina dan Penyakit Menular
Ilustrasi penanganan pasien diduga terinfeksi virus "corona". (Foto: Antara)
Arnold H Sianturi / JEM Rabu, 17 Juni 2020 | 15:01 WIB

Medan, Beritasatu.com - Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) mengingatkan masyarakat untuk tidak mengambil paksa pasien positif Covid-19 dari rumah sakit untuk dirawat keluarganya di rumah. Polisi tidak akan memberikan tolerasi dalam mengambil tindakan tegas.

Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin mengatakan, pengambilan paksa pasien Covid-19 sangat berisiko. Pasien positif bisa menularkan virus kepada keluarga, orang sekitar maupun yang turut dalam menjemput paksa tersebut. Ini bisa menimbulkan masalah baru penanganan Covid-19.

"Kami akan menerapkan Undang - undang tentang karantina dan wabah penyakit menular. Untuk UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang penyakit menular ini jika dilanggar bisa dijerat dengan pidana satu tahun," ujar Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin, Rabu (17/6/2020).

Mantan Kapolda Papua ini menambahkan, polisi juga bisa menerapkan Undang-Undang No 6 Tahun 2018 tentang Karantina Nasional. Ancaman hukuman penjara selama setahun atau denda sebesar Rp 100 juta bagi masyarakat yang melanggar aturan dalam undang - undang itu.

"Kami pastikan untuk tidak membiarkan terjadinya kerumunan, apalagi jika berani mengambil paksa pasien positif Covid-19 dari rumah sakit. Kami tidak akan membiarkan masalah ini terjadi. Ini bisa membahayakan karena virus corona ini menularkan ke orang lain," tegasnya.

Meski demikian, sambung mantan Asops Polri mengatakan, situasi keamanan di Sumut masih aman dan kondusif. Masyarakat mempunyai peranan yang tinggi sehingga upaya paksa dalam membawa pasien positif dari rumah sakit khusus penanganan Covid-19, tidak pernah terjadi. 



Sumber: BeritaSatu.com