Literasi Dorong Kreativitas Masyarakat di Era Pandemi

Literasi Dorong Kreativitas Masyarakat di Era Pandemi
Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando. (Foto: Beritasatu.com / Istimewa)
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 17 Juni 2020 | 21:30 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), M Syarif Bando mengatakan, perpustakaan menjadi solusi meningkatkan kecerdasan bangsa. Perpustakaan juga merupakan sarana peningkatan infrastruktur akses informasi dan pengetahuan, penguatan sumber pengetahuan dan nilai informasi serta penguatan konteks informasi bagi individu.

Baca Juga: Anies Sebut Pandemi Covid-19 Munculkan Literasi Kultur

"Ada empat  tingkatan literasi yakni kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bacaan, mampu memahami apa yang tersirat dari yang tersurat, mengemukakan ide atau gagasan baru, teori baru, kreativitas dan inovasi baru serta akhirnya menciptakan barang atau jasa yang bermutu bagi kehidupan," kata Syarif Bando, dalam webinar "Bangkit dari Pandemi dengan Literasi" yang digelar Perpusnas bersama Bappenas, di Jakarta, Rabu (17/6/2020).

Dengan demikian, lanjut Syarif Bando, perpustakaan menghasilkan keadilan informasi dan pengetahuan bagi setiap orang serta penguatan literasi bagi setiap orang sehingga tercipta inovasi disertai kreativitas. "Hasilnya terjadi peningkatan kapabilitas individu dan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.

Saat ini, lanjut Syari Bando, transformasi berbasis inklusi sosial sebagai pusat ilmu pengetahuan menjadikan perpustakaan wahana pembelajaran sepanjang hayat melahirkan berbagai inovasi dan kreativitas masyarakat.

"Banyak perpustakaan tetap mengadakan kegiatan untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat. Ini kesempatan bagi perpustakaan untuk berkontribusi kepada masyarakat di masa pandemi," tandasnya.

Baca Juga: Bappenas dan Perpusnas Dorong Penguatan Literasi Masyarakat

Selain itu, juga terjadi transformasi pada layanan perpustakaan, koleksi perpustakaan, dan ruang perpustakaan dengan menerapkan protokol kesehatan, kebersihan lingkungan, sarana dan prasarana layanan. Lalu responsif dalam menghadapi perubahan demografi, kebutuhan dan minat pemustaka dengan tetap menjaga jarak aman.

"Jadi literasi untuk kesejahteraan menegaskan setiap orang berhak atas penghidupan yang layak agar mereka bisa tersenyum kembali," kata Syarif Bando.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa menegaskan, perlunya memperkuat budaya literasi masyarakat sebagai salah satu upaya agar mampu bangkit dari keterpurukan. Hal ini penting karena literasi sebagai bentuk cognitive skills memiliki peran besar dalam upaya pemulihan sosial-ekonomi masyarakat.

"Masyarakat dengan kemampuan literasi lebih baik cenderung akan lebih siap menghadapi dampak buruk pandemi. Ini karena mempengaruhi sikap seseorang dalam menentukan respons terhadap suatu persoalan. Kepanikan masyarakat timbul sebagai reaksi spontan yang sering dipicu oleh informasi tidak benar (hoax) yang beredar luas. Masyarakat dengan tingkat literasi tinggi akan selalu melakukan konfirmasi atas kebenaran informasi yang diperoleh,” jelas Suharso Monoarfa.

Baca Juga: Pentingnya Literasi untuk Kaum Muda

Menurut Suharso Monoarfa, masyarakat dengan kemampuan literasi terkait informasi kesehatan yang lebih baik cenderung akan lebih sadar terhadap rentannya kondisi pandemi. "Mereka akan mampu mendeteksi gejala secara mandiri, lancar dalam berkomunikasi dengan tim medis, sehingga selalu siap melindungi diri seperti konsumsi obat secara tepat guna dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com