Lakukan 60.389 PCR, Jabar Klaim Lampaui Standar WHO

Lakukan 60.389 PCR, Jabar Klaim Lampaui Standar WHO
Jajaran Polrestro Bekasi Kota bersama Pemkot Bekasi dan TNI meninjau pelaksanaan tes PCR di Stasiun Bekasi, Selasa (5/5/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Mikael Niman)
Adi Marsiela / LES Rabu, 17 Juni 2020 | 15:28 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar Daud Ahmad mengklaim proses pelacakan dan pengetesan Covid-19 pada 27 kabupaten dan kota di Jabar terus dilakukan.

“Jadi buat dimaklumi standar WHO (World Health Organization) untuk swab test itu 0,1% dari populasi, 50 juta (jiwa) berarti ada di 50.000 swab test. Untuk dimaklumi sampai dengan hari ini kita sudah melakukan 60.389 PCR (polymerase chain reaction). Kemudian di samping itu bahwa walaupun swab test melampaui target, kita masih terus melakukan swab test karena dengan begitu peta dari Covid-19 bisa diketahui detil,” kata Daud dalam konferensi pers di Bandung, Rabu (17/6/2020).

Sedangkan untuk pengetesan berbasis RDT (rapid diagnosed test), Daud menuturkan, standarnya harus mencapai 0,6% dari populasi seperti yang dilakukan Korea Selatan yang juga memiliki penduduk sekitar 50 juta jiwa. Berkaca dari pengalaman Korea Selatan itu maka harus ada setidaknya 300.000 penduduk yang mengikuti tes di Jabar.

Daud menjelaskan, pengetesan menggunakan RDT di Jabar sudah mencapai 148.789 sampel. “Masih kurang 152.000,” begitu terangnya merujuk pada pengetesan hingga 0,6% populasi ala Korea Selatan.

Klaim Daud ini tidak disertai keterangan berapa jumlah orang yang sudah menjalani tes baik PCR maupun RDT di Jabar. Paparannya berdasarkan jumlah sampel yang diterima dan diperiksa.

Sementara dalam penanganan Covid-19, pengetesan berbasis PCR misalnya pada pasien dalam pengawasan (PDP) dipastikan menggunakan lebih dari satu sampel.

Kadis Kesehatan Jabar Berli Hamdani mengungkapkan, jumlah sampel yang diperiksa itu lebih banyak daripada orang yang menjalani tes Covid-19. Karena satu orang bisa menjalani lebih dari satu kali pengambilan sampel, baik itu RDT atau PCR. “Untuk menyatakan seseorang sembuh dari Covid-19 itu harus diambil sampel dua kali yang hasilnya negatif,” kata Berli dalam konferensi pers pada 10 Juni lalu.

WHO dalam dokumen Kriteria Kesehatan Masyarakat untuk Menyesuaikan Kebijakan Kesehatan Masyarakat dan Langkah Sosial dalam Konteks Covid-19 mensyaratkan adanya kajian epidemiologis. Salah satu kriteria terpenuhinya kajian epidemiologis buat pelonggaran kebijakan adalah hasil sampel yang positif untuk Covid-19 kurang dari 5% populasi sampel setidaknya dalam dua pekan terakhir. Syarat ini dengan asumsi, pelacakan kasus dilakukan secara komprehensif.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengutip laporan WHO periode 25 Mei-7 Juni 2020 yang memperlihatkan belum ada pemerintah provinsi di Pulau Jawa yang memenuhi kriteria sampel positif kurang dari 5% dalam dua pekan terakhir. Dia menyatakan lewat akun Twitter-nya, dari jumlah semua yang menjalani tes PCR di Jabar dan hasilnya positif Covid-19 berada pada tingkat paparan paling rendah yaitu 6,6%. Pembandingnya adalah Provinsi DKI Jakarta (8,5%), Jateng (11,1%), DIY (8,1%), Jatim (30,9%), dan Banten (8,3%).

Dalam kicauannya di media sosial pada 16 Juni 2020, dia menyatakan, total tes PCR di Jabar hampir mencapai 60.000 sampel ditambah RDT 140.000 sampel. “Sehingga total di sekitaran 200.000 warga yang sudah dites. Kita akan terus agresif tracing dan testing dengan mengerahkan 627 mobil tes Covid-19 di seluruh Jawa Barat,” ungkap Ridwan.

 



Sumber: BeritaSatu.com