Kemdikbud: Guru Tak Perlu Paksakan Penuntasan Kurikulum Saat Pandemi

Kemdikbud: Guru Tak Perlu Paksakan Penuntasan Kurikulum Saat Pandemi
Webinar "Bincang Sore Pendidikan dan Kebudayaan" yang digelar oleh Kemdikbud pada Selasa (16/6/2020). (Foto: Istimewa)
Jayanty Nada Shofa / JNS Jumat, 19 Juni 2020 | 12:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengatakan guru tidak perlu paksakan penuntasan kurikulum di saat pandemi Covid-19. Melainkan, guru diminta untuk fokus menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan murid.

Hal ini menjadi poin utama saat penyesuaian kurikulum.

"Ini akan jadi sebuah catatan. Kurikulum tidak perlu dituntaskan dan jangan dipaksakan," ungkap Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Iwan Syahril pada webinar "Bincang Sore Pendidikan dan Kebudayaan" di Jakarta, Selasa (16/6/2020).

Iwan menyatakan, konteks kurikulum terdiri dari murid dan guru. Relasi kurikulum dengan kebutuhan siswa harus selalu terjadi dan aktif. Di tengah pandemi, kurikulum menjadi sebuah hal yang perlu disesuaikan dengan keadaan.

"Jadi, kurikulum apa pun yang disederhanakan atau tidak, tetap saja seorang pendidik harus selalu berinteraksi, sehingga pembelajaran harus disesuaikan dengan konteks sekolah dan murid berada," jelas Iwan.

Meski demikian, interaksi yang dinamis antara guru dan siswa tetap dibutuhkan. Untuk itu, Iwan mengajak komunitas pengajar seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk berdiskusi untuk mendapatkan ide baru dalam menyampaikan materi pembelajaran saat pandemi.

Baca juga: Pembukaan Sekolah di Zona Hijau Wajib Penuhi Persyaratan Ini

Dalam menentukan skema pembelajaran jarak jauh (PJJ), guru dihimbau untuk menggunakan asesmen atau penilaian kemampuan siswa. Misalnya, sebelum memasuki materi baru, siswa dapat mengulang terlebih dahulu materi kelas sebelumnya.

Dengan ini, guru dapat mengajar sesuai dengan kondisi anak.

"Asesmen dilakukan agar guru dapat melihat kondisi tahun ajaran baru ini, kemampuan siswa ada di level mana, dan para guru perlu menjemputnya. Ini perlu diferensiasi. Jadi, asesmen bisa simpel. Materi kelas sebelumnya bisa digunakan untuk tes kondisi murid seperti apa," pungkas Iwan.

Kurikulum Darurat di Masa Pandemi

Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbangbuk) Kemdikbud saat ini sedang mengkaji masukan dari Komisi Perlindungan Anak (KPAI) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) terkait penerapan kurikulum darurat di masa pandemi.

Hal ini disampaikan oleh Plt. Dirjen PAUD dan Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad. Namun, untuk detilnya akan disampaikan secara langsung oleh Balitbangbuk Kemdikbud.

Pada webinar tersebut, Hamid kembali mengingatkan Kemdikbud telah meluncurkan program Merdeka Belajar yang memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan, kepala sekolah dan guru untuk melakukan inovasi pembelajaran dalam berbagai keadaan.

"Pada situasi pandemi ini, banyak guru yang telah mulai menjalankan inovasi pembelajaran. Kami yakin para guru mampu memilih dan memilah kompetensi dasar yang mungkin terlalu rumit untuk disederhanakan," ungkap Hamid.

Untuk itu, Kemdikbud bersama dinas pendidikan saat ini menyiapkan sistem pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan untuk satu semester ke depan dalam skema PJJ baik itu pembelajaran daring atau luring.

Baca juga: Masuk Zona Kuning, Sekolah Wajib Terapkan Belajar dari Rumah

Pembelajaran daring, lanjut Hamid, dapat dilakukan secara interaktif melalui aplikasi telekonferensi Zoom atau Google Meet. Namun, apabila terdapat hambatan teknologi, guru bisa memilih pembelajaran luring seperti dengan memanfaatkan buku pegangan siswa dan guru.

Tak hanya itu, Kemdikbud juga akan terus melanjutkan program belajar dari rumah melalui siaran televisi. 

“Temanya masih tetap yakni literasi, numerasi, dan pendidikan karakter,” jelasnya.

Bagi daerah yang tidak memilki akses televisi, Hamid mengatakan pemerintah daerah (pemda) dapat menggunakan radio lokal, radio komunitas maupun Radio Republik Indonesia (RRI).

”Beberapa daerah sekarang sudah melakukan inisiatif untuk menggunakan radio RRI lokal sebagai sistem pembelajaran berbasis luring bagi daerah yang memang akses internetnya tidak sebaik di tempat lain,” tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com