Rajut Kembali Relasi Sosial di Papua Pascaputusan Kasus Rasisme

Rajut Kembali Relasi Sosial di Papua Pascaputusan Kasus Rasisme
Ketua Tim Kajian Papua LIPI Adriana Elisabeth (Foto: istimewa)
Asni Ovier / AO Sabtu, 20 Juni 2020 | 21:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gerakan solidaritas sosial melawan diskriminasi rasial terhadap orang Papua, khususnya tujuh orang tahanan, meluas sampai ke luar negeri. Pada akhirnya, tekanan publik berbuah pembebasan terhadap para tahanan dalam waktu dekat.

Pertanyaannya. Apakah dengan pembebasan itu maka rasisme tidak akan berulang di Papua?

"Rasisme berpotensi terulang selama ada kesenjangan sosial politik, sosial, dan ekonomi, apalagi ada persoalan kecemburuan karena keterbatasan akses ekonomi dan politik bagi orang asli Papua," ujar Koordinator Jaringan Damai Papua di Jakarta, Adriana Elisabeth dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (20/6/2020).

Dikatakan, relasi sosial antarwarga Papua yang sempat terkoyak karena demo kerusuhan mengakibatkan kerugian fisik dan nonfisik bagi semua. Membangun kembali harmonisasi antarwarga lebih memerlukan waktu panjang dibandingkan membangun infrastruktur fisik.

Untuk merajut kembali harmonisasi di Papua, kata Adriana,harus dimulai dari menyelesaikan akar masalah dengan menghapus ketidakadilan, kekerasan secara struktural dan masalah stigma separatis.

"Masyarakat Papua yang heterogen memiliki modal sosial yang dapat menjadi rujukan terkait nilai toleransi antaragama, suku, dan ras," ujar Adriana.

Namun, kata dia, toleransi tidak cukup karena harus ada keberterimaan atas adanya perbedaan dengan fokus membangun dari hal-hal positif yang potensial di Papua. Paradigma yang harus diubah adalah Papua membangun bukan lagi membangun di Papua. 



Sumber: BeritaSatu.com