Menristek: Ekosistem Riset Berkembang Selama Pandemi Covid-19
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Menristek: Ekosistem Riset Berkembang Selama Pandemi Covid-19

Senin, 22 Juni 2020 | 22:00 WIB
Oleh : Iman Rahman Cahyadi / CAH

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 memberikan peluang bagi pembuatan kebijakan berbasis bukti untuk lebih menonjol. Pemerintah Indonesia, universitas dan lembaga think tank memprioritaskan penelitian di beberapa bidang penelitian seperti kesehatan masyarakat, kedokteran, penggunaan big data dan ekonomi.

Untuk menghasilkan hasil riset yang akurat dan cepat tersebut, perlu didukung oleh ekosistem pengetahuan dan inovasi yang komprehensif. Tantangan utama seperti pendanaan, ketersediaan dan akses data, serta hubungan periset dengan pembuat kebijakan yang masih perlu dibenahi.

Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) telah membentuk konsorsium untuk menangani Covid-19. Konsorsium yang beranggotakan lembaga penelitian di bawah koordinasi Kemenristek/BRIN seperti LIPI, beberapa perguruan tinggi (PT), Penelitian dan Pengambangan (Litbang) Kementerian Kesehatan serta melibatkan dunia usaha baik swasta maupun BUMN mempunyai fokus membantu mencegah, mendeteksi cepat Covid-19 melalui riset dan inovasi seperti vaksin, suplemen, pengobatan dan teknologi Kesehatan.

Baca Juga: Menristek Dorong Kemandirian Obat dan Vaksin Covid-19

“Kami telah mencoba menerapkan triple helix di dalam Konsorsium Riset dan Inovasi tentang Covid-19 untuk menghubungkan dunia penelitian dengan dunia industri dan pemerintah. Berbagai elemen dilibatkan mulai dari kesehatan, ikatan farmasi maupun Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian. Pandemi ini juga menunjukkan ekosistem riset yang selama ini kita bayangkan, justru berkembang dengan baik. Sebelumnya kita belum mempunyai produksi ventilator sendiri, pandemi ini membuat inovasi bekerja dan menghubungkannya dengan dunia industri,” kata Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro dalam acara Diskusi Kebijakan: Penanggulangan Covid-19 Berbasis Pengetahuan dan Inovasi, Senin (22/6/2020) yang diselenggarakan oleh Knowledge Sector Initiative (KSI) dan Katadata.

Kemenristek/BRIN dikatakannya, akan tetap mengedepankan pengetahuan dan inovasi dalam upaya menanggulangi pandemi Covid-19.

"Data yang digunakan saat ini adalah peta sains yang merupakan pendekatan riset ilmu pengetahuan untuk mengatasi endemi dan pandemi. Hal ini adalah sebuah pendekatan riset selain dari kesehatan itu sendiri," lanjut Bambang.

Dalam kesempatan tersebut, Professor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dewi Fortuna Anwar mengungkapan perlu peran aktif dari aktor-aktor utama yang memungkinkan terbentuknya ekosistem pengetahuan dan inovasi. Mereka adalah para knowledge producers (penghasil pengetahuan – universitas, lembaga penelitian atau thinktank), knowledge users (pengguna pengetahuan – kementerian), knowledge enablers (pembuat kebijakan dan badan pendanaan), dan knowledge intermediaries (media dan organisasi masyarakat sipil).

Dewi Fortuna Anwar menegaskan bahwa dalam ekosistem inovasi, hasil dari riset vaksin yang disebutkan oleh Menristek tersebut akan menghasilkan hilirisasi. Fokusnya bagaimana seluruh elemen ini bersinergi agar hasil penelitian bisa menjadi inovasi: dipasarkan, digunakan, dan dengan demikian mendongkrak kemajuan dan daya saing bangsa. Kemajuan bangsa, dalam konteks ekonomi global, dinilai lewat daya saing dan kemampuan inovasi.

“Dalam implementasinya, ekosistem pengetahuan maupun inovasi membutuhkan kapasitas negara untuk menggerakkan semua elemennya. Kapasitas negara ini tercermin dari kapasitas kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia ASN-nya yang mempunyai kinerja secara efisien dan efektif,” kata Dewi Fortuna Anwar.

Sementara itu, Peneliti Senior Center for Innovation Policy and Governance (CIPG) Yanuar Nugroho dalam kesempatan tersebut mengatakan saat ini yang dibutuhkan oleh ekosistem riset dan inovasi adalah state capacity - bagaimana negara mengatur, hadir dan mengorkestrasi agar ekosistem ini berjalan dengan baik. "Karena masih ada beberapa tantangan untuk dihadapi bukan hanya tantangan teknologi namun yang lebih besar adalah tantangan sumber daya manusia," kata Yanuar.

Selain mengoptimalkan ilmuwan dan peneliti di dalam negeri, Kemenristek/BRIN juga berusaha mengoptimalkan kolaborasi antara peneliti di Tanah Air dengan peneliti dan ilmuwan diaspora. Diharapkan kolaborasi dapat menangani masalah pandemi lebih cepat dan tepat sasaran khususnya dalam bidang kesehatan masyarakat serta pemulihan ekonomi pasca Covid-19.

Kuasa Usaha Australia untuk Indonesia Allaster Cox yang turut hadir dan memberikan sambutan pembuka pada Diskusi Kebijakan ini mengatakan, Australia berkomitmen untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam mengatasi Covid-19.

"Melalui program kerja sama pembangunan, kami bermitra dengan think tank lokal dan mendanai penelitian baru yang dapat digunakan menjadi dasar penanganan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Secara paralel, kami bekerja dengan Indonesia untuk memperkuat ekosistem pengetahuan dan inovasi agar dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi jangka panjang," kata Allaster Cox.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

DPR Minta Pemerintah Tidak Abai Program Pencegahan Stunting di Tengah Pandemi

Tahun 2019 sebelum pandemi, 6,3 juta balita terkena stunting dari populasi 23 juta balita di Indonesia.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Jumlah Kasus Covid-19 di Sumut Terus Bertambah

Kasus positif Covid-19 di Sumut kini menjadi 1.115.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Kemhub Tetapkan Sistem Pelaporan Kapal di TSS Selat Sunda dan Lombok

Kapal berbendara Indonesia wajib lapor saat melewati TSS Selat Sunda dan Lombok.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Kapolri: Negara Tidak Akan Kalah dengan Premanisme

Kapolri telah memerintahkan jajarannya untuk menindak tegas aksi premanisme, dan jangan diberi ruang gerak sedikit pun.

NASIONAL | 22 Juni 2020

New Normal, Mahfud: Penegakan Hukum Kembali Normal

Pemerintah berkomitmen terhadap penegakan hukum kendati saat ini masih terjadi pandemi virus corona.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Pembunuhan Dua Anak Tiri di Medan Karena Es Krim

Dua bocah kakak beradik dibunuh karena merengek-rengek meminta dibelikan es krim.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Ini Kronologi Pembunuhan Dua Bocah Kakak Beradik di Global Prima Medan

Peristiwa pembunuhan tersebut terjadi pada Jumat (19/6/2020) malam yang dilakukan oleh ayah tiri kedua bocah tersebut.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Jubir Presiden: Perpres 67/2020 Bentuk Apresiasi Terhadap Penyandang Disabilitas

Perpres Nomor 67 tahun 2020 merupakan langkah progresif Presiden Jokowi dalam menghormati hak-hak disabilitas di Indonesia.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Penahanan Ketua DPRD Muara Enim Kembali Diperpanjang

Penahanan Ketua DPRD Muara Enim, Aries HB diperpanjang selama 30 hari ke depan terhitung sejak 26 Juni 2020.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Menjaga Ekosistem Hutan, Mencegah Wabah di Masa Depan

Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan 75% dari kemunculan patogen manusia adalah zoonotik, dengan kata lain, infeksi awal yang berasal dari hewan. Aktivitas seperti deforestasi, fragmentasi lahan, serta perluasan habitat dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. 

NASIONAL | 22 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS