Kemdikbud: Selama Belajar di Rumah, Jumlah Jam Belajar Siswa Berkurang

Kemdikbud: Selama Belajar di Rumah, Jumlah Jam Belajar Siswa Berkurang
Ilustrasi belajar di rumah. (Foto: Antara)
Maria Fatima Bona / IDS Senin, 22 Juni 2020 | 20:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah melakukan survei untuk mengevaluasi kegiatan belajar dari rumah (BDR) dengan responden mulai dari siswa, orang tua, guru, hingga kepala sekolah. Hasil survei tersebut menunjukkan 95% siswa melakukan BDR. Namun, sistem ini tidak berjalan lancar, karena ditemukan beberapa hambatan dari rumah sehingga berpotensi ada pengalaman belajar yang hilang.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemdikbud, Totok Suprayitno menuturkan, selama BDR, jumlah jam belajar siswa berkurang.

"Biasanya siswa hanya belajar dua jam sehari dan dalam seminggu maksimum hanya empat hari sehingga siswa kehilangan pengalaman belajar,” kata Totok dalam Rapat Kerja Kemdikbud dengan Komisi X DPR yang berlangsung secara daring, Senin (22/6/2020).

Kenyataan ini kata Totok, membuat peserta didik kesulitan memahami materi dari buku meskipun 89% orang tua mendampingi siswa. Mereka tetap membutuhkan bantuan guru. Sebab, masih banyak guru yang memberi penugasan berupa soal sehingga anak kehilangan penambahan inti kurikulum.

Menurut Totok, seharusnya anak memahami terlebih dahulu konten kurikulum sebelum diberi penugasan. Untuk itu, pihaknya akan menyediakan modul belajar yang memudahkan peserta didik untuk belajar mandiri dengan tema-tema menarik. Dengan demikian, mereka dapat mengurangi kebosanan.

Modul yang dimaksud bisa berupa project based learning, baik belajar berbasis daring yang akan disiapkan secara digital, maupun untuk luring yang akan segera didistribusikan.

Totok menyebutkan, Kemdikbud juga mempertimbangkan disparitas pola belajar mandiri siswa. Terkait dengan capaian masing-masing siswa, maka guru diarahkan untuk melakukan penilaian kepada anak yang tidak berpatok pada tuntutan kurikulum.

Pihaknya sedang menyusun skema sebagai panduan dan petunjuk teknis (juknis) yang akan digunakan pada tahun ajaran baru mendatang.