Wabah DBD Meningkat di Bengkulu Selatan

Wabah DBD Meningkat di Bengkulu Selatan
Penderita demam berdarah dengue. (Foto: Antara)
Usmin / JEM Selasa, 23 Juni 2020 | 11:37 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Wabah demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu, saat ini jumlah penderita penyakit akibat digigitan nyamuk Aedes aegypti ini sudah mencapai 88 kasus atau terjadi peningkatan dibanding tahun lalu hanya sebanyak 80 kasus.

"Sekarang kasus DBD di Bengkulu Selatan terjadi peningkatan dari tahun lalu sebanyak 88 kasus. Korban DBD sebanyak ini tersebar di sejumlah kecamatan di Bengkulu Selatan," kata Kepala Dinkes Bengkulu Selatan, Siswanto, di Bengkulu, Selasa (23/6/2020).

Dijelaskan, dalam dua bulan terakhir hampir setiap minggu ditemukan warga yang menjadi korban DBD positif antara 2 sampai 3 orang. Hal ini jika tidak segera di atasi cepat dikhawatirkan jumlah kasus DBD akan terus meningkat hingga mencapai ratusan orang.

"Kita masih bersyukur meski kasus DBD di Bengkulu Selatan meningkat dalam 6 bukan terakhir, tapi tidak ada korban yang sempat meninggal. Ini terjadi karena anggota keluarga cepat tanggap membawa korban berobat ke Puskesmas atau rumah sakit setempat," ujarnya.

Untuk menekan agar kasus DBD di Bengkulu Selatan tidak meningkat kedepan, pihak Dinkes telah melakukan fogging atau pengasapan di daerah yang sudah ditemukan korbannya. Hal ini dilakukan agar warga setempat tidak terjangkit DBD.

"Kita upayakan seluruh daerah yang sudah ada korban DBD akan lakukan fogging atau pengasapan untuk mengusir nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD di daerah terjangkit. Dengan demikian, korban DBD tidak bertambah lagi di daerah bersangkutan," ujarnya.

Siswanto mengakui, saat sudah ada 15 titik yang ditemukan kasus DBD masih mengantre untuk dilakukan fogging atau pengasapan guna mengusir atau memutus mata rantai penyebaran nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Antean ini terjadi karena petugas lapangan untuk melakukan fogging di Dinkes Bengkulu Selatan terbatas. "Saya berharap masyarakat yang sudah mengusulkan agar daerahnya difongging untuk bersabar menunggu giliran.

"Saya pastikan seluruh daerah yang usulan sudah masuk ke Dinkes Bengkulu Selatan untuk minta difogging untuk mengusir nyamuk penyebab DBD akan direalisasikan. Sekarang tinggal menunggu gilaran saja," ujarnya.

Siswanto menambahkan, meningkatnya kasus DBD di Bengkulu Selatan, karena kegiatan terfokus menangani kasus Covid-19. Padahal, penyakit DBD hampir sama dengan Covid-19 terlambat menanggani korban bisa vatal.

Untuk itu, Siswanto mengimbau masyarakat memperhatikan kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD. Masyarakat juga diminta untuk menerapkan pola hidup 3M, yakni menutup, menguras dan menutup tempat-tempat yang berpotensi menjadi genangan air.

"Kita berharap dengan gerakan 3M ini, masyarakat Bengkulu Selatan, akan terhindar dari terjangkit DBD. Sebab, jika lingkungan di sekitar rumah warga bersih maka tidak akan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti," ujarnya. 

 



Sumber: BeritaSatu.com