Kemdikbud Siapkan 600 Modul Belajar untuk Mahasiswa Belajar dari Rumah

Kemdikbud Siapkan 600 Modul Belajar untuk Mahasiswa Belajar dari Rumah
Ilustrasi siswa menggunakan platform pembelajaran jarak jauh (PJJ). (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Maria Fatima Bona / IDS Selasa, 23 Juni 2020 | 20:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikti Kemdikbud) memutuskan perguruan tinggi akan memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga akhir tahun ini. Agar mahasiswa tetap dapat mengakses materi belajar, Dikti sedang menyusun 600 modul PJJ daring.

Menurut Sesditjen Dikti, Paristiyanti Nurwardani, modul yang disusun ini sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020, yakni fokus terhadap agri dan agro bisnis, pariwisata, kesehatan, e-commerce, dan ekspor tenaga kerja berketerampilan yang akan dibentuk menjadi program studi (prodi).

“Jadi 600 modul ini komplet dari semester satu sampai semester delapan akan dikawal oleh Direktorat Dikti untuk dijadikan model kegiatan penggerak ekonomi Indonesia,” kata Paris pada webinar di Jakarta, Selasa (23/6/2020).

Paris menambahkan, 600 modul dari lima prodi tersebut akan diunggah di platform pembelajaran daring miliki Dikti, yakni Sistem Pembelajaran Daring Indonesia (Spada). Platform ini dapat diakses oleh dosen maupun mahasiswa dari berbagai kampus. Modul dapat digunakan oleh semua kampus setelah ada koordinasi antara perguruan tinggi dan asosiasi profesi.

Sementara itu, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Aris Junaidi mengatakan, mahasiswa yang boleh ke kampus hanyalah mahasiswa semester akhir untuk menyelesaikan segala urusan seperti ke perpustakaan untuk mencari referensi tugas akhir. Sementara mahasiswa lainnya harus tetap di rumah menjalankan PJJ.

Untuk itu, Aris mengatakan, Direktorat Dikti berupaya untuk mengadakan sejumlah pelatihan berseri tiga tema per hari untuk para dosen agar dapat menjalankan PJJ yang efektif dan produktif. Dengan begitu, mahasiswa mudah menangkap substansi materi mata kuliah.

“Meski kuliah dilakukan secara daring, kualitas tidak boleh berkurang dari kuliah luring (luar jaringan atau tatap muka, red),” ujarnya.

Menurut Aris, inovasi pembelajaran digital dan inovasi modul digital (IPD dan IMD) yang sedang digodok bertujuan untuk mendorong peningkatan aksesibilitas terhadap sumber-sumber belajar dan materi bermutu.

“IPD dan IMD ini akan menjadi salah satu komponen utama dalam pengimplementasian program Merdeka Belajar- Kampus Merdeka,” katanya.

IPD dan IMD mendorong dosen melalui skema Dosen Penggerak untuk menghasilkan beragam model pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan memfasilitasi penyelenggaraan Merdeka Belajar, meningkatan keterkaitan, dan mampu menjawab tantangan revolusi industri 4.0.

Selain itu, hasil dari IPD dan IMD ini akan ditampilkan dalam platform Spada berupa modul bahan ajar mandiri yang dapat diakses secara secara daring terbuka.

“Modul ini memuat materi mata kuliah secara utuh satu semester,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com