Selama Pandemi, Pendidikan Vokasi Utamakan Mata Kuliah Berbasis Teori

Selama Pandemi, Pendidikan Vokasi Utamakan Mata Kuliah Berbasis Teori
Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto (Foto: istimewa)
Maria Fatima Bona / IDS Rabu, 24 Juni 2020 | 19:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri, pembelajaran di perguruan tinggi harus dilakukan dengan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring dan luring (tatap muka). Meski begitu, kurikulum tidak akan diubah. Yang diubah hanyalah metode pembelajaran dan pengajarannya saja.

Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto mengatakan, meski kurikulum tidak berubah, tetapi cara penyampaiannya akan berubah. Ia mencontohkan bidang pariwisata yang saat ini terkena dampak Covid-19 luar biasa dan paling terakhir bangkit.

"Mata kuliah pengembangan destinasi pariwisata sebanyak 5-6 SKS yang dibuat dengan kondisi sebelum Covid-19 akan diubah. Sebab, fokus destinasi padat manusia akan bergeser dengan fokus pada pariwisata solo travel karena wisatawan akan mengutamakan kesehatan, keamanan, dan kebersihan," kata Wikan pada webinar "Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Covid-19", Rabu (24/6/2020) petang.

Wikan menuturkan, untuk pembelajaran bidang vokasi, pihaknya akan mengutamakan mata kuliah berbasis teori selama masa pandemi ini, sedangkan untuk yang berbasis praktik akan dilakukan terakhir.

Wikan juga mengatakan, ada beberapa jurusan yang dapat melakukan praktik secara daring, misalnya untuk program studi (prodi) program komputer. Prodi tersebut bisa menggunakan daring secara keseluruhan baik teori maupun praktik.

Namun untuk prodi yang mewajibkan mahasiswa harus praktik menggunakan laboratorium, studio, atau pun tempat lainnya, kampus harus memperhatikan protokol kesehatan. Perguruan tinggi harus berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 dan pemerintah daerah (pemda).

“Perguruan tinggi harus membuat aturan yang lebih detail. Misalnya untuk penggunaan mesin, maka mesin sebelum digunakan harus disemprot cairan disinfektan dan mahasiswa harus menggunakan masker. Atau pada prodi bidang kesehatan, harus ada rapid test sebelum pembelajaran praktik,” ujarnya.

Untuk membantu perguruan tinggi, Wikan menuturkan, saat ini ada 1.000 materi pembelajaran praktik untuk bidang vokasi yang akan diunggah di platform Spada Indonesia agar dapat dimanfaatkan bersama-sama.

Bagi mahasiswa yang harus magang di perusahan untuk sebagai persyaratan kelulusan, Wikan menuturkan, pihaknya tidak dalam posisi melarang kegiatan tersebut. Itu akan kembali diserahkan kepada perusahaan dan perguruan tinggi. Perusahaan harus bisa memastikan kampus bahwa situasi terkoordinasi dengan baik dengan Gugus Tugas dan berada di zona aman.

Sementara untuk mahasiswa yang bidang konsentrasinya sulit menjalankan magang seperti bidang pariwisata, maka dapat dikonversikan dalam tugas atau proyek mandiri.

“Kami sarankan untuk kreatif dan adaptasi terhadap teknologi lebih tinggi lagi,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com