Terapkan New Normal, KLHK Buka Kawasan Ekowisata Secara Bertahap dan Terbatas

Terapkan New Normal, KLHK Buka Kawasan Ekowisata Secara Bertahap dan Terbatas
Orang utan yang dilestarikan di salah satu taman nasional. (Foto: Istimewa)
Jeis Montesori / JEM Kamis, 25 Juni 2020 | 13:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membuka kawasan untuk ekowisata bagi masyarakat secara bertahap dan harus dengan protokoler kesehatan yang ketat. Hal ini dilakukan atas pertimbangan antara lain adanya kebutuhan untuk masyarakat dapat menghirup udara segar secara langsung, alam yang tenang dan nyaman. Caranya dengan melakukan kunjungan wisata ke Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TWA) dan Suaka Margasatwa (SM) dengan protokol Covid-19 yang sangat ketat.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, hutan konservasi TN, TWA dan SM seperti fungsi alam pada umumnya memiliki fungsi antara lain sebagai fungsi informasi, spiritual dan healing. Hutan menyimpan potensi sebagai healing yaitu tempat penyembuhan alami.

"Hutan bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental manusia (enhancing health and quality of life). Karenanya di tengah pandemi Covid-19 ini, maka salah satu pilihan untuk sehat adalah dengan melakukan kunjungan (wisata) ke TN, TWA, dan SM," kata Siti Nurbaya dalam keterangan persnya, Kamis (25/6/2020).

Siti Nurbaya mengatakan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, pada Senin 22 Juni 2020, telah mengumumkan dapat dimulainya aktivitas wisata secara bertahap dengan protokol covid yang ketat.

"Untuk itu, pada tahap pertama dapat dibuka kunjungan wisata alam terbatas, dan dengan menerapkan protokol Covid-19 yang sangat ketat”, kata Siti Nurbaya.

Penetapan pembukaan kawasan wisata atau reaktivasi TN/TWA/SM tersebut, tertuang dalam Keputusan Menteri LHK Nomor SK.261/MENLHK/KSDAE/KSA.0/6/2020 tanggal 23 Juni 2020 tentang Kebijakan Reaktivasi Secara Bertahap di Kawasan Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TWA), dan Suaka Margasatwa (SM) dalam kondisi Transisi Akhir Covid-19 (New Normal).

“Kebijakan aktivasi merupakan langkah untuk mendorong kegiatan pemulihan ekosistem dan ekowisata berkelanjutan (Sustainable Eco-Tourism)”, tambah Siti Nurbaya.

Ada 29 TN/TWA/SM yang sudah dapat dibuka secara terbatas, yang berada pada zona hijau dan kuning dalam kriteria Covid-19. Unit Pelaksana Teknis (UPT) KLHK dan pemerintahan daerah (pemda) telah melakukan berbagai persiapan di tingkat tapak guna memastikan tidak terjadinya penyebaran Covid-19 dengan kunjungan wisata tersebut.

Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Eksosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno, langkah-langkah yang dipersiapkan dan harus dilakukan telah diatur dalam Surat Edaran Dirjen KSDAE Nomor SE.9/KSDAE/PJLHK/KSA.3/6/2020 tanggal 23 Juni 2020 tentang Arahan Pelaksanaan Reaktivasi Bertahap di Kawasan Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan Suaka Margasatwa untuk Kunjungan Wisata Alam pada Masa New Normal Pandemi Covid-19.
Wiratno mengatakan, dilakukan koordinasi dan konsultasi intensif oleh pelaksana lapangan dengan Posko Tanggap Darurat Covid-19 di wilayah masing-masing untuk memastikan perkembangan status di daerah setempat.

“Langkah ini harus dan perlu dilakukan karena dibuka atau tidaknya TN/TWA/SM untuk kunjungan wisata adalah mendasarkan pada rekomendasi dari Satgas COVID-19 setempat dan rekomendasi/arahan Gubernur atau Walikota/Bupati,” tegas Wiratno.

Dijelaskan Wiratno, kepala TN/TWA/SM juga telah melakukan kerja sama dengan instansi kesehatan di tiap daerah untuk merencanakan penerapan protokol kesehatan di lokasi kunjungan wisata alam pada TN/TWA/SM. Kepala TN/TWA/SM. Semua kegiatan juga dilakukan bekerja sama dengan semua instansi terkait sampai tingkat desa, BPBD, PVMBG, Kepolisian, TNI, Basarnas, dan PMI dalam rencana pelatihan bencana dan tanggap darurat.

Sesuai dengan SK Menteri LHK Nomor SK.261/MENLHK/KSDAE/KSA.0/6/2020 tanggal 23 Juni 2020, maka Balai Besar/Balai TN dan KSDA yang telah melaporkan kesiapan melakukan pembukaan untuk kunjungan wisata alam secara terbatas adalah, TN Kepulauan 1000, TN Gunung Halimun Salak, TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Ciremai, TN Gunung Merbabu, TN Gunung Merapi, TN Bromo Tengger Semeru, TN Alas Purwo, TN Meru Betiri, TN Bali Barat, TN Kutai, TN Tambora, TN Gunung Rinjani, TN Manupeu Tandaru, TN Laiwangi Wanggameti, TN Kelimutu, TN Kepulauan Komodo, TWA Angke Kapuk, TWA Gunung Papandayan, TWA Cimanggu, TWA Kawah Gunung Tangkuban Perahu, TWA Guci, TWA Telogo Warno/Pengilon, TWA Grojogan Sewu, TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup, TWA Pulau Sangalaki, TWA Lejja, TWA Manipo, TWA Riung 17 Pulau.

"Pelaksanaan pembukaan disesuaikan dengan tata waktu yang telah disusun oleh masing-masing pengelola TN/TWA/SM dan diproyeksikan untuk tahap pertama ini dimulai dari pertengahan Juni sampai pertengahan Juli 2020. Kongkret pelaksanaan pembukaan harus secara teknis mengikuti perkembangan dinamika Covid-19," kata Wiratno.

Pengelola 29 TN/TWA/SM yang telah diperbolehkan menerima kunjungan wisata alam tersebut, lanjut Wiratno, juga telah menyusun protokol kunjungan sesuai protokol Covid-19.

Protokol tersebut di antaranya memuat pembatasan jumlah pengunjung yaitu hanya 10% sampai 30% dari daya dukung daya tampung atau dari rerata pengunjung tahun lalu dan secara bertahap dapat ditingkatkan sampai maksimal 50% sesuai hasil evaluasi.

"Tujuan evaluasi untuk keputusan melanjutkan membuka kunjungan, atau menutup kembali apabila terjadi kasus penularan," ujar Wiratno.

 



Sumber: BeritaSatu.com