Jokowi Minta Jatim Tidak Tergesa-Gesa Terapkan Normal Baru

Jokowi Minta Jatim Tidak Tergesa-Gesa Terapkan Normal Baru
Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja di Jatim, Kamis (25/6/2020). (Foto: istimewa)
Lennny Tristia Tambun / YS Kamis, 25 Juni 2020 | 14:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) tidak tergesa-gesa menerapkan tatanan kebiasaan normal baru (new normal). Mengingat, penambahan kasus positif di Provinsi Jawa Timur masih cukup tinggi.

Meskipun pandemi virus corona atau Covid-19 sudah terkendali di Jawa Timur, namun Jokowi meminta gubernur bersama kepala daerah di tingkat kabupatan dan kota tidak langsung menerapkan tatanan new normal. Paling tidak, dilakukan tahapan prakondisi terlebih dahulu.

“Apabila ini terkendali dan masuk ke new normal atau masuk ke normal, saya minta juga tahapan-tahapannya diprakondisikan terlebih dahulu,” ujar Jokowi.

Ia tidak ingin semua sektor usaha, pariwisata atau aktivitas masyarakat dibuka begitu saja tanpa adanya tahapan prakondisi yang baik.

“Ada prakondisi untuk menuju kesana. Jangan tahu-tahu langsung dibuka tanpa sebuah prakondisi yang baik,” terang Jokowi.

Setelah diketahui prakondisi sudah berjalan dengan baik, Jokowi meminta Pemprov Jawa Timur mencari waktu yang tepat untuk pelaksanaan tatanan new normal.

“Cari timing yang betul-betul pas betul, setelah prakondisi, timing-nya ditentukan kabupaten mana dulu, kota mana dulu,” ungkap Jokowi.

Kemudian, yang berkaitan dengan urusan prioritas sektor mana yang dapat dibuka terlebih dahulu, Kepala Negara meminta dilakukan juga bertahap. Tidak boleh dibuka semuanya secara langsung.

“Kita memang harus melalui tahapan-tahapan sehingga tadi saya sampaikan gas dan remnya ini harus pas betul,” jelas Jokowi.

Mantan gubernur DKI Jakarta ini meminta sektor yang paling rendah terhadap Covid-19 bisa didahulukan untuk dibuka. Lalu sektor dengan risiko sedang dapat dijadikan urutan kedua untuk dibuka kembali. Sedangkan sektor dengan risiko tinggi Covid-19 menjadi paling akhir untuk dibuka.

“Sektor yang memiliki risiko rendah tentu saja didahulukan, sektor yang memiliki risiko sedang tentu saja dinomorduakan dan sektor yang memiliki sektor tinggi dinomortigakan atau dinomorempatkan atau dinomorlimakan,” tegas Jokowi.