Kepala BKN: Banyak Pekerjaan Hilang Akibat Pandemi Covid-19

Kepala BKN: Banyak Pekerjaan Hilang Akibat Pandemi Covid-19
Bima Haria Wibisana. (Foto: Antara)
Carlos KY Paath / YS Kamis, 25 Juni 2020 | 14:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana mengungkapkan, pandemi Covid-19 berdampak pada pekerjaan hilang. Aparatur Sipil Negara (ASN) terkena imbasnya.

"Pandemi Covid-19 ini banyak sekali pekerjaan yang hilang. Saat WFH (bekerja dari rumah), sekretaris dan sekretariat saya, praktis tidak ada kerja," kata Bima dalam seminar daring bertajuk "Jalan Menuju ASN Unggul Pasca Pandemi, Kamis (25/6/2020).

Menurut Bima, ke depan diperlukan evaluasi kembali jabatan yang dibutuhkan dan tidak. Tempat kerja pun, lanjut Bima, banyak perubahan. Jika dahulu aktivitas lebih banyak di kantor, Bima menyatakan, tidak tertutup kemungkinan nantinya bekerja bisa di mana saja.

Bima menuturkan, penyederhanaan birokrasi akan dilakukan dengan menghilangkan eselon III dan IV. Meski begitu, Bima mengingatkan, penyederhanaan memerlukan identifikasi dari pola kerja dan proses bisnis.

"Karena dengan berkurangnya hirarki, interaksi pola kerja akan menjadi seperti network. Akan membuat kompeleksitas, jika kita tidak siap. Organisasi memang lebih flat, tapi cara kerja lebih rumit. Kita harus siap bagaimana siapkan interaksi kerja dan proses bisnis yang baru," kata Bima.

Bima menambahkan, teknologi yang tinggi juga akan membuat ASN melakukan pekerjaan lebih luas. Dibutuhkan suatu kolaborasi menghadapi tatanan normal baru.

"Bagaimana membangun produktivitas new normal (normal baru)? Dari sisi ASN dan instansi, kita pelru membangun budaya sehat. Gunakan masker, jaga jarak, karena masih banyak orang-orang tidak peduli dengan protokol kesehatan ini," tukas Bima.

Bima pun menyebutkan, "Lalu mengembangkan teknologi digital di instansi. Apakah semua sudah siap? Kita juga perlu membangun kerja bersama, karena sulit proses new normal ini kita hadapi secara sendiri. Masing-masing ASN perlu inisiatif untuk mengembangkan kompetensi." 



Sumber: Suara Pembaruan